Kok Wanita Tidak Wajib Shalat Jumat?

www.an-naba.comOleh: Ust. Ahmad Sarwat, Lc.

http://www.warnaislam.com - Seorang wanita pada dasarnya tidak diwajibkan untuk menghadiri shalat Jumat.Yang wajib bagi mereka untuk dikerjakan adalah shalat Dzhuhur.

Pernyataan seperti ini langsung disebutkan oleh Rasulullah SAW pada salah satu hadits beliau:

Dari Thariq bin Syihab ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas 4 orang. [1] Budak, [2] Wanita, [3] Anak kecil dan [4] Orang sakit.” (HR Abu Daud)

Al-Imam An-Nawawi berkata bahwa isnad hadits ini shahih sesuai dengan syarat dari Bukhari. Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang menshahihkan hadits itu bukan hanya satu orang.

Namun apabila seorang wanita tetap ikut melakukan shalat Jumat, maka shalatnya itu telah menggugurkan kewajiban shalat Jumat atasnya. Sehingga dia tidak perlu lagi mengulanginya dengan shalat Jumat.

Adapun adanya dalil yang Al-Quran di dalam surat Al-Jumu’ah tentang khitab kepada orang-orang beriman yang mencakup laki-laki dan perempuan, memang ayat itu tidak salah. Pada dasarnya memang kalau Allah SWT memanggil dengan panggilan “Wahai orang-orang yang beriman”, memang tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan.

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(QS. Al-Jumu’ah: 9)

Namun karena ada hadits di atas yang menjadi muqarin (pembanding) dari keumuman ayat Al-Quran itu, maka kita harus menggabungkannya. Sehingga menjadi pengertian bahwa shalat Jumat itu tidak wajib bagi wanita, hanya wajib bagi laki-laki. Namun bila seorang wanita ikut shalat Jumat, maka tetap sah dan cukup baginya shalat Jumat itu tanpa perlu lagi melakukan shalat Dzhuhur.

Dalam metologi fiqih, bila ada dua dalil yang sama-sama shahih, harus dicarikan titik temu antara keduanya. Bukan dengan sistem gugur, di mana salah satunya harus kalah.

Ayat Al-Quran tidak boleh ditabrakkan begitu saja dengan hadits nabawi. Tidak dibenarkan menggugurkan sebuah hadits nabawi yang shaih dan menganggapnya tidak berlaku, hanya karena alasan ada ayat Quran yang tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan ketika memerintahkan shalat Jumat.

About these ads

15 thoughts on “Kok Wanita Tidak Wajib Shalat Jumat?”

  1. Namun ada yang menyebut kalau perempuan sholat jumat, tidak menggugurkan kewajiban solat dzuhurnya.. Bagaimana pendapat yang menyatakan seperti itu…? Apakah ada dalilnya?

  2. Sejauh yang saya ketahui, shalat Jumat itu adalah shalat yang menggantikan shalat zhuhur. Artinya bila seseorang telah melakukan shalat jumat, maka gugurlah kewajiban shalat zhuhurnya.

    Bahkan banyak dijelaskan bahwa khutbah jumat yang dilakukan sebelum shalat jumat itu merupakan ‘pengganti’ dari 2 rakaat shalat zhuhur. Oleh karena itulah maka rakaat shalat jumat itu hanya 2 saja, tidak 4 rakaat seperti zhuhur. Karena telah digantikan dengan khutbah jumatnya.

    Namun bila seseorang atas sebab tertentu tidak melaksanakan shalat jumat, maka wajiblah baginya untuk melakukan shalat zhuhur seperti biasa.

    Tapi memang ada beberapa kalangan yang memahami ada ‘shalat zhuhur’ setelah shalat jum’at yg berlaku bagi seluruh peserta shalat jum’at. Paling tidak ini yang pernah saya lihat sendiri ketika mengikuti shalat jum’at di daerah Marongge Kab. Sumedang. Saya sendiri belum menemukan apakah ada dalilnya? Mungkin ada sahabat-sahabat yg lain yg sdh menemukannya?

    Wallahu a’lam…

  3. kenapa Allah dan rasul hanya mewajibkan shalat jumat kepada laki-laki?
    apa asbabul wurud dari hadis di atas?
    mohon penjelasan lebih lanjut, terima kasih

  4. Sejauh yang saya ketahui, tidak ada penjelasan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah kenapa shalat jum’at itu hanya wajib bagi laki-laki.

    Saya juga tidak tahu asbabul wurud hadits tersebut.

    Namun Allah Maha Mengetahui apa hikmah di balik perintah ini, sedangkan kita hanya bisa mengira-ngira.

    Menurut saya, kita memang harus terpaksa puas menerima beberapa hal yang kaitannya dengan perbuatan Allah ini. Kalo kita merenung tentang perbuatan Allah sungguh akan banyak yang bisa kita pertanyakan, bukan hanya tentang kenapa shalat jum’at hanya wajib bagi laki-laki….tapi akan berkembang ke pertanyaan lain. Misalnya: Kenapa shalat jum’at? Kenapa tidak shalat senin, selasa, rabu, dlsb? Kenapa shalat shubuh hanya 2 rakaat dan maghrib hanya 3 rakaat? Dst.

    Wallahu a’lam…

  5. Di Mekkah & Madinah Sholat Jum’at dihadiri / diikuti juga oleh Muslimah dan di beberapa Negara Timur tengah lainnya seperti Qatar, Kuwait dst.
    Di Sumbar dan daerah lain di Indonesia, Sholat Jum’at diikuti oleh muslimah juga, Insya Allah ada baiknya untuk Syiar Islam.

  6. Salam Ikhlas, Ke Utamaan Sholat JUm’at

    Hari Jumat adalah hari Raya, Islam diagungkan oleh Allah SWT karena hari Jumat dan dikhususkan-Nya kaum Muslimin dengan hari Jumat ini.
    Allah SWT berfirman:

    ” …Apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli…” (QS. Al-Jumu’ah 62: 9)
    Demikian hal-nya pada hari Jumat tidak diperkenankan mengurusi urusan duniawi (yang berlebihan) dan tiap-tiap perbuatan yang menghalangi dari berangkat menunaikan shalat Jumat.
    Nabi Muhammad SAW bersabda, “Allah SWT mewajibkan atas kalian shalat Jumat pada hariku ini dan pada tempatku ini.” (HR Ibnu Majah)
    Beliau SAW juga bersabda,” Barangsiapa yang meninggalkan (shalat) Jumat tiga kali tanpa ‘udzur niscaya dicapkan oleh Allah pada qalbunya.” (HR. Ahmad)
    Dalam riwayat yang lain, “…Sungguh, ia (muslim yang meninggalkan shalat Jumat tanpa ‘udzur) telah melemparkan Islam ke belakangnya.” (HR. Al-Baihaqi)
    Suatu saat seorang laki-laki datang kepada Ibn ‘Abbas ra. menanyakan tentang orang mati yang tidak pernah menunaikan shalat Jumat dan shalat berjamaah. Jawab beliau,” Di dalam neraka !” Maka orang tersebut bolak-balik datang kepada Ibn ‘Abbas sebulan lamanya menanyakan persoalan yang sama, tetapi Ibn ‘Abbas tetap menjawab, “Di dalam neraka !”
    Pada sebuah hadist (yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori) dikemukakan bahwa Ahli Kitab pernah dikaruniai hari Jumat. Tapi kemudian mereka berselisih sehingga berpaling dari hari Jumat itu. Lalu kita pun diberi petunjuk oleh Allah SWT untuk menerima Allah beri petunjuk untuk menerima hari Jumat. Hari itu dikemudiankan oleh Allah dalam memberikan-Nya kepada umat Islam ini dan dijadikan sebagai hari Raya bagi umat Islam. Karena itu umat Islam menjadi umat yang lebih diutamakan dan didahulukan, sedangkan Ahli Kitab menjadi pengikut mereka.
    Pada hadist yang diriwayatkan Anas ra., Nabi SAW bersabda, ” Datang kepadaku Jibril as. dan pada tangannya terdapat sebuah cermin putih, seraya berkata, ‘Inilah Jumat, yang diwajibkan atasmu oleh Tuhanmu untuk menjadikannya hari raya bagimu dan umat sesudahmu.’ Lalu aku bertanya,”Terdapat apakah di dalamnya bagi kami?”
    Jibrilpun menjawab,“Kalian mempunyai waktu yang diutamakan. Barangsiapa berdoa padanya kebajikan, niscaya Allahmenganugrahi kebajikan padanya, atau jika dia tidak memperoleh kebahagiaan, niscaya kebahagiaan itu diberikanbahkan yang lebih besar. Atau jika ia berlindung dari kejahatan, niscaya Allah akan melindungi dengan perlindungan yang lebih besar daripada kejahatan tersebut.
    Hari Jumat adalah sayyidul ayyam(penghulu segala hari), jika Kita bermohon pada Allah di hari itu, niscaya di akhirat akan menjadi hari kelebihan.”

    Lalu aku bertanya, “Mengapa demikian?”
    Jibril as. menjawab,“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjadikan dalam surga sebuah lembah yang luas dari kesturi putih. Maka apabila datang hari Jumat, niscaya turunlah Dia dari surga yang tinggi di atas Kursy-Nya. Lalu jelaslah Dia kepada bagi mereka, sehingga para penghuni surga memandang kepada Wajah-Nya. (HR Anas)
    Pada hadist lainnya Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik hari yang terbit padanya matahari ialah hari Jumat. Pada hari Jumat, dijadikan Adam as. Pada hari jumat pula Adam as. dimasukkan ke dalam surga, diturnkan ke bumi, diterima taubatnya, adam as. meninggal dan pada hari Jumat itu berdirinya qiamat. Adalah hari Jumat itu pada sisi Allah SWt merupakan hari keutamaan. Begitulah hari Jumat dinamakan oleh ara malaikat di langit, yaitu: hari memandang ke Allah Ta’ala dalam di surga.
    Pada hadist yang lain, disebutkan bahwa pada tiap-tiap hari Jumat, Allah ‘Azza wa Jalla mempunyai enam ratus ribu orang yang dimerdekakan dari api neraka.
    Dalam hadist lainnya yang diriwayatkan oleh Anas ra. bahwa Nabi SAW bersabda, “Apabila selamatlah (amal seseorang) di hari Jumat, maka seamatlah (amal) di hari-hari lainnya.”
    Bersabda Rasulullah SAW, ” Bahwa neraka jahim itu menggelegak pada setiap hari sebelum tergelincir matahari pada tengah hari di puncak langit. Maka janganlah kamu mengerjakan shaat pada saat itu, kecuali hari Jumat. Maka hari Jumat itu, adalah shalat seluruhnya dan neraka Jahanam tiada menggelegak padanya.”
    Berkata Ka’ab ra.,” Bahwa Alah ‘Azza wa Jalla melebihkan Mekah dari segala negri, Ramadhan dari segala bulan, Jumat dari segala hari dan Lailatul Qadar dari segala malam. Dan dikatakan bahwa burung dan hewan yang berjumpa satu sama lain pada hari Jumat mengucapkan:’Selamat…selamat …hari yang baik.’”
    Rasulullah SAW juga bersabda,” Barangsiapa yang meninggal pada hari Jumat atau malamnya, niscaya dituliskan oleh Allah SWT baginya pahala syahid dan terpelihara dari fitnah kubur.”
    Nah…, sahabats yang budiman, demikianlah Allah dan Rasul-Nya mengutamakan hari Jumat sebagai hari yang diutamakan, bagaimana dengan kita?

    SALAM IKHLAS

  7. Assalam…

    ..Pada hari Jumat, dijadikan Adam as. Pada hari jumat pula Adam as. dimasukkan ke dalam surga, diturnkan ke bumi, diterima taubatnya, adam as. meninggal dan pada hari Jumat itu berdirinya qiamat..
    adakah bukti yg konkret ttg hadits Rasulullah diatas??klau ada dmn y??

    thx ats jwbnnya

  8. Menurut pemikiran saya, ada satu rahasia tidak diwajibkannya shakat Jum’at bagi wanita. Secara umum, wanita punya udzur syar’i untuk tidak melakukan shalat yaitu haidl dan nifas. Tapi kalau seorang wanita punya (sedang menyusui) anak kecil, kan tidak ada alasan meninggalkan kewajiban karena sedang menyusui.
    Bayangkan andaikata kewajiban Jum’at itu tidak di-TAKHSIS oleh Nabi buat wanita, maka ibu-ibu yang sedang menyusui anakpun ikut berbondong-bondong menghadiri shalat Jum’at dan Khutbahnya, betapa akan ramainya dengan tangisan bayi saat khutbah sedang berlangsung. Mungkin ini hanya sekedar sumbangsih otak-atik pikiran tanpa dalil, karena tampaknya sudah banyak dalil yang disampaikan.

  9. SHOLAT JUM,AT WANITA Oleh: Drs. H. Ismail Thaib

    Uraian ini merupakan perluasan bahasan materi tentang Shalat Jum’at yang
    pernah penulis sampaikan dalam diskusi dengan anggota Majlis Tarjih dan
    Tajdid se-Karesidenan Kedu, baik di Temanggung ataupun di Muntilan.
    Pernah juga penulis sampaikan dalam “Seminar Fiqh Perempuan” yang
    diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) di
    Jakarta, khususnya sekitar tema “Shalat Jama’ah Jum’at Bagi Perempuan.”

    Faktor lain yang mendorong penulis untuk membahas masalah Jum’at secara
    lebih rinci dan mendalam adalah adanya kasus Shalat Jum’at yang
    dipelopori oleh tokoh gender, Aminah Al-Wadud di Amerika Serikat, yang
    mendapat reaksi keras dari berbagai pakar hukum Islam, khususnya oleh
    mereka yang ahli di bidang Hadits dan Fiqh.

    Suatu realitas yang harus diakui bahwa umat Islam di berbagai negeri
    Islam telah begitu merasuk dengan pendapat Jumhur Ulama, menafikan
    pendapat selain Jumhur, terutama pendapat Ulama-ulama Ahli Hadits yang
    kritis dan kepakarannya diakui dunia Islam. Seperti As-Sayyid Rasyid
    Ridha, Al-Ustadz Sayyid Muhammad Ahmad Syakir, Al-’Allamah Ibnu Hazm,
    Imam Asy-Syaukani, dan di kalangan sahabat yaitu Abdullah bin Abbar ra.

    Di Indonesia, ada dua orang Ahli Hadits yang mencoba meng-counter
    pendapat Jumhur Ulama dan cenderung kepada pendapat selain (ghairu)
    Jumhur, yaitu guru “Al-Faqir” Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi
    Ash-Shiddieqy dan Al-Ustadz Muhammad Ma’shum. Tetapi, suara kedua Ahli
    Hadits ini tenggelam, kurang mendapat sambutan dan berlalu begitu saja.

    Dalam uraian ini, penulis mencoba mendudukkan masalah Shalat Jum’at,
    khususnya Shalat Jum’at bagi perempuan, secara proporsional dan
    seobyektif mungkin, bertopang kepada dalil-dalil yang kuat (rajih).

    Sebenarnya, ada lima belas Hadits yang berbicara sekitar Shalat Jum’at,
    jama’ahnya, dan orang-orang yang wajib mengerjakannya. Tetapi, setelah
    penulis seleksi, ada tiga atau empat Hadits yang perlu pembahasan yang
    mendalam di samping ayat 9 surat Al-Jum’at (62).

    Sebelum kita membuat sorotan terhadap pendapat yang sudah dominan di
    kalangan kaum Muslimin yang mengikatkan diri dengan pendapat mayoritas
    para Ulama (Jumhur), maka perlu kita ketahui, menurut Jumhur Ulama,
    Shalat Jum’at tidak wajib bagi perempuan, orang sakit, dan Musafir.
    Tetapi, Shalat Jum’at hanya dibebankan kepada orang laki-laki yang
    merdeka, telah sampai umur (baligh), dan menetap di kampung (muqim).

    Dasar pijakan mereka ayat 9 surat Al-Jum’at (62) dan Hadits dari Thariq
    bin Syihab, Abu Musa Al-Asyari, dan beberapa Hadits Dlaif lainnya. Dalam
    Hadits Thariq bin Syihab yang diriwayatkan Abu Daud dan lain-lainnya,
    disebutkan, Nabi bersabda: “Jum’at itu sungguh-sungguh wajib bagi setiap
    orang Islam dengan berjama’ah, kecuali bagi empat orang, yakni; hamba
    sahaya, orang perempuan, anak kecil, dan orang sakit” (HR. Abu Daud).

    Terhadap Hadits Thariq bin Shihab, Imam Al-Bukhari menganggap Hadits ini
    “Mu’allaq” (bergantung). Menurut Al-Manawi, bahwa sebagian Ulama Ahli
    Tahqiq menolak Hadits itu. Sebab, di dalam sanad-nya terdapat Abbas bin
    Abd. Al-Adhim di mana Imam Al-Bukhari tidak mengeluarkan Hadits
    daripadanya, kecuali dengan jalan Mu’allaq.

    Dalam Sanad Hadits tersebut juga terdapat nama Huraim bin Sufyan
    Al-­Bujali yang menurut penilaian Al-Bazzar, sekalipun “baik,” tetapi
    “tidak kuat.” Yang dimaksud dengan istilah “baik,” Hadits ini ditulis
    sebagai perbandingan (i’tibar). Hal tersebut sebagaimana disebutkan
    As-Suyuti dalam kitab Tadrib Ar-Rawi. Sedangkan tidak kuat riwayatnya,
    itu berarti Hadits itu cacat, sebagaimana lazimnya pengertian dari
    Ahli-ahli Hadits.

    Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Imam Al-Khaththabi mengatakan
    isnad Hadits ini tidak kuat (Ma’alimun Sunan I: 123). Dikatakan oleh
    Ibnu Rusyd (pengarang kitab Bidayah Al-Mujtahid), sebagian Ulama Hadits
    menganggap Hadits tersebut “tidak Shahih.” Yang menjadi sorotan pokok
    dalam Hadits ini ialah pribadi Thariq bin Syihab itu sendiri yang tetap
    diperselisihkan sebagai Sahabat Nabi.

    Abu Hatim mengatakan, dia tidak bergaul dengan Nabi dan Hadits-hadits
    yang diriwayatkan itu tergolong Mursal (lepas/tidak dihiraukan);
    demikian pula pendapat Imam Baihaqy. Sedang Abu Daud mengatakan bahwa
    Thariq mengetahui Nabi, tetapi tidak mendengar sama sekali Hadis-Hadis
    dari Nabi saw.

    Hadits Mursal Sahabiy oleh Jumhur Ulama dijadikan hujjah, tetapi menurut
    sebagian ulama yang lain seperti Imam Asy-Syafi’i, Imam Daud bin Ali,
    Abu Ishak Al-Farayimi, Abu Bakar Al-Baqilani, As-Sayyid Rasyid Ridha,
    Hasbi Ash-Shiddieqy, Al-Ustadz Muhammad Ma’shum, juga Imam Ibnu Hazm,
    bahwa Hadits Mursal Shahabiy itu tidak dapat untuk hujjah (argumentasi).

    Dikatakan oleh Al-Hafidz Al-Asqalani di dalam muqaddimah kitab Lisan
    Al-Mizan jilid I: 4: “Wallahi, teranglah bagi orang yang berargumentasi
    dengan Hadits Mursal itu timbul pada permulaan Islam (sesudah wafat
    Nabi). Hal itu merupakan kebiasaan dan diprakarsai oleh kaum Khawarij,
    ketika para Sahabat masih banyak jumlahnya (yang masih hidup) dan begitu
    juga di masa tabi’in dan seterusnya. Orang-orang Khawarij jika
    menganggap sesuatu perkara itu baik, lalu dijadikannya semisal Hadits
    dan disebarkannya, yang selanjutnya didengar oleh orang ahli yang
    senang kepada Sunnah, lalu mereka mengucapkannya tanpa menyebutkan
    rawi-nya, dengan alasan berbaik sangka (husnudzdzan) terhadap yang
    diriwayatkannya, yang akhirnya dijadikan argumentasi dengan Hadits tadi
    sudah putus rawi-nya itu; seperti yang aku sebutkan tadi, La haula wa/a
    quwwata illa billah,” demikian tulis Al-Asqalani.

    Berdasarkan keterangan tersebut, jelaslah bahwa riwayat Thariq bin
    Shihab tidak dapat dijadikan argumentasi untuk memutuskan perbedaan
    pendapat. Baca pula keterangan Ibnu Hazm tentang tidak boleh dijadikan
    argumentasi (hujjah) dengan Hadits Mursal Shahabiy (Al-Ihkam fi Ushul
    Al-Ahkam II: 2).

    Mengenai Hadits Abu Musa Al-Asy’ari (isinya sama dengan Hadits Thariq
    bin Syihab) yang terdapat dalam kitab Al-Mustadrak karangan Al-Hakim,
    dapat diberi penjelasan singkat sebagai berikut: Jamaluddin Al-Qasimiy
    menerangkan di dalam bukunya, Qawaid At-Tahdits, telah berkata Imam
    Zaila’i pada waktu mengeluarkan Hadits Hidayah: berkata Rahyah dalam
    kitab Al-Ilmu Al-Masyhur, “Wajib bagi ahli bersikap hati-hati terhadap
    perkataan Al-Hakim, sebab banyak kesalahannya serta gugur Haditsnya dan
    telah banyak orang yang lupa sesudahnya dan lalu menjadi taklid
    kepadanya” (Qawaid At-Tahdis, hal. 235).

    Dikatakan oleh Al-’Aini, bahwa Imam Al-Hakim itu telah dikenal
    menganggap mudah Hadits-hadits dan mensahihkan Hadis-Hadis dlaif, bahkan
    juga mensahihkan Hadis Maudlu’ (palsu).

    Imam Suyuti di dalam ulasan terhadap Ibnu Jauzi, bahwa Ibnu Hajar pernah
    berkata: “Berhubung Imam Jauzi dan Imam Hakim menganggap mudah masalah
    Hadits, hal itu justru mengurangi kemanfaatan kitab keduanya. Maka dari
    itu, wajib bagi orang yang bener-benar meneliti Hadits, memperhatikan
    kutipan-kutipan dari kitab kedua orang tersebut, tidak hanya bertaklid
    kepada kedua Imam itu.”

    Kemudian perlu diperhatikan mengenai guru Al-Hakim, yaitu Abu Bakar bin
    Ishak Al-Faqih, riwayat hidupnya tidak jelas artinya tidak dikenal dalam
    kitab-­kitab yang menyelidiki perkara para rawi Hadits, apakah dia
    dianggap tercela ataukah tidak (adil). Demikian pula guru Al-Hakim yang
    bernama ‘Ubaid bin Muhammad, itupun belum terang riwayatnya, dan beliau
    ini tanpa rawi lainnya tergolong syadz (menyendiri) dengan tambahan
    Thariq bin Syihab dari Abu Musa Al-Asy’ari. Padahal, tambahan rawi yang
    belum dikenal riwayat hidupnya tidak dapat diterima Haditsnya.

    Para Imam Ahli Hadits selain Al-Hakim, misalnya Al-Bazzar, Imam ‘Adi,
    Abu Daud, Daruquthni, dan Al-Baihaqi meriwayatkan Hadits tersebut dari
    jalan Huraim bin Sufyan Al-Bujali dari Ibrahim bin Muhammad
    Al-Muntasyir, dari Qais bin Muslim dan Thariq bin Syihab saja.

    Maka dari itu, Al-Baihaqi meriwayatkan Hadits tersebut sebagai berikut:
    ‘Ubaid bin Muhammad Al-’Ajali dari Abbas bin Abd. Al-’Adhim menyebutkan
    Abu Musa Al-Asy’ari, itu termasuk Hadits yang tidak terpelihara
    (mahfudz) dan selain Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abbas bin Abd.
    Al-’Adhim tanpa menyebutkan Abu Musa Al-Asy’ari.

    Al-Hafidz Asqalani berkomanar: Jika Imam Al-Hakim telah mengeluarkan
    Hadits melalui jalan yang mengatakan dari Thariq dari Abu Musa
    Al-Asy’ari, Ulama-ulama menyalahkan Al-Hakim pada jalan tadi.
    Wallahu’alam (Al-Ishabah II: 220).

    Dengan uraian singkat terhadap kedua Hadits itu, yang dipegangi Jumhur,
    nyata benar kelemahannya. Para Muhaqqiqin (para peneliti) mengatakan,
    sesungguhnya Jum’at itu wajib atas para Mu’min, laki-laki, perempuan,
    merdeka, budak sahaya, baik dalam keadaan sehat atau sakit, bermukim
    atau dalam bepergian (safar), penduduk kota ataupun penduduk padang
    gurun, selama mereka masih berakal sehat. Mereka berargumentasi dengan
    firman Allah ayat 9 surat Al­-Jum’at (62). Titah (khitab) syara’ yang
    dikandung ayat itu mencakup laki-laki dan perempuan. Begitu yang
    dipahami oleh Ulama-ulama Ushul yang terkenal.

    Shalat Jum’at disyariatkan dua raka’at sebagaimana disebut dalam Hadits
    Umar, yaitu: “Shalat Safar dua raka’at, Shalat Hari Raya Kurban dua
    raka’at, Shalat Hari Raya Fitri dua raka’at, Shalat Jum’at dua raka’at
    sempurna bukan dipendekkan berdasarkan ketetapan Allah dengan
    perantaraan lisan (lidah) Nabi Muhammad saw.”

    Ibnu Al-Qayyim berpendapat kalau Hadits itu benar dari Umar ra. adalah
    Shahih. Menurut Ibnu Katsir, Hadits Umar itu memakai isnad menurut Imam
    Muslim (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an II: 560). Imam Ahmad menetapkan
    Hadits Umar itu Muttasil. Imam Nawawi dalam akhir uraiannya menerangkan
    bahwa sanad-nya Shahih.

    Imam Asy-Syaukani mengatakan bahwa Hadits Umar itu, rawi-rawinya
    termasuk rawi-rawi Hadits shahih dan Imam Ahmad serta Ibnu Main
    menguatkan. Al-Ajali mengatakan bahwa rawi yang bernama Yazid bin Ziad
    itu dapat dipercaya. Abu Zar’ah mengatakan bahwa rawi tersebut (Yazid
    bin Ziad) termasuk rawi yang berderajat tua. Begitu pula kata Abu Hatim
    bahwa Hadits itu baik. Demikian pula Ibnu Hibban menyebutkan Yazid bin
    Ziad adalah dapat dipercaya (Al-Majmu’ IV: 342; Zad Al-Ma’ad I: 128;
    Nail Al-Authar III: 250).

    Menurut Hadits Umar itu, semua shalat yang disebut dalam Hadits tersebut
    dikerjakan dua raka’at, baik sendiri atau berjama’ah. Apabila seseorang
    karena ada udzur syar’i, seperti ketakutan, sakit, hujan, dan lainnya,
    maka hendaklah dikerjakan Shalat Jum’at itu di rumahnya. Baik secara
    berjama’ah dengan keluarganya atau sendirian tetap harus mengerjakan
    Jum’at, bukan Shalat Dzuhur.

    Sedangkan kehadiran para perempuan ke Masjid adalah suatu rukhshah,
    bukan ‘azimah, karenanya apabila orang perempuan menghadiri Jama’ah
    Jum’at bersama kaum laki-laki di Masjid, maka itu suatu perbuatan yang
    baik. Jika tidak ke Masjid, mereka mengerjakan di rumahnya dan sangat
    baik bila mereka berjama’ah, mengingat Hadits yang menerangkan
    bahwasanya Shalat Jama’ah melebihi shalat sendirian dengan 27 derajat.

    As-Sayyid Ahmad Muhammad Syakir dalam mengomentari perkataan Ibnu Hazm
    berkata: “Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah pendapat yang
    menetapkan bahwa Shalat Jum’at hanyalah dua raka’at, baik berjama’ah
    ataupun sendirian, mengingat kemutlakan Hadits Umar. Menamakan hari
    Jum’at dengan hari Jum’at lantaran manusia berkumpul tidaklah
    menghalangi memerlukan dua raka’at atau tidak ke Masjid. Dan, bukanlah
    dinamakan Shalat Jum’at lantaran harus dikerjakan berjama’ah. Dinamakan
    Shalat Jum’at karena ia shalat hari Jum’at sebagaimana yang dititahkan
    dalam ayat 9 surat Al­-Jum’at (62), Pengertian ini adalah suatu
    pengertian yang sangat mendalam dan memerlukan perenungan dan pemahaman
    (Al-Muhalla V: 46).

    Mungkin timbul pertanyaan, apakah perempuan boleh melakukan adzan,
    iqamah serta bertindak sebagai khatibah dalam Shalat Jum’at berjama’ah
    sesama perempuan? Penulis menemukan sejumlah dalil yang Shahih bahwa
    orang perempuan boleh melakukan adzan dan iqamah dalam Shalat Berjama’ah
    bersamanya. Dari Thaus ra. diriwayatkan oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla
    juz III hal. 129. Hadits yang kita maksudkan itu, sekalipun “mauquf’,
    tapi dapat menjadi pegangan, karena makna itu didukung dan diperkuat
    oleh Hadits yang marfu’ yang umum mengenai adzan. Bahkan dibantu oleh
    Hadits yang menyatakan Ummu Waraqah beradzan dan beriqamah dan
    mengadakan Shalat Berjama’ah perempuan di rumahnya. Adapun Hadits yang
    diriwayatkan oleh An-Najjar yang menyatakan Nabi meniadakan adzan dan
    iqamah bagi perempuan adalah lemah. Imam Asy-Syafi’i membolehkan seorang
    perempuan beradzan dan beriqamah. Hal ini diikuti pula oleh sebagian
    Ulama dalam Mazhab Syafi’i seperti diterangkan oleh An-Nawawi. Imam
    Ahmad bin Hanbal tidak berkeberatan bila orang perempuan melakukan adzan
    dan iqamah. Bahkan menurut Ibnu Hazm dipandang bagus bila para
    perernpuan mengumandangkan adzan dan iqamah.

    Dengan uraian singkat ini, tidaklah berlebihan bila penulis
    berkesimpulan, bahwa tidak ada dalil yang mengeluarkan kaum perempuan
    atau mengecualikan mereka dari beradzan dan beriqamah, karena perintah
    itu mencakup mereka juga, bukanlah perempuan itu mitra orang laki-laki
    (Syaqaiq Ar-Rijal)?

  10. with people like one to grant visibly all of that numerous populaces would am inflicted with sold for electronic ebook to create selected jumps in favor of their unique terminate, mainly right away fbdbcddbaakd

  11. Tapi bukankah perintah dalam Al Qur’an dan Hadist lebih tinggi Al Qur’an? Al Quran sendiri langsung datangnya dari Allah sedangkan hadist itu hanya perkataan/perbuatan Nabi? Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s