Diposkan pada Aqidah

SAMA TAPI BEDA

Yahudi, Nasrani, dan Islam itu sama…tapi beda. Persamaan ketiga agama ini setidaknya diakui oleh tokoh Yahudi dan Nasrani pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup.

Yahudi dan Islam itu sama tapi beda

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Mansur[1] yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ketika turun ayat 85 surat Ali Imran,“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”, berkatalah orang-orang Yahudi kepada Nabi Muhammad SAW, “Sebenarnya kami ini muslimin (orang-orang Islam)”.

Mendengar ungkapan kaum Yahudi tersebut, Nabi Muhammad bersabda: “Allah telah mewajibkan kaum muslimin berhaji ke Baitullah”. Orang-orang Yahudi itu menyanggah: “Tidak diwajibkan (berhaji ke baitullah) kepada kami”.

Saat itu turunlah firman Allah SWT,

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim[2]; barangsiapa memasukinya (Baitullah) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 96-97).

Nasrani dan Islam itu sama tapi beda

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitab At-Thabaqat yang bersumber dari al-Azraq bin Qais, bahwa ketika Uskup Najran dan wakilnya menemui Nabi Muhammad SAW dan mendengar penjelasan beliau tentang agama Islam, mereka berkata: “Kami telah lebih dahulu masuk Islam sebelum Anda”.

Nabi SAW bersabda: “Kalian telah berdusta, karena ada tiga hal yang menghalangi kalian masuk Islam, yaitu: Kalian mengatakan bahwa Tuhan mempunyai anak; Kalian makan daging babi; dan Kalian bersujud kepada patung”.

Kedua orang Nasrani itu bertanya: “Kalau begitu siapakah bapaknya Isa?”. Pada saat itu Rasulullah SAW tidak mengetahui bagaimana harus menjawabnya. Maka turunlah firman Allah SWT sebagai tuntunan kepada Rasulullah untuk menjawabnya:

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, Kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), Maka jadilah dia. (apa yang telah kami ceritakan itu), Itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, Karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” (QS. Ali Imran: 59-60).

Setelah mendengar firman Allah SWT ini, Uskup Najran dan wakilnya ini tetap merasa ragu dan membantahnya. Maka turunlah firman Allah SWT selanjutnya,

“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka Katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. Sesungguhnya Ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan Sesungguhnya Allah, dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 61-62).

Muhammad SAW mengajak utusan Nasrani Najran itu melakukan mubahalah, yakni masing-masing pihak diantara orang-orang yang berbeda pendapat berdo’a kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, agar Allah menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta, tetapi mereka tidak berani dan memilih membayar jizyah (sejenis pajak untuk jaminan perlindungan) sebagai tanda tunduk kepada pemerintahan Madinah. Ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW.[3]

*****

Yahudi, Nasrani, dan Islam itu memiliki persamaan karena satu rumpun, sama-sama agama langit yakni bersumber dari firman Allah. Hanya saja dalam perkembangannya—menurut pandangan Islam—ajaran agama yang dianut Yahudi dan Nasrani telah terkontaminasi.

Kaum Yahudi menganut aqidah tauhid sebagaimana kaum muslimin, tetapi fanatisme kelompok telah menghalangi mereka beriman kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir. Padahal mereka telah mengetahui nama dan tanda-tandanya dari kitab yang ada pada mereka.

Berkenaan dengan hal ini Ibnu Hatim meriwayatkan berita dari Sa’id atau Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas—sahabat Nabi SAW: Dahulu—sebelum Islam masuk ke Yastrib / Madinah—kaum Yahudi selalu berdo’a memohon pertolongan kepada Allah dengan menyebut-nyebut nama Muhammad sebagai Rasul terakhir yang disebutkan dalam kitab mereka agar dapat mengalahkan kaum Aus dan kaum Khazraj.

Akan tetapi setelah Allah mengutus Rasul dari kalangan bangsa Arab, mereka kufur kepadanya, dan mereka ingkari apa yang mereka katakan tentang Muhammad SAW sebelumnya. Oleh karena itu Muadz bin Jabal, Bisyr ibnul Barra dan Dawud bin Salamah mengingatkan mereka: “Wahai kaum Yahudi! Takutlah kalian kepada Allah dan masuk Islamlah kalian, karena kalian dahulu telah minta pertolongan kepada Allah memakai nama Muhammad untuk mengalahkan kami, di saat kami musyrik (belum masuk Islam). Kalian memberi kabar bahwa sesungguhnya Muhammad akan diutus, dan kamu mengemukakan sifat-sifat Muhammad dengan sifat yang ada padanya”.

Berkatalah tokoh Yahudi Bani Nadhir yang bernama Salam bin Masykam, “Dia (Muhammad) tidak memenuhi sifat-sifat yang kami kenal, dan dia bukan yang kami terangkan kepadamu”.

Saat itulah Allah SWT menurunkan firman-Nya:

“Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka[4], padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.”(QS. Al-Baqarah: 89).[5]

Sedangkan penyimpangan Nasrani menurut pandangan Islam adalah mencakup tiga hal:

1.      Penyimpangan dalam konsep ketuhanan, ditandai dengan keyakinan bahwa Isa / Yesus adalah anak Allah dan menjadikannya salah satu oknum dalam trinitas.

2.      Penyimpangan dalam syariat, ditandai dengan menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah. Contoh: membolehkan memakan daging babi.

3.      Penyimpangan dalam peribadatan, ditandai dengan melakukan tata cara peribadatan yang tidak diperintahkan Allah. Contoh: berdo’a, tunduk, atau sujud di hadapan patung.

Demikianlah, semoga kedamaian dan kesejahteraan selalu tercurah kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah.


[1] Terjemah Asbabun Nuzul hal. 102, Penerbit CV. Diponegoro cetakan ke-11 tahun 1989.

[2] Maqam Ibrahim ialah tempat Nabi Ibrahim berdiri membangun Ka’bah

[3] Lihat Asbabun Nuzul hal. 96 – 97 dan Terjemah Al-Qur’an Depag RI hal. 57, Penerbit  PT. Syaamil Cipta Media tahun 2005.

[4] Maksudnya kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. yang tersebut dalam Taurat dimana diterangkan sifat-sifatnya.

[5] Lihat terjemah Asbabun Nuzul hal. 29, Penerbit CV. Diponegoro cetakan ke-11 tahun 1989.

Iklan

4 tanggapan untuk “SAMA TAPI BEDA

  1. kalau melihat QS. Al-Baqarah: 89 yang dikutip di atas, artinya orang yahudi dan agama mereka tidak termasuk kafir. bener ga, pak?

  2. Bener sekali, Yahudi itu tidak termasuk kafir kalau mereka mau mengimani Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir, serta mau tunduk pada syariah yang dibawa Nabi Muhammad SAW (contoh syariah yang harus diikuti oleh mereka yang disebutkan dalam tulisan di atas adalah ibadah haji).

    Kalo kita baca QS. Al-Baqarah: 89 dari teks aslinya yang berbahasa Arab (bukan terjemahannya) kita akan dapati potongan kalimat: “Falammaa jaa-ahum maa ‘arafuu kafaruu bihii, fala’natullaahi ‘alal kaafiriin…” (diterjemahkan oleh Depag RI: Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu).

    Jadi, kalimat kafaruu bihii diterjemahkan menjadi: mereka ingkar kepadanya; dan kata fala’natullaahi ‘alal kaafiriin diterjemahkan menjadi: Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.

    Kafir diterjemahkan menjadi ingkar. Memang kata ingkar dalam bahasa Indonesia pun kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi kafir.

    Jadi, Yahudi itu termasuk golongan kafir karena tidak mau mengimani Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir, serta tidak mau tunduk pada syariah yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

    Tambahan: Siapapun orangnya–yang ngaku Yahudi, Nasrani, Islam–yang tidak mau mengimani Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir, serta tidak mau tunduk pada syariah yang dibawa Nabi Muhammad SAW maka termasuk golongan kafir /ingkar.

    Tapi…pembahasan tentang takfir (pengkafiran) ini harus dibahas hati-hati, terutama berkaitan dengan mereka yang mengaku Islam. Kalo Yahudi dan Nasrani mah emang sudah tegas dan jelas disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai orang yang kafir terhadap Islam.

  3. saya sangat tertarik dengan tulisan-tulisan di blog ini, sejujurnya saya melihat agama dari sudut realita Dimana yg saya pelajari pada awalnya agama dibuat sebagai pedoman hidup. agar kita para manusia yg ada di dunia ini menjalani hidup dengan tidak kacau. dalam arti akan selalu beraturan dan berjalan baik. sehingga tercipta keharmonisan hidup.
    dan oleh sebab itu semua agama yg saya lihat bertujuan untuk menciptakan keharmonisan dalam hidup.
    kalo kita membahas tiap2 agama yg ada pun seperti itu.terlepas tidak saya bahas tentang perbedaan cara peribadatan nya cara pemujaan nya. Dan perlu kita sadari pula bahwa agama yg ada sekarang sudah berumur ribuan tahun lamanya. oleh karena itu pastilah bakal terjadi perbedaan di setiap ajaran agamanya. ambil contoh kalo kita bercerita tentang suatu cerita pada seseorang. dan ketika orang tersebut menceritakan terhadap orang lain. dan itu terus berlangsung, pasti nya makna ceritanya dan pemahaman nya akan berbeda. demikian pula dengan agama yg ada skrng,
    namun kalo kita menangkap dasarnya dari semua yg agama, alangkah baik nya kalo kita masing2 pribadi menciptakan keadaan yg damai dan selaras, sesuai dengan tujuan awalnya untuk menciptakan hidup yg selaras.

    jadi tak terlepas dari perbedaan agama itu. maka mari kita hormati perbedaan yg ada. untuk menciptakan hidup yang baik dan penuh cinta kasih. karena itulah dasar dari AGAMA itu.

  4. Islam sangat menghormati perbedaan. Islam juga tidak melarang umatnya untuk berbuat baik kepada siapapun, termasuk kepada orang yang tidak seagama sekalipun.

    Allah SWT berfirman:
    “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Mumtahanah: 8-9)

    Atas dasar inilah seorang muslim tidak dibenarkan menikam, membunuh, atau memerangi orang yang tidak seagama, jika mereka tidak memerangi, mengusir, atau menjajah kaum muslimin.

    Atas dasar ini pula maka setiap muslim tidak keberatan bermuamalah (hidup berdampingan dan berinteraksi) dengan siapa pun.

    Lebih jauh lagi, Islam mengajarkan umatnya agar menjadi penebar rahmat / kasih sayang. Hal ini dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad. Beliau dengan tulus ikhlash melakukan kebiasaan menyuapi seorang kakek tua beragama Yahudi yang buta matanya. Kebiasaan itu kemudian diteruskan oleh sahabatnya Abu Bakar ketika Nabi Muhammad wafat, dan masih banyak contoh lain semacam ini.

    Adapun dakwah aqidah Islamiyah haruslah terus digelorakan dengan tetap menghargai perbedaan tsb. Tugas para da’i Islam hanyalah menyampaikannya pada seluruh umat manusia.

    Islam adalah risalah terakhir yang terjaga kemurniannya. Bagi orang yang merindukan kehidupan yang baik dan cinta kasih. Tidak ada ruginya menyisihkan sebagian waktu untuk memikirkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s