Diposkan pada Dakwah

LINTASAN SEJARAH AL-IKHWAN AL-MUSLIMUN (2)

Marhalah Ta’sis (1936-1941).

Marhalah ta’sis diawali dengan pindahnya Hasan Al-Banna ke Kairo, dia mendirikan Hai’ah Ta’sisiyah lil jama’ah dan mendirikan Maktab Al-Irsyad. Pada marhalah ini IM resmi menjadi sebuah lembaga dengan struktur yang rapi.

Pada masa ini, IM berhasil mendirikan berbagai proyek ekonomi, pendidikan dan sosial. Salah satu proyek yang mereka miliki adalah pabrik baja, pabrik tembaga, dan lain-lain. Saat itu seluruh Mesir hampir dikuasai oleh pengaruh IM melalui berbagai syu’bah yang ada.

Marhalah Taghyir (1941-1948).

Pada masa marhalah tagyir, IM tidak lagi menggunakan uslub terbuka yang pada waktu awal-awal berdirinya sering digunakan (Pendaftaran keanggotaan baru diumumkan secara terbuka dan siapa saja dapat mendaftar masuk menjadi anggotanya). Pada masa ini, mulai ada perubahan-perubahan bentuk rekruitmen. Model perekrutan baru tersebut dijelaskan dalam Risalatut Ta’lim.

IM kemudian membentuk Janah Asykari (sayap militer) yang disebut dengan Tandzim khos. Pimpinan Janah Asykari yang pertama bernama Abdurrohman Assindi. Adapun Jamal Abdul Naser, ia termasuk anggota tandzim khos yang berjanji setia langsung kepada Hasan Al-Banna. Kedudukannya di Janah Asykari adalah sebagai pelatih. Namun berikutnya Allah SWT membongkar niatnya yang buruk.

Adapun tujuan pembentukan tandzim khos ini adalah untuk :

a. Mengadakan serangan atau melakukan operasi militer terhadap Inggris.

b. Membebaskan Palestina dari Israel.

Marhalah Mihnah (1948-1967).

Pada tahun 1948 terjadi perang di Palestina, dimana Israel hampir mengalami kekalahan. Namun pasukan IM kemudian ditarik oleh pemerintah Raja Farouq dan setelah itu mereka dijebloskan ke dalam penjara.

Pada waktu itu jumlah anggota IM mencapai hampir setengah juta orang dengan jumlah syu’bah sebanyak 2000 buah. Akan tetapi Allah SWT ingin menguji anggota IM dengan memenjarakan mereka, terutama para qiyadahnya. Seluruh asset IM kemudian disita, termasuk gedung Maktab Irsyad yang kemudian dilelang oleh pemerintah.

Yang tidak dipenjarakan hanya beberapa orang saja. Termasuk diantaranya adalah Hasan Al-Banna, yang sengaja tidak dipenjarakan untuk mengelabui negara-negara di dunia bahwa pemerintahan Raja Farouq memberikan kebebasan kepada rakyatnya, khususnya IM dengan bukti pemimpinnya dibiarkan bebas merdeka.

Marhalah mihnah itu dimulai dari pembubaran IM pada tahun 1948. Setahun setelah itu Hasan Al-Banna dibunuh, yaitu pada 12 Pebruari 1949. Pembunuhan tersebut merupakan makar dari Raja Farouq dan Perdana Menteri Mahmud Fahmi An Nakhrosyi, mereka itulah yang membunuh Hasan Al-Banna melalui mukhobarot (intelegent). Hari pembunuhan tersebut bertepatan dengan hari ulang tahun Raja Farouq. An-Nakhrosyi ingin memberikan hadiah kepada Raja Farouq dengan membunuh Hasan Al-Banna.

Penembakan terhadap Hasan Al-Banna terjadi pada malam hari tanggal 11 Pebruari 1949. Sebenarnya lukanya pada waktu itu tidak begitu parah, namun ketika dibawa ke rumah sakit Ia tidak boleh diobati dan dirawat, sehingga terjadi pendarahan dan akhirnya menemui kesyahidannya. Ketika itu terjadi kegoncangan pada tubuh IM. Karena pada umumnya IM berada di penjara, maka tidak ada yang mengantarkan jenazah Hasan Al-Banna kecuali lima orang wanita yang diiringi dengan panser.

Karena para Qiyadah berada di penjara dan kondisi sangat rawan, kurang lebih dua tahun IM kosong dari kepemimpinan, tidak memiliki Mursyid Aam. Ada beberapa usaha yang dilakukan oleh orang-orang terdekat Hasan Al-Banna, diantaranya adalah Syaik Munir Fallah untuk mengembalikan kondisi IM. Di dalam penjara, ada beberapa orang yang terlihat pantas menggantikan Hasan Al-Banna, misalnya Sholeh Asymawi yang menjabat Wakil Jama’ah pada masa Hasan Al-Banna, Abdul Hakim Abidin yang menjabat sebagai Sekretaris Jama’ah, dan yang ketiga adalah Abdurrahman Al-Banna, kakak dari Hasan Al-Banna. Inilah orang-orang yang berada dalam penjara dan pantas menggantikannya menjadi Mursyid Amm. Sementara yang diluar penjara dan terlihat mampu menggantikan Hasan Al-Banna adalah Syaikh Munir Falah dan Syaikh Hasan Bakuri, Syaikh Al-Azhar.

Ketika orang-orang IM dipenjarakan Syaikh Hasan Bakuri ini ditugaskan keluarga-keluarga yang ada diluar penjara. Munir telah berusaha untuk mencari siapa yang tepat untuk menjadi pemimpin. Sebab mereka sangat memerlukan seorang pemimpin, sehingga ia mengadakan kontak dengan mereka yang ada didalam penjara.

Setelah mereka dihubungi Munir Falah, Sholeh Asymawi mengatakan, “Saya akan mencalonkan diri saya tapi itu semua terserah Jama’ah, saya tidak akan bersikeras.” Sementara Abdul Hakim Abidin yang merupakan menantu Hasan Al-Banna mengatakan, “Saya tidak akan mencalonkan diri saya, saya serahkan kepada Jama’ah”, dan Abdurrahman Al-Banna mengatakan, “Saya akan mencalonkan diri saya” karena ia merasa berhak untuk itu. Sementara Hasan Al-Bakuri tidak mau mencalonkan dan kalaupun ditunjuk ia tidak mau.

Terjadilah ketidak-sepakatan dalam hal siapa yang akan menjadi pengganti Mursyid Amm. Akhirnya, disepakati memilih orang yang berada diluar mereka. Disepakatilah untuk memilih Hasan Al-Hudaibi sebagai Mursyid Amm pada bulan Oktober 1951.

Saat dipilihnya Mursyid Aam itu, Raja Farouq sudah meninggal dunia. Di kerajaan, sebelumnya ada perubahan struktur dan ada peluang untuk mengadakan revolusi. Yang banyak berperan dalam revolusi tersebut adalah Tandzim Khos, termasuk di dalamnya adalah Jamal Abdul Nasser. Ia menarik orang-orang yang berada di dalam tandzim khos agar berwala’ kepada Jamal Abdul Nasser dan bukan kepada Jama’ah IM. Maka terjadilah revolusi pada tanggal 23 Juli 1952, tidak lama setelah terbunuhnya Hasan Al-Banna.

Sebelumnya, Raja Farouq melihat adanya tanda-tanda akan digulingkan, melarikan diri ke luar Mesir dan akhirnya meninggal. Kekosongan ini diisi oleh Jamal Abdul Nasser dan Muhammad Najib menjadi perdana menterinya.

Dengan adanya perubahan ini, jama’ah IM diberi kebebasan kembali untuk melakukan aktifitas dan seluruh barang-barang miliknya dikembalikan. Ketika Jamal Abdul Nasser berhasil memimpin revolusi, ia meminta kepada Hasan Hudaibi, agar mengirimkan tiga orang ikhwan untuk menjadi menteri yang salah satu syaratnya adalah diantara tiga orang tersebut satu diantaranya Hasan Badhowi. Hasan Hudaibi kemudian memilih Sholeh Asmawi dan Abdul Hakim Abidin, tapi kemudian tidak disetujui oleh Jamal Abdul Naser. Tanpa disepakati oleh Hasan Al-Hudaibi, Jamal Abdul Nasser menunjuk Hasan Al-Burquri sebagai menteri wakaf yang kemudian dalam waktu yang tidak terlalu lama kemudian diumumkan pemecatan Hasan Al-Burquri dari jabatannya sebagai menteri.

Jamal Abdul Nasser kemudian meminta IM untuk tidak berpolitik dan hanya melakukan aktifitas keagamaan (berda’wah) saja. Oleh Hasan Al-Hudaibi menolak dan kemudian terjadilah perbedaan arah antara IM dan Jamal sejak saat itu. Pada Januari 1954 akhirnya Jamal mengumumkan pembubaran IM dan seluruh kekayaan disita serta anggotanya dipenjarakan oleh Jamal Abdul Nasser, termasuk Hasan Al-Hudaibi.

Tak lama berselang, terjadi peperangan antara Mesir dengan Israel yang berakhir dengan kekalahan Mesir. Akibat kekalahan Mesir, gurun Sinai diserahkan ke Israel. Tak lama setelah itu Jamal Abdul Nasser wafat dan digantikan oleh Anwar Saddat (melalui revolusi tidak berdarah). Pada saat itu, terjadi pula perdamaian antara pemerintah Mesir dengan Inggris dengan syarat Inggris meninggalkan Mesir.

Marhalah Shohwah (1967-1981).

Setelah adanya hukuman gantung terhadap tokoh-tokoh IM, aktifitas IM boleh dikatakan vakum. Pada masa pemerintahan Saddat, seluruh tokoh-tokoh organisasi politik yang ditahan dibebaskan kembali, termasuk diantaranya tokoh-tokoh IM seperti Hasan Al-Hudaibi, meskipun aktifitas IM sendiri tetap masih dilarang.

Fase ini disebut marhalah Shohwah, terjadi tahun 1967-1981. Kepemimpinan Hasan Hudaibi sampai dengan 1973. Hasan Al-Hudaibi berhasil menjaga asholah da’wah dan jama’ah dengan menulis sebuah buku berjudul Nahnu Du’at laisa Qudhot. Nopember 1973 Hudaibi wafat dan digantikan oleh Umar Tilmitsani, saat itu Mesir masih dipimpin oleh Anwar Saddat.

Berkat upaya Umar Tilmitsani berdialog dengan pemerintah, IM akhirnya diperbolehkan kembali melakukan aktifitas-aktifitas da’wah, bahkan diberi kesempatan untuk mengikuti Pemilu di Mesir. Dengan aktifnya kembali IM, banyak orang yang berhasil direkrut, diantaranya adalah para mahasiswa di berbagai universitas.

Ketika IM mulai bangkit kembali, terjadilah pembunuhan atas Anwar Saddat dan kedudukan Presiden kemudian digantikan oleh Husni Mubarok. Pembunuhan Anwar Saddat dihubung-hubungkan dengan IM, maka terjadilah penangkapan besar-besaran terhadap anggota IM, yang berakibat banyaknya anggota IM melarikan diri ke berbagai negeri. Husni Mubarok memandang dengan perginya tokoh-tokoh IM ke luar Mesir, berarti IM sudah mati dan tidak membahayakan lagi. Namun, dengan izin Allah, deportasi besar-besaran ini justru berakibat tersebarnya da’wah IM keberbagai belahan bumi.

Pada masa Mubarok, terdapat suasana keterbukaan. Meskipun IM bukan merupakan partai resmi, namun anggota-anggotanya diperkenankan menjadi anggota DPR. Semua ini berkat kemampuan Umar Tilmitsani mengadakan lobbying dan dialog. Tahun 1985, di bulan Ramadhan, Umar Tilmitsani wafat. Beliau kemudian digantikan oleh Abdul Hamid Abu Nasr.

Marhalah Amal Alami (1981-1990).

Tahun 1981 hingga tahun 1990 an disebut dengan masa al ‘amal alam islami. Karena sampai tahun 1990 an itu IM dapat melebarkan pengaruhnya dakwahnya secara internasional. Banyak organisasi, partai politik, kelompok keagamaan yang terpengaruh, mendukung, atau bermitra dengan IM.

Hingga saat ini meskipun IM mengalami berbagai tribulasi dalam setiap pergantian pemimpin (mulai dari Raja Farouq, Jamal Abdul Nasser, Anwar Saddat hingga Husni Mubarok), namun da’wah ini terus bergulir dan semakin kokoh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s