Diposkan pada Fiqih

Kenapa Ada Fatwa Haram Mendukung Palestina?

hamas-rally-ap1Berikut saya lampirkan tanya jawab di warnaislam.com tentang masalah Palestina.

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Beberapa waktu lalu saya membaca berita mengenai fatwa seorang ulama salafi dari saudi yg diantaranya mengharamkan demo untuk mendukung perjuangan rakyat palestina terhadap kekejaman zionis Israel.

Beliau menganggap penderitaan yg dialami rakyat palestina merupakan akibat dari “kebodohan” nya sendiri karena telah berani menentang Israel. Saya sebagai orang awam sungguh tidak dapat  memahami apa yg disampaikan oleh ulama tersebut,

Bagaimana mungkin pemahaman yang katanya berlandaskan Qur’an dan sunah sebagaimana pemahaman para salaf justru terkesan menjegal perjuangan saudara seiman terhadap kezaliman kaum kufar, mohon pencerahannya ustadz

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

hari setyawan

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Rasulullah SAW 1400-an tahun yang lalu pernah bersabda bahwa perang merupakan tipu daya. Banyak cara bisa dilakukan untuk sebuah peperangan. Bukan terbatas pada menembak dan mengayunkan pedang saja.

Diplomasi, demontrasi, negosiasi, embargo, dan bentuk-bentuk penekanan lainnya juga merupakan bagian dari taktik dan siasat perang yang ampuh. Bahkan kadang lebih ampuh dari ayunan pedang di medan laga.

Para penjajah barat (imperialis) sejak dulu punya satu jurus yang ampuh dalam menjajah negeri muslim, yaitu lewat pendekatan kepada para tokoh agama. Inggris, Belanda, Italia dan para penjajah lain sangat piawai memainkan kartu truf yang satu ini.

Para penjajah itu tahu persis bahwa kekuatan umat Islam dalam berjihad melawan penjajah adalah fatwa dan seruan para ulama. Kalau ulamanya sudah bisa didekati apalagi dipengaruhi, sehingga bisa diajak berkompromi, tentu akan sangat menguntungkan penjajah. Karena fatwa ulama yang ternodai para penjajah itu akan dapat meredam banyak perjuangan dan jihad umat.

Maka mereka pun melakukan berbagai cara agar dapat mendekati kalangan ulama ini. Apapun caranya, bagaimana pun tekniknya, pendeknya upaya mengotak-atik titik lemah ini, pokoknya aturlah biar para ulama bisa berfatwa yang mengharamkan jihad.

Di zaman Belanda, Aceh tidak akan jatuh seandainya tidak ada tokoh semacam Dr. Snouck Hurgrnje yang dengan lihatnya mempengaruhi para ulama Aceh untuk mengeluarkan fatwa agar jihad melawan Belanda segera disudahi.

Di India, pemerintah Inggris menari-nari kegirangan saat Mirza ghulam Ahmad semakin besar pengaruhnya dalam meredam jihad kaum muslimin melawan penjajah.

1. Dr. Snouck Hurgronje

Sosok Snouck lahir pada 8 Februari 1857 di Tholen, Oosterhout, Belanda. Bagi Belanda, dia adalah pahlawan yang berhasil memetakan struktur perlawanan rakyat Aceh. Bagi kaum orientalis, dia sarjana yang berhasil.

Tapi bagi rakyat Aceh, dia adalah pengkhianat tanpa tanding. Selain tugas memata-matai Aceh, Snouck juga terlibat sebagai peletak dasar segala kebijakan kolonial Belanda menyangkut kepentingan umat Islam.

Atas sarannya, Belanda mencoba memikat ulama untuk tak menentang dengan melibatkan massa. Tak heran, setelah Aceh, Snouck pun memberi masukan bagaimana menguasai beberapa bagian Jawa dengan memanjakan ulama.

Hal yang disampaikan kepada pemerintah Belanda, adalah mengusahakan pemisahan Islam dan politik di negeri jajahan. Para jamaah haji diawasi, karena berpotensi membawa ide pan-Islamisme ke Aceh. Ini bertentangan dengan kepentingan Belanda.

Snouck mendekati ulama untuk bisa memberi fatwa agama. Tapi fatwa-fatwa itu berdasarkan politik Divide et impera. Demi kepentingan keagamaan, ia berkotbah untuk menjauhkan agama dan politik. Di antara fatwa yang dikeluarkan ulama Aceh saat itu adalah seruan untuk menghentikan perang dan tidak melawan kepada Belanda. Fatwa ini sangat kontroversial tentunya. Tapi disitulah letak kehebatan sekaligus kelicikan seorang Snouck. Dan akhirnya pada 1903, kesultanan Aceh takluk di bawah kaki Belanda.

2. Mirza Ghulam Ahmad

Hubungan Inggris dengan Mirza Ghulam Ahmad memang mesra. Yang paling utama adalah jasanya menyerukan penghapusan jihad saat India dijajah Inggris.

Hasan bin Mahmud Audah, mantan direktur umum Seksi Bahasa Arab Jemaat Ahmadiyah Pusat di London, menilai hubungan MGA dan Inggris tak ubahnya hubungan seorang pelayan kepada majikannya. Bukan semata hubungan terima kasih seorang Muslim pada orang yang berjasa padanya.

Di Ruhani Khazain hlm 36, MGA menyatakan: ”Tidak samar lagi, atas pemerintah yang diberkahi ini (Britania), saya termasuk dari pelayannya, para penasihatnya, dan para pendoa bagi kebaikannya dari dahulu, dan di setiap waktu aku datang kepadanya dengan hati yang tulus.

Pengabdian pada Inggris itu sudah dilakukan leluhur Mirza sejak tahun 1830-an. Saat itu, India yang masih dikuasai Muslim, menghadapi dua kekuatan: Inggris dan kaum Sikh. Dalam perang sabil menghadapi kedua kekuatan itu, keluarga Mirza memihak kaum Sikh dan Inggris.

Keuntungan yang utama bagi Inggris karena munculnya Almasih dan Imam Mahdi itu adalah timbulnya perpecahan di kalangan ummat Islam yang tidak bisa dielakkan lagi. Dan kemudian penjajahan Inggris atas India dapat berlangsung dengan kekal.

Apakah Ulama Salafi Sama Dengan Kasus Snouck dan Mirza

Mungkin anda akhirnya akan bertanya, apakah ulama di kalangan salafi dalam hal berfatwa untuk tidak memerangi Israel, bisa kita samakan dengan kasus ulama Aceh yang dikooptasi Dr. Snouck Hugornje? Atau bisakah disamakan dengan prilaku Mirza Ghulam Ahmad?

Jawabannya tergantung dari konteksnya. Mereka bisa saja kita sejajarkan dengan para ulama Aceh di zaman Dr. Snouck  Hurgronje, yang dengan lugunya ditipu mentah-mentah oleh tokoh kafir satu ini. Semangat perjuangan mengusir Belanda jadi rontok satu per satu akibat dijatuhkan mental para mujahidnya lewat mulut para ulama sendiri.

Kita mungkin tidak perlu menyalahkan para ulama itu. Sebab al-ghazwul fikri yang digunakan Belanda sangat besar pengaruhnya. Snouck Hurgronje sendiri memang sangat piawai dalam menyamar menjadi tokoh muslim.

Dengan kemapuannya membolak-balik dalil, akibatnya fatwa anti jihad yang disarankannya sangat kuat pengaruhnya dan begitu mengganggu pikiran para ulama saat itu. Akibatnya sikap para ulama jadi mendua, tidak bulat suaranya. Cukup itu saja sudah dapat memporak-porankana kekuatan batin para pejuang Aceh.

Tapi pada akhirnya modus menjatuhkan mental para mujahidin lewat seruan ulama yang mudah dipengaruhi adalah lagu lama. Selalu terjadi dimana-mana. Dan tentunya menimbulkan kontroversi tersendiri di dalam tubuh umat Islam. Setidaknya, suara dan kekuatan umat Islam tidak lagi bulat, tapi terpecah yang kemudian pada gilirannya membuat kekuatan umat semakin berkurang.

Saran Dalam Mengikuti Fatwa

Dalam mendengarkan fatwa ulama, tidak ada salahnya kalau kita tidak hanya mendengar dari satu pihak saja. Sebab tiap ulama pasti ada keterbatasannya. Dan tiap ulama pasti punya bidang yang sangat dikuasainya, serta ada banyak bidang-bidang yang tidak dikuasainya secara tepat. Akibatnya, bisa saja terjadi bias.

Contoh sederhana, ada ulama di abad 21 ini yang masih saja memfatwakan bahwa bumi itu tidak bulat, serta pusat tatasurya bukan matahari. Hebatnya, dia menggunakan dalil-dalil dari ayat Quran yang diyakininya sebagai kebenaran mutlak.

Tentu kita tidak bisa terima begitu saja fatwa seperti ini, meski yang bicara seorang ulama besar yang kharismatik. Mengapa? Apakah tidak cukup hujjahnya dengan ayat Quran?

Bukan begitu, tapi kita harus lihat duduk masalahnya. Secara empirik, bahwa bumi bulat itu sudah terbukti. Adanya ribuan satelit yang mengorbit bumi saat ini, jelas sekali berdasarkan kenyataan bahwa bumi itu bulat. Kalau bumi itu rata, kita tidak butuh satelit yang banyak untuk mengkover wilayah yang berjauhan.

Foto bumi yang bulat hasil jepretan para astronot di luar angkasa, meski kebanyak mereka bukan muslim, tetapi kita tidak bisa menolak kenyataan bahwa bumi itu bulat, bukan rata seperti meja.

Lalu bagaimana dengan ayat-ayat Quran yang kebenarannya mutlak?

Ya, tidak ada yang salah dengan ayat-ayat Quran itu. Semuanya 100 % benar dan tidak ada yang salah. Yang salah adalah cara ulama itu memahami ayat yang mutashabihat. Lha wong di Quran tidak ada kok ayat yang bilang bumi itu rata seperti meja, juga tidak ada ayat yang bilang bahwa bumi adalah pusat tatasurya.

Lalu kok ulama itu bisa bilang begitu?

Ya, itu hasil nalar dan keterbatasan wawasan di ulama itu saja. Mohon maaf, tanpa harus mengecilkan atau merendahkan beliau, tetapi kita harus akui bahwa beliau bukan ahli di bidang astronomi. Jadi kalau beliau berfatwa di bidang astronomi, sehaursnya beliau belajar sedikit-sedikit dulu tentang masalah itu. Agar fatwanya tidak salah tempat. Dan akibatnya, umat juga yang dibikin bingung.

Maka fatwa untuk menghentikan perlawanan kepada Israel, sebenarnya juga termasuk jenis fatwa yang agak salah alamat. Sebab seharusnya para ulama salafi itu harus tinggal dulu di Gaza untuk merasakan langsung bagaimana rasanya dijajah oleh Israel.

Fatwa yang bernada anti perjuangan membela bangsa Palestina ternyata tidak pernah terdengar dari para ulama Palestina sendiri. Fatwa itu keluar dari ulama yang tidak tinggal di Palestina, tapi tinggal ribuan mil dari wilayah penjajahan. Mereka tidak merasakan bagaimana hidup di bawah penjajahan. Jadi kalau mereka memandang bahwa jihad melawan Israel sebagai sebuah kesalahan, kita bisa bayangkan mirip fatwa yang mengatakan bahwa bumi itu rata seperti meja dan bumi adalah pusat tata surya.

Fatwa untuk tidak melawan yahudi dan menghentikan perlawanan semacam ini tentu sangat ironis, dan tentunya sangat mengusik rasa kemanusiaan kita. saat yahudi zionis tiap hari mengebom secara membabi buta, kok kita malah disuruh diam saja menyerahkan nyawa tanpa perlawanan apapun.

Lalu kemana hati nurani kita, jangankan sebagai muslim. Sebagai non muslim pun, seharusnya seseorang akan tidak bisa menerima logika aneh macam ini.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s