Diposkan pada Sunnah

AYO SHALAT BERJAMA’AH!

9_muslim-prayer-low-res

Salah satu sunah Nabi yang kini banyak diabaikan adalah shalat berjama’ah di masjid. Kita seringkali menyaksikan sebagian besar umat Islam tidak begitu memperhatikan shalat berjama’ah, bahkan tidak jarang termasuk para ustadz dan da’i yang ada di tengah-tengah mereka.

Banyak diantara kita meremehkan ibadah agung ini dengan alasan sibuk dan sempitnya waktu, padahal keutamaannya demikian besar.

Shalat berjama’ah bukti keimanan

Benar, keimanan itu tempatnya memang di dada. Namun indikasi atau ciri-cirinya dapat kita lihat dari amal keseharian. Salah satu ciri benarnya keimanan seseorang adalah senang memakmurkan masjid.

Allah ta’ala berfirman:

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. At-Taubah, 9: 18).

Shalat berjama’ah adalah ibadah yang paling utama dalam memakmurkan masjid. Jika tidak ada shalat berjama’ah, tentulah masjid-masjid di muka bumi ini akan sepi.


Allah dan Rasul-Nya sangat mengagungkan dan menekankan shalat berjama’ah

Perhatikanlah firman Allah ta’ala berikut ini:

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, Kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), Maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. (QS. An-Nisa, 4: 102)

Ayat ini menjelaskan tentang shalat berjama’ah yang dilakukan dalam kondisi khauf. Dari ayat ini kita mendapat informasi bahwa shalat secara berjama’ah tetap harus dilakukan meskipun dalam kondisi penuh kekhawatiran dan tidak aman.

Dalam Mukhtasar Muslim, disebutkan hadits tentang seorang buta yang meminta rukhshah untuk tidak turut serta shalat berjama’ah dengan alasan rumahnya jauh dan tak ada seorangng pun yang menuntunnya, padahal perjalanan menuju masjid penuh dengan binatang buas. Nabi SAW kemudian bertanya, atasma’u-nnidaa-a? Apakah kamu mendengar seruan (adzan)? Laki-laki buta itu menjawab, Na’am, ya..saya mendengarnya. Nabi SAW kenudian bersabda, ajib! Jika demikian maka jawablah (penuhilah) seruan itu. Bahkan dalam riwayat lain Nabi menjawab dengan tegas, Laa ajidu laka rukhshotan, Aku tidak mendapati rukhsah (dispensasi) untukmu.

Sekali lagi renungkanlah…perhatikanlah! Betapa shalat berjama’ah di masjid sangat ditekankan.

Perintah shalat berjama’ah di masjid tegas

Perintah shalat berjama’ah sangat jelas dan tegas, disampaikan secara qouliyah (ucapan) maupun fi’liyah (perbuatan).

Man sami’a-nnidaa-a falam ya’tihi, fa laa sholaata lahu illaa min udzrin, Siapa yang mendengar adzan lalu tidak mendatanginya (untuk shalat berjama’ah) maka tidak ada shalat baginya kecuali ia mempunyai udzur” (Shahihul Jami’ [6300]).

Nasihat Abdullah bin Mas’ud

Sahabat Rasulullah, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berwasiat tentang shalat berjama’ah:

Siapa saja yang senang bertemu Allah kelak dalam keadaan muslim maka hendaklah ia menjaga shalat-shalat yang mereka dipanggil untuk melakukannya. Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada Nabi kalian beberapa jalan petunjuk.

Sungguh sekiranya kalian shalat di rumah sebagaimana orang yang meninggalkan (shalat berjama’ah) ini di rumahnya, niscaya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian.

Sungguh jika kalian meninggalkan sunnah Nabi, tentulah kalian telah sesat. Tidaklah seorang laki-laki berwudhu kemudian ia membaikkan wudhunya lalu menuju ke masjid di antara masjid-masjid ini kecuali Allah menulis setiap langkah yang ia langkahkan satu kebaikan untuknya dan Allah meninggikannya satu derajat serta menghapuskan satu keburukannya.

Sesungguhnya kita telah menyaksikan, tidaklah meninggalkan (shalat berjama’ah) kecuali seorang munafik yang tampak jelas kemunafikannya. Sesungguhnya dulu (pernah terjadi) ada seorang laki-laki yang dipapah oleh dua orang kemudian ia diberdirikan di dalam shaf (agar bisa shalat berjama’ah).

Demikianlah nasihat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Shalat berjama’ah lebih utama

Shalat berjama’ah lebih utama 27 derajat daripada shalat sendirian. Riwayat lain menyebutkan bahwa ia lebih utama 25 derajat, Nabi bersabda: “Shalat berjama’ah itu lebih utama 25 derajat daripada shalat sendirian.” (HR. Bukhari).

Shalat berjama’ah lebih suci di sisi Allah

Sesungguhnya shalat berjama’ah itu, meskipun dengan jumlah yang sedikit, lebih suci di sisi Allah daripada shalat sendiri-sendiri meskipun jumlah orangnya lebih banyak.

Rasulullah SAW bersabda:

“Shalat dua orang laki-laki dengan salah seorangnya menjadi imam adalah lebih suci di sisi Allah daripada shalat empat orang secara sendiri-sendiri. Shalat empat orang dengan salah seorangnya menjadi imam lebih suci di sisi Allah daripada shalat delapan orang secara sendiri-sendiri. Shalat depan orang dengan salah seorangnya menjadi imam lebih suci di sisi Allah daripada shalat 100 orang secara sendiri-sendiri”.(Shahihul Jami’, 3836).

Menjaga diri dari Setan

Shalat berjamaah—dengan izin Allah—menjaga seorang muslim dari musuh bebuyutannya yang tidak pernah diam dan putus asa.

Muhammad SAW bersabda, “Tidaklah tiga orang berada di suatu desa atau dusun dan mereka tidak mendirikan shalat (berjamaah)kecuali mereka telah dikuasai setan.Karena itu hendaklah kalian senantiasa berjamaah. Sungguh serigala itu hanya makan (hewan piaraan) yang jauh (dari gerombolan kawan-kawannya)”. (Shahihul Jami’, 5701).

Tidak menyerupai orang-orang Munafik

Ciri-ciri munafik yang paling jelas menurut Nabi adalah meninggalkan shalat berjamaah, terutama shalat isya dan shubuh, “Laisa sholatun atsqolu ‘alal munaafiqiina minal fajri wal-‘isyaa-i, wa lau ya’lamuuna maa fiihimaa la-atauhumaa wa lau habwan, Tak ada shalat yang lebih berat menurut orang-orang munafik melebihi (beratnya) shalat shubuh dan isya’. Seandainya mereka mengetahui pahala pada keduanya, niscaya mereka akan datang (berjamaah) meskipun dengan merangkak…” (Muttafaq Alaih).

Tentang keutamaan shalat shubuh dan isya’ berjamaah, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang shalat isya’ secara berjamaah, seakan-akan shalat separuh malam. Siapa yang shalat shubuh berjamaah, seakan-akan shalat sepanjang malam”. (HR. Muslim).

Penyebab Ta’ajubnya Allah Ta’ala

Rasulullah SAW bersabda, “Innallaha laya’jabu mina-shalaati fil-jam’i”, Sesungguhnya Allah ta’ajub pada shalat yang dilakukan secara berjama’ah.

Berpahala besar karena berjalan untuk Menunaikannya

Banyak sekali hadits Nabi yang menyebutkan tentang pahala besar yang disediakan Allah ta’ala bagi mereka yang berjalan menuju masjid untuk shalat berjamaah, diantaranya adalah:

Siapa yang pergi menuju masjid dan pulang (darinya), niscaya Allah menyediakan tempat tinggal baginya di Surga setiap kali ia pulang pergi”. (Muttafaq Alaih).

“Siapa yang berwudhu di rumahnya lalu berjalan menuju salah satu rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban (dari) Allah,separuh langkah-langkahnya menghapus dosa-dosa dan yang lain meninggikan derajat.” (HR. Muslim).

“Berilah kabar gembira kepada pejalan kaki di kegelapan ke masjid-masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Shahihul Jami’, 2823).

Masih banyak hadits-hadits lain. Namun cukuplah hadits-hadits yang saya kemukakan ini sebagai bahan renungan yang melahirkan tekad untuk beramal. Semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan kemudahan kepada kita semua. Amin.

Iklan

3 tanggapan untuk “AYO SHALAT BERJAMA’AH!

  1. Shalat berjamaah jelas-jelas mengandung banyak keutamaan, selain sebagai sarana untuk mengingat Allah; nyambung terus dengan Allah, juga sebagai sarana pemeliharaan soliditas kaum muslimin.

  2. Banyak sekali hadits Nabi yang menyebutkan tentang pahala besar yang disediakan Allah ta’ala bagi mereka yang berjalan menuju masjid untuk shalat berjamaah, diantaranya adalah:

    Siapa yang pergi menuju masjid dan pulang (darinya), niscaya Allah menyediakan tempat tinggal baginya di Surga setiap kali ia pulang pergi”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s