Diposkan pada Sirah

SIRAH MUHAMMAD SAW (3)

Masa-masa Tribulasi Dakwah di Makkah

Berbagai Tantangan Dakwah

Era dakwah terbuka mengandung konsekwensi. Seruan Islam mulai banyak diperbincangkan, musuh-musuh dakwah pun mulai melakukan tindakan-tindakan penentangan:

Pertama, melakukan penghinaan (mengejek saat Nabi beribadah, menyimpan kotoran di halaman rumah Nabi, melempar kotoran, menjerat leher Nabi, menaburkan kotoran dan tanah ke kepala Nabi, dll.)

Kedua, menghasut masyarakat agar tidak menyenangi Islam. Abdul Uzza (Abu Lahab) menghasut kalangan laki-laki; Aura (Ummu Jamil) menghasut kalangan wanita; sedangkan ‘Amr bin Hisyam (Abu Jahl) menghasut kalangan pemuda. Mereka bersekongkol menahan laju gerakan dakwah Islam, sehingga citra dakwah Islam menjadi buruk di mata masyarakat: Muhammad itu penghina nenek moyang; pemecah belah persatuan bangsa Quraisy; orang gila, dlsb. Namun cara-cara busuk itu ternyata tidak menyebabkan laju dakwah berhenti; dari hari ke hari pengikut Islam malah bertambah. Hal ini tentu saja membuat para pemuka Quraisy semakin jengkel.

Ketiga, mengajak kompromi—tepatnya menyuap Nabi—agar berhenti dari dakwah, yang ditawarkan adalah harta, tahta (jabatan politik) dan wanita. Untuk keperluan ini mereka mengutus Utbah bin Rabi’ah. Namun diplomasi Utbah mengalami kegagalan.

Keempat, menekan Abu Thalib untuk tidak melindungi Nabi. Karena tekanan dari kaumnya demikian kuat Abu Thalib akhirnya berusaha membujuk Nabi, tapi beliau tetap bersikukuh untuk terus melanjutkan perjuangan dakwah.

Kelima, menggunakan cara kekerasan, yakni dengan menyiksa para pengikut Islam yang lemah (mereka yang tidak memiliki kabilah pelindung seperti Bilal bin Rabah, Sumayyah, Amr bin Yasir, Yasir, dll.).

Hijrah ke Habasyah I

Karena semakin kerasnya siksaan dan penghinaan akhirnya Nabi memerintahkan sebagian sahabatnya untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia). Ada sekitar 15 orang sahabat yang berhijrah, diantaranya adalah Utsman bin Affan dan Ruqayyah binti Rasulullah SAW. Mereka pergi pada bulan Rajab tahun ke 5 bi’tsah dengan cara menyewa kapal laut. Mereka tinggal di Habasyah beberapa waktu lamanya sampai terdengar kabar palsu yang disebarkan orang-orang Quraisy bahwa orang-orang Quraisy telah memeluk Islam. Rombongan kaum muslimin pulang kembali ke Makkah dan ternyata kondisinya masih tetap sama.

Namun dakwah Islam terus bergulir, diantara berbagai kesedihan ada pula berita gembira. Diantaranya adalah masuk Islamnya Hamzah dan Umar bin Khattab, dua orang lelaki kuat yang disegani orang-orang Quraisy saat itu.

Mudzoharoh

Meskipun dakwah Islam telah terbuka namun kaum muslimin belum berani ‘unjuk gigi’. Melihat kondisi seperti ini Umar mengusulkan kepada Nabi agar berani menunjukkan eksistensi dakwah Islam. Saat itu Umar memobilisir kaum muslimin berkumpul dalam sebuah barisan. Mudzaharoh—demonstrasi—pertama ini diawali dari rumah Arqam yang merupakan markaz dakwah kaum muslimin dan dilanjutkan dengan masuk berkeliling ke jalan-jalan perkampungan kota Makkah. Mereka meneriakkan yel-yel: Laa ilaaha illa-Llaah Muhammadu-rrasuulullaah. Nabi berjalan di depan barisan dengan dikawal oleh Hamzah dan Umar. Iring-iringan ini kemudian thawaf menelilingi Ka’bah, shalat dan membaca Al-Qur’an secara zahar.

Upaya-upaya penumpasan Dakwah Islam selanjutnya:

Pertama, menyebarkan berita-berita bohong tentang Islam kepada para pemimpin kabilah (Contoh: menyebut Muhammad sebagai penyihir, penyair, peramal, dukun, dll). Hal ini dilakukan oleh musuh-musuh dakwah karena Nabi gencar memperkenalkan Islam kepada kabilah-kabilah yang datang ke Mekkah ketika musim haji.

Kedua, memboikot Rasulullah dan para sahabatnya, termasuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang memberikan perlindungan kepada Nabi. Rencana awal sebenarnya bukan pemboikotan, tetapi pembunuhan kepada Nabi SAW. Akan tetapi rencana ini ditentang oleh Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Maka berubahlah rencana itu menjadi pemboikotan yang dituangkan dalam naskah kesepakatan bersama. Para pemuka Quraisy sepakat untuk tidak mengadakan jual beli, kawin mengawini dan transaksi lainnya dengan kaum muslimin, Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Pemboikotan berlangsung 3 tahun. Selama pemboikotan itu Nabi selalu dijaga oleh kaum kerabatnya yang setiap malam melakukan hirosah.

Selama pemboikotan tersebut kaum muslimin berada dalam kesengsaraan, mereka hanya makan daun-daunan dan kulit pohon, walaupun sesekali dikirimi makanan oleh orang-orang yang memiliki rasa iba dan hati nurani.

Hijrah ke Habasyah II

Karena tekanan yang demikian keras, Nabi menyuruh sebagian pengikutnya hijrah lagi ke Habasyah. Ada sekitar 101 orang yang pergi hijrah. Saat itu sebagian muslim yang tinggal di Yaman pergi juga menuju Habasyah, karena mengira Nabi ikut hijrah ke sana.

Selama di Habasyah kaum muslimin sempat terlibat perang diplomasi, Quraisy melalui Amr bin Ash mencoba menghasut Najasyi untuk menyerahkan kaum muslimin. Namun Ja’far bin Abu Thalib berhasil melawan diplomasi ini, sehingga mereka tetap dilindungi Najasyi, bahkan Najasyi sendiri masuk Islam.

Pembatalan Pemboikotan

Setelah tiga tahun, tiba-tiba Nabi menginformasikan bahwa naskah pemboikotan sudah hancur. Orang-orang Quraisy menjadi berbeda pendapat apakah pemboikotan harus dilanjutkan atau dihentikan. Hisyam bin Amr, Zuhair bin Umayyah, Muth’im bin Adiy, Abdullah Bahtany, dan Zam’ah bin Al-Aswad mempelopori penghentian pemboikotan, mereka memobilisir pengikutnya masing-masing menduduki Ka’bah untuk menekan Quraisy membatalkan pemboikotan.

Pada masa-masa ini ada sahabat-sahabat yang memperoleh jiwar (suaka), contohnya Abu Bakar yang mendapatkan jiwar dari Ibnu Dhughunnah. Terjadi pula peristiwa yang menggembirakan: masuk Islamnya Nasrani Najran pada tahun 10 bitsah.

Ammul Huzn

Beberapa bulan setelah peristiwa pemboikotan terjadilah peristiwa yang sangat menyedihkan hati Nabi. Paman beliau, Abu Thalib wafat. Tidak lama kemudian isterinya tercinta, Khadijah pun kembali keharibaan-Nya. Karenanya Quraisy lebih berani melakukan tekanan-tekanan dengan lebih brutal karena Nabi tak memiliki seseorang yang dapat melindunginya.

Dakwah ke Thaif

Nabi berdakwah ke Thaif dengan harapan dapat membujuk Bani Tsaqif untuk masuk Islam dan memberikan perlindungan serta pembelaan dari keganasan kafir Quraisy. Akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, Rasulullah malah dihinakan. Beliau kembali lagi ke Mekkah dengan cara mendapatkan jiwar dari Muth’im bin Adiy, setelah sebelumnya ditolak oleh Akhnas bin Syuraiq dan Suhail bin Amr.

Pada masa inilah terjadi masuk Islamnya beberapa bangsa Jin dari dusun Nashibin dan seorang penyair ternama Thufail Ad-Dausi.

Hikmah-hikmah:

1. Tribulasi dakwah adalah sebuah sunatullah dalam dakwah, gerakan dakwah dituntut untuk terus bersabar dan beristiqomah walaupun orang-orang terus menghina; melemparkan tuduhan-tuduhan palsu dan fitnah; iming-iming dunia; melakukan tindakan kekerasan; boikot; upaya pembunuhan, dlsb.

2. Kita harus yakin bahwa dalam setiap kesulitan akan selalu ada kemudahan. Dua hal ini selalu berjalan beriringan dan datang silih berganti. Tugas para pejuang dakwah adalah terus bekerja menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam; mencari peluang untuk semakin menguatkan eksistensi dakwah; dan tidak terprovokasi untuk melakukan perlawanan bersenjata.

3. Pentingnya dakwah memiliki mizhalah (payung) pelindung, agar dakwah bisa terus berjalan dan menyusun kekuatannya, tapi dengan tetap berpegang pada prinsip. Mizhalah ini bisa berasal dari perorangan, kelompok, penguasa, dlsb. Dalam uraian di atas bahkan Rasulullah SAW melakukan intifa, yakni memanfaatkan dan meminta jiwar (suaka) dari kalangan musyrikin (Akhnas bin Syuraiq, Suhail bin Amr, dan Muth’im bin Adiy). Abu Bakar pun menerima suaka dari Abu Dhughunnah. Tujuan dari perlindungan ini adalah agar target-target gerakan dakwah dapat tercapai dengan meminimalisir berbagai gangguan.

4. Gerakan dakwah harus terus bergerak melakukan manuver dakwah; memperluas basis massa dan dukungan kekuatan. Bahkan Nabi sendiri memperluasnya sampai mempersiapkan basis teritorial sebagai pusat gerakan dakwah. Implikasi seperti ini dapat kita temukan dari tindakan Nabi SAW yang mencoba mengalihkan pusat dakwah di Makkah ke Thaif.

5. Perlunya dakwah menunjukkan eksistensinya jika memungkinkan untuk itu. Mudzaharah yang dilakukan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya menjadi bukti tentang hal ini. Namun tujuannya haruslah jelas, bukan hanya sekedar ‘gagah-gagahan’.

6. Perlunya dakwah memiliki kemampuan diplomasi. Apa yang dilakukan Ja’far bin Abu Thalib menunjukkan kepada kita bahwa dakwah Islam mampu menampilkan dirinya secara elegan. Kemampuan ini pula yang harus dimiliki gerakan Islam saat ini. Mampu meramu kata dengan baik, sehingga dakwah dapat diterima dengan senang hati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s