Diposkan pada Akhlak

MENJELANG PERNIKAHAN

Hakikat Nikah

            Keinginan menikah atau memiliki pasangan hidup adalah fitrah manusia (3: 14). Setiap orang—laki-laki maupun perempuan—pasti merindukannya. Melalui pernikahan inilah manusia dapat merasakan ketentraman dan kasih sayang (30: 21); pandangan dapat ditundukkan, dan kehormatan pun akan lebih terjaga.

Nabi SAW bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa telah mampu diantara kalian hendaklah melaksanakan pernikahan, karena ia dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan (kehormatan)…” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, dan Nasa’i)

            Islam mengecam orang yang telah mampu menikah tetapi enggan menikah. Ini karena ada unsur kezaliman di dalamnya; zalim kepada diri sendiri, membiarkannya terombang-ambing dalam godaan syaithan.

Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa telah mempunyai kemampuan untuk menikah kemudian dia tidak menikah maka dia bukan termasuk umatku” (HR. Thabrani dan Baihaqi).

            Islam meletakkan pernikahan sebagai bagian yang utuh dari keberagamaan seseorang. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang melaksanakan pernikahan, berarti telah menyempurnakan separuh agamanya, maka hendaklah ia menjaga separuh yang lain dengan bertaqwa kepada Allah” (HR. Baihaqi dari Anas bin Malik).

            Demikian juga sabda Nabi SAW, “Menikah adalah sunnahku, maka barangsiapa tidak suka dengan sunnahku, ia bukan termasuk golonganku. Menikahlah, karena aku akan membanggakan jumlahmu yang banyak di hari akhir nanti” (HR. Ibnu Majah dari Aisyah).

           

Beberapa Persiapan

            Tapi Pernikahan ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Karena pernikahan hakikatnya adalah bertambahnya amanah dan tanggung jawab. Maka sebelum menikah, ada hal-hal yang harus diperhatikan dan dipersiapkan agar pernikahan yang didambakan membuahkan kebaikan dan keberkahan di dunia dan akhirat.

Pertama, kesiapan mental. Yakni mantapnya niat dan langkah menuju kehidupan rumah tangga. Laki-laki siap menjadi qawwam (pemimpin) dan siap menanggung beban sebagai kepala rumah tangga. Sementara itu perempuan siap menerima intervensi dan mengurangi sebagian otoritasnya karena tunduk pada prinsip syura dalam rumah tangga dan ketaatan pada suaminya.

Kedua, memahami tujuan dan hakikat pernikahan. Harus difahami bahwa pernikahan bukanlah  sekedar sarana pemenuhan kebutuhan seksual; karena dalam kerangka kehidupan kita sebagai seorang muslim, apa pun yang kita lakukan di dunia ini—termasuk menikah didalamnya—haruslah berada dalam bingkai ibadah kepada Allah SWT (51: 56). Maka menikah hendaknya menjadi sebuah wahana bagi kita untuk menegakkan nilai-nilai Islam secara kaafah (2: 208); sehingga menjadi  jalan bagi hadirnya keteladanan yang baik bagi masyarakat di sekitar.

Ketiga, pengetahuan atau ilmu yang cukup. Dalam pernikahan ada dinamika hidup yang lebih kompleks; disana kita memimpin, mendidik, menyesuaikan diri, dan menyelesaikan masalah. Untuk itu dibutuhkan ilmu, sehingga pernak-pernik kehidupan dapat dijalani dengan baik dengan penuh kualitas. Pengetahuan yang kita butuhkan diantaranya adalah:

 

1.      Pengetahuan agama secara luas

2.      Pengetahuan tentang hak dan kewajiban suami istri

3.      Pengetahuan tentang pendidikan anak

4.      Pengetahuan tentang komunikasi yang baik dalam kehidupan keluarga

5.      Pengetahuan tentang hak dan kewajiban sebagai anggota masyarakat dan negara.

 

Keempat, maisyah yang dapat menopang kehidupan. Secara khusus beban yang berkaitan dengan pemenuhan material ini menjadi hal yang harus diperhatikan pihak laki-laki, karena ini adalah kewajibannya. Nabi SAW mewasiatkan hal ini kepada kaum lelaki, “Dan kamu wajib memberi nafkah kepada mereka dan memberi pakaian secara ma’ruf (patut)” (HR. Muslim).

Kesiapan maisyah yang dimaksud disini adalah adanya kesiapan lelaki untuk menafkahi istrinya. Sementara istri siap mengelola keuangan keluarganya. Seorang laki-laki harus sudah mengetahui pintu-pintu rizki yang akan mengantarkan dirinya kepada pemenuhan kewajibannya. Dia siap berusaha dan bekerja dengan penuh optimisme. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya kami telah menempatkan kalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu itu (sumber) penghidupan” (7: 10).

Adalah sebuah perbuatan tercela orang yang tidak mau berbuat sesuatu untuk menghasilkan nafkah. Umar bin Khattab menyindir, “Jangan sekali-kali seseorang diantara kamu hanya duduk-duduk saja dan tidak berusaha untuk mencari rizki dan (hanya) berdo’a, ‘Ya Allah berilah hamba rizki!’ Tahukah kamu dan semua telah tahu bahwa langit itu tidak menurunkan hujan emas atau perak.”

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya, “Bagaimana pendapat Anda mengenai mengenai seseorang yang duduk di rumah atau di masjid dan berkata, ‘Saya tidak mengerjakan sesuatu apa pun sampai rizkiku akan datang dengan sendirinya.’”

Imam Ahmad menjawab, “Orang itu sangat bodoh dan tidak mengerti ilmu agama sama sekali. Apakah orang yang demikian itu tak mendengar sabda Nabi , ‘Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku terletak di bawah tombakku?’ Juga apakah orang tersebut tidak mendengar sabda Nabi ketika beliau menyebutkan cara burung mencarI kehidupannya seraya mengatakan, ‘Berangkat pagi-pagi dengan perut kosong dan pulang sore-sore dengan perut kenyang?’”  

Kelima, menyiapkan kebugaran fisik. Dengan inilah seseorang dapat menjalankan fungsi dirinya sebagai suami atau isteri. Selain aktivitas kerja, di dalam pernikahan ada aktivitas seksual dan reproduksi. Semuanya membutuhkan kesehatan yang cukup. Oleh karena itu berolah raga menjadi tuntutan; selain itu memeriksakan kesehatan kepada ahlinya adalah hal yang perlu dilakukan secara teratur. Ingat sehat itu mahal harganya.

Keenam, persiapan sosial. Maksudnya adalah kesiapan menempatkan diri, karena bagaimana pun juga pernikahan akan menyebabkan seseorang memiliki status di masyarakat. Persiapan sosial dapat dilakukan dengan cara membisaakan diri terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan. Setiap kita hendaknya belajar mengambil peran sosial, hal ini akan sangat bermanfaat bagi kehidupan keluarga di masa yang akan datang.

Nabi SAW menjelaskan bentuk konkretnya, bagaimana hidup bermasyarakat yang baik. Beliau bersabda, “Jika engkau memasak maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikan tetanggamu” (HR. Muslim).

Beliau pun memberikan nasihat kepada kaum perempuan, “Hai kaum perempuan muslimah, janganlah sekali-kali seorang perempuan memandang remeh terhadap tetangganya dalam hal mnemberi hadiah, walaupun hanya berupa kikil kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim).  

  

Demikianlah persiapan yang diperlukan menjelang pernikahan. Semuanya bertujuan agar kehidupan keluarga yang dilewati pasca pernikahan akan membawa kebahagiaan, kebaikan, dan diliputi oleh suasana sakinah, mawadah, dan rahmah.  

 

(Disarikan dari Keakhwatan III, Ust. Cahyadi Takariawan, dkk.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s