Diposkan pada Dakwah

LINTASAN SEJARAH AL-IKHWAN AL-MUSLIMUN (1)

Kemunculan komunitas gerakan dakwah di sepanjang masa adalah sunnatullah dan sunnatudda’wah, seperti diungkapkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits, “Akan senantiasa ada thoifah (golongan) yang dzohirina ‘ala al-haq (menegakkan kebenaran) hingga akhir kiamat (apapun tantangan yang mereka hadapi)”.

Salah satu gerakan dakwah yang eksis di abad ini adalah gerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun. Kontribusinya dalam melakukan syiar Islam ke seluruh penjuru bumi tidak dapat diabaikan begitu saja. Konon pengaruh mereka kini sudah merambah ke lebih dari 70 negara di dunia dengan kerja dakwah yang cukup signifikan.

Perjalanan sejarah jama’ah ini melewati tujuh marhalah (sebagian penulis sejarahnya ada yang menyebut empat marhalah), yaitu :

Marhalah Qoblal Nasy’atidda’wah  (sebelum 1928).

Hasan Al-Banna dilahirkan di desa Al-Mahmudiyah Kecamatan Damanhur. Sejak duduk di sekolah dasar Hasan sudah mengenal dan aktif berorganisasi. Setelah tamat dari sekolah Al-Muallimin, dia melanjutkan ke Universitas di Kairo.

Di Kairo dia melihat kondisi Kairo sangat berbeda dengan kondisi kampungnya. Fenomena kemungkaran dan kerusakan terlihat dimana-mana. Timbulah keinginannya untuk merubah kondisi di Kairo ini khususnya, dan kondisi Mesir umumnya. Bahkan bukan hanya itu, dia juga melihat kondisi negeri-negeri muslim di luar Mesir pun kondisinya kurang lebih sama. Fenomena yang sangat mencolok, negeri-negeri muslim umumnya dikuasai oleh penjajah dan diantara mereka tidak ada rasa persatuan.

Kedua fenomena ini menyebabkan Hasan Al-Banna sering merenung memikirkannya dan bahkan dibuat tidak bisa tidur karenanya. Ia kemudian melakukan usaha dengan membuka dialog atau kontak dengan para ulama yang ada di Mesir ketika itu, guna membicarakan permasalahan ummat Islam yang dicermatinya tersebut. Diantara ulama yang dijumpainya adalah Syekh Rasyid Ridho, seorang ulama besar di Mesir. Ia juga melakukan dialog dengan para ketua partai, diantaranya adalah Timur Basya.

Dari hasil pertemuan dengan para tokoh tersebut, terbentuklah suatu front yang terdiri dari beberapa ulama, yang kemudian menerbitkan sebuah majalah yang diberi nama Al-Fath. Majalah ini dipimpin oleh Muhibbuddin Al-Khatib. Selama beberapa lama majalah ini memuat pemikiran-pemikiran Islam serta menangkis serangan-serangan pemikiran sesat.  Namun, terbitnya majalah tersebut, belum memuaskan Hasan Al-Banna. Sebab, tulisan hanya dibaca oleh segelintir orang terpelajar.

Ia kemudian mencoba mengadakan kontak dengan mahasiswa Al-Azhar sehingga beliau berhasil mengumpulkan beberapa mahasiswa Al-Azhar untuk mengerjakan beberapa kerja-kerja da’wah seperti mengadakan tabligh di masjid-masjid.

Namun ini pun tidak membuat dia merasa puas.  Ia kemudian terjun ke masyarakat untuk melihat kondisi umat Islam yang sesungguhnya di Mesir, dengan melakukan kunjungan ke daerah-daerah ketika beliau libur, guna mencari tahu kondisi yang sesungguhnya di lapangan. Setiap pelosok Mesir beliau kunjungi, dan ini terus beliau lakukan selama kurang lebih empat tahun.

Marhalah Nasyatul Jama’ah  (1928-1936).

Setelah Hasan Al-Banna menyelesaikan sekolahnya di Darul Ulum, ia diangkat menjadi guru di sebuah Sekolah Dasar di Ismailiyah. Disana ia kembali mencari orang yang dapat diajak berdialog mengenai kondisi ummat Islam. Dengan orang-orang tersebut akhirnya Hasan Al-Banna berhasil membentuk suatu jama’ah yang kemudian dikenal dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM). Ini terjadi pada tahun 1928.

Awalnya, mereka kerap berkumpul di rumah Hasan Al-Banna pada malam hari guna memperbincangkan berbagai masalah-masalah da’wah. Setelah diusulkan beberapa nama bagi jama’ah yang hendak mereka bentuk tersebut, akhirnya disepakati nama Al-Ikhwan Al-Muslimun.  Anggota awal gerakan ini ada 7 orang.  Adapun anggota IM pada masa awal berdirinya yaitu : Hafidz Abdul Hamid, Ahmad Al-Hushori, Fuad Ibrohim, Ismail Izz, Abdurrohman Hizbulloh, Zakky  Al-Magribi, serta Hasan Al-Banna sebagai ketua.

Marhalah ini disebut marhalah nasy’atul jama’ah karena Hasan Al-Banna berhasil mendirikan organisasi yang manhajnya berbeda dengan berbagai organisasi yang ada saat itu, termasuk Syubanun muslimin (yang ia menjadi anggota di dalamnya ketika masih kuliah di Kairo).

Da’wah di Ismailiyah dimulai oleh Hasan Al-Banna dengan berda’wah di warung-warung kopi kepada buruh-buruh, karena disana belum ada masjid (Ismailiyah merupakan daerah industri yang terdapat banyak pekerja dan perusahaan asing, diantaranya Qonaf Suez). Hari demi hari ajakan Hasan Al-Banna kepada buruh-buruh tersebut mendapat sambutan yang menggembirakan dengan semakin banyaknya pengikut.

Hasan Al-Banna melakukan ceramah di warung-warung kopi ini dalam waktu 15-20 menit dan memilih tema-tema yang tidak menyinggung perasaan mereka dan memperhatikan waktu mereka yang padat karena bekerja seharian. Berkat ajakan ini akhirnya mereka sepakat untuk mendirikan masjid dengan menggunakan dana sumbangan masing-masing pribadi dan dengan meminta sumbangan kepada orang-orang Inggris yang ada disana yang menjadi direktur pada perusahaan-perusahaan tersebut.  Oleh wakil pemerintah Inggris dibantu, dan dibangunlah masjid disana.

Hasan Al-Banna juga berhasil menyadarkan para pelacur bahkan mereka ini setelah sadar berhasil membangun sebuah ma’had yang disebut Ma’had lil Banat yang diberi nama “Al Hiro”.

Dakwah IM menimbulkan perubahan yang sangat drastis terhadap diri para buruh di Qonaf Suez tersebut.  Kalau sebelumnya mereka tidak disiplin, mereka kini menjadi sangat disiplin.  Para buruh ini juga terlihat tidak mau tunduk kepada perintah atasannya yang nota bene adalah orang-orang Inggris. Melihat gelagat ini, pemerintah Inggris memanggil Hasan Al-Banna dan menanyakan masalah ini, karena dia yang memilih imam masjid di perusahaan tersebut (seorang mahasiswa Al-Azhar).  Orang Inggris tersebut berkata, “Kamu bukan menunjuk orang ini sebagai Imam Masjid, tapi pada hakekatnya kamu telah menunjuk orang ini sebagai jenderal. Semua orang yang keluar dari masjid itu memiliki disiplin tinggi dan mereka tidak takut terhadap orang-orang Inggris yang ada di perusahaan”.

Kedutaan Inggris yang berada disana meminta kepada Raja Farouk yang saat itu memimpin Mesir untuk memindahkan Hasan Al-Banna dari Ismailiyah ke Kairo, dengan harapan agar da’wahnya mati dan tidak berkembang kembali. Raja Farouk segera memenuhi permintaan Inggris dan dipindahkanlah Hasan Al-Banna dari Ismailiyah ke Kairo. Ternyata dengan pindahnya ia ke Kairo, da’wah justru semakin berkembang dan menyebar.

(Bersambung)

Iklan

Satu tanggapan untuk “LINTASAN SEJARAH AL-IKHWAN AL-MUSLIMUN (1)

  1. Tulisan ini akan dibuat dua bagian insya Allah. Buat Maisun yang minta tulisan tentang sejarah IM, maaf saya cuma bisa menyajikan lintasan sejarahnya. Kalo mau lengkap mah, baca aja bukunya…kalo ga salah karangan Ust. Jum’ah Amin (sudah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Era Intermedia). Ada berapa jilid gitu…tebel-tebel lagi. Saya juga belum baca…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s