Diposkan pada Kabar

Gaza: Masyarakat Religius Baru


Palestina

“Kami tidak ingin ada perang. Kami ingin berdamai dengan siapapun. Tapi jika tanah kami dijajah dan orang tua kami dibunuh, kami akan melawan dengan atau tanpa Hamas”

Ungkapan lugas diatas bukanlah pernyataan tokoh Hamas atau ungkapan seorang politikus. Bukan pula ungkapan Mahasiswa Universitas Islam Gaza. Kalimat di atas adalah ungkapan ‘bersih’ dari seorang anak perempuan penduduk Gaza bernama Fatima Atlas (13).

Kata-kata ini jelas mengungkap banyak hal tentang karakter unik penduduk Gaza Palestina. Kalimat berani ini menjadi bukti bahwa ideologi Islam dan perlawan begitu mengakar disana. Diakui atau tidak Hamas memang telah berhasil membina masyarakatnya dengan baik. Sehingga menjadi masyarakat yang lebih islami dibandingkan sebelumnya.

Saat Hamas belum menguasai Gaza secara penuh (Juni 2007) masyarakat dilanda kekacauan sosial. Mereka hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Peredaran narkoba, minuman keras, dan prostitusi merasuk dalam kehidupan generasi muda. Selain itu data statistik sebuah Organisasi Independen menyebutkan bahwa pada tahun 2007 dalam satu bulan rata-rata 54 orang tewas diakibatkan perselisihan keluarga, pencurian, dan sebab-sebab lainnya. Namun kekacauan ini segera dibenahi Hamas. Mereka melakukan perubahan besar-besaran.

“Insya Allah, selama Hamas memegang pemerintahan disini, Anda tidak akan menemukan pencurian, perampokan, dan penculikan seperti pernah terjadi di pemerintahan sebelum kami. Ketenangan dan keamanan yang kami rasakan juga akan Anda rasakan,” demikian kata Abdullatif Al-Qanu’a Jubir Hamas Jabalia kepada Tim Dompet Dhuafa (DD) Republika.

Apa yang diutarakan Abdullatif menurut Tim DD memang bukan isapan jempol. Selama 9 hari di Gaza, DD telah mengelilingi hampir seluruh wilayah Gaza. Tinggal bersama penduduk dan merasakan denyut jantung kehidupan masyarakat Gaza. Saat ini kehidupan di Gaza amat relijius. Ajaran Islam benar-benar dijalankan. Masjid menjadi pusat pendidikan agama. Anak-anak dan orang dewasa meninggalkan aktivitas tiap panggilan adzan menggema. Masjid-masjid yang kebanyakan menaranya jebol oleh roket Israel dipadati jama’ah tiap shalat lima waktu.

Kehidupan di Gaza kata Tim DD memang misteri. Bagaimana mungkin area sempit seluas 365 kilometer persegi yang usai diluluhlantakkan secara besar-besaran oleh kekuatan militer super canggih, dapat bangkit lebih cepat. Jantung Gaza City, tetap macet di pagi hari. Tidak ada kendaraan mogok karena ketiadaan bensin. Perputaran mata uang Shekel—mata uang Israel—juga masih tinggi. Fungsi pemerintahan berjalan normal, meski gedung-gedung pemerintahan banyak yang hancur oleh rudal.

Warga yang menjadi korban begitu tegar. Perhatikanlah bagaimana begitu sabarnya Ahmad Khodir (70) petani di Bayt Lahia. Kakek dengan 20 cucu ini kehilangan rumahnya karena terkena bom fospor, kaki kanannya tertembak, sementara tabungannya sebanyak US $ 100.000 dirampas serdadu Israel. Tapi menghadapi itu semua dengan tegarnya ia berkata,

“Kami seperti lupa kalau kami habis perang. Semua pulih begitu cepat dan kami dapat bersatu menghadapinya. Kami masih punya Allah.”

Al-Muhtar Muhammad Abdul Karim (64) seorang peternak di Syarik Jabalia Al-Balad tetap terkekeh saat menceritakan F-16 Israel menembaki ternaknya dan tank-tank menghancurkan pertaniannya. Ia mengalami kerugian lebih dari US $ 500.000.

“Apa yang kami bangun habis tanpa sisa. Ternak kami semua mati. Tapi kami tidak takut mati, kami akan tetap disini di tanah kami. Yahudi tidak akan mampu mengusir kami karena Allah lah penolong kami.”

Hamas begitu dekat di hati masyarakat. Mereka begitu populer dan diidolakan masyarakat. Paling tidak ini tercermin dari kenyataan bahwa delapan dari 10 anak laki-laki di Gaza bercita-cita jadi mujahidin Al-Qasam (sayap militer Hamas). Sementara anak-anak perempuan ingin menjadi dokter. Alasannya jika Israel menyerang Gaza mereka dapat mengobati luka para mujahidin (lihat rubrik deras Republika edisi 13 Feb 2009 hal. 9)

Fenomena ini menyadarkan kita, kini telah hadir masyarakat baru yang begitu religius dengan segala makna yang terkandung di dalamnya. Adakah ini menjadi inspirasi bagi kita?

(Diolah dari artikel di rubrik deras Republika edisi 13 Feb 2009 hal. 9)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s