Diposkan pada Dakwah, Siyasah

Konsep Kepemimpinan Nasional

indonesia_by_pistonbrokeOleh: Ahmad Sarwat, Lc.

http://www.warnaislam.com – Impian kita bersama adalah berdirinya sebuah masyarakat Islam yang menegakkan dinullah dan syariah-Nya di muka bumi. Umat Islam, baik para pendukung demokrasi dan para penetangnya, sama-sama sepakat dengan cita-cita ini. Mereka hanya berbeda jalan.

Demikian juga dengan mereka yang mau berjuang inside atau outside, kedua belah pihak sama-sama mencita-citakan tegaknya syariah Islam di negeri tercinta ini. Tinggal pilihan langkahnya yang berbeda.

Semua perbedaan itu akan selesai kalau kita berhasil melahirkan generasi bangsa ini yang beriman dan lebih islami. Karena apa pun caranya, sudah pasti berhasil. Mau perjuangan lewat demokrasi (berpartai dan berparlemen), atau mendirikan lagi negara Islam (kudeta, revolusi, reformasi dan sejenisnya), sama saja. Asalkan jumlah kader generasi generasi mendatang mencukupi, lewat proses tarbiyah secara islamiĀ  yang profesional dan kontiniu.

Kalau kita bisa melakukan pengkaderan umat ini secara lebih produktif, mengisi ruang-ruang kosong yang banyak ditinggalkan para pemimpinnya, merengsek ke seluruh pelosok nusantara, menembus sekat-sekat antara kelompok, golongan, jamaah, ormas dan lainnya, kita akan menghasilkan satu lapis generasi yang lebih baik, sesuai dengan cita-cita bersama itu.

Mungkin anak-anak kita nanti akan lahir dengan kondisi iman yang lebih mantap, wawasan syariah yang lebih luas dan mendalam, akhlak yang lebih terjaga, stantar moral yang lebih bersih, serta semangat ukhuwah dan bekerja sama yang jauh lebih implementatif.

Boleh jadi saat itu nanti, mereka tidak butuh partai politik, tidak butuh perseteruan antar kepentingan secara internal di dalam partai, tidak butuh saling gesek, saling gasak, saling gosok sesama partai, bahkan tidak butuh pemilu atau pilkada.

Kenapa?

Karena tingkat kesadaran dan wawasan mereka sudah berbeda dengan apa ada pada kita sekarang ini. Boleh jadi mereka sudah berpikir jauh lebih efisien, tidak perlu pemilu yang menghabiskan begitu banyak energi dan waktu. Cukup disepakati saja siapa yang layak jadi pimpinan dan ditetapkan oleh majelis syuro, sebagaimana yang terjadi di masa khilafah rasyidah.

Lalu satu orang dibai’at menjadi amirul mukminin, yaitu orang yang paling tinggi imannya, paling paham atas agamanya, paling wara’, paling tidak suka kemewahan duniawi, paling anti dengan kemunkaran dan paling suka dengan kebaikan.

Orang-orang yang akan kita lahirkan itu mirip-mirip dengan Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, ridhwanullahi ‘alaihim. Setidaknya punya keceerdasan seperti Umar bin Abdul-Aziz, atau punya standar moral seperti Said bin Amir ra.

Tapi generasi seperti mereka itu tidak akan lahir begitu saja, tidak akan turun dari langit, tidak seperti konsep ratu adil, satria piningit, dan sejenisnya. Tidak dan 1000 tidak.

Pemimpin yang seperti itu harus diproduksi, dipersiapkan, dilahirkan, ditarbiyah, dikader dan dirangcang untuk jangka waktu yang lama. Pastikan bahwa tidak ada seorang anak pun di Indonesia ini yang tidak diikutkan dalam proses pengkaderan. Pastikan mereka akan melewati masa pengkaderan yang terbaik selama 20-30 tahun. Itu artinya kita harus habis-habisan dalam bidang pendidikan.

Selama ini kebobrokan sistem pendidikan kita adalah biang keladi dari semua kerumitan dan kebobrokan bangsa. Mereka menjalani sistem pendidikan sekuler, yang tidak dikenalkan dengan tuhan, tidak dikenalkan dengan moral, apalagi ilmu pengetahuan.

Percayalah bahwa umat ini tidak akan menjadi baik hanya dengan melakukan pemilu. Berkali-kali ikut pemilu, partai Islam belum pernah menang dalam sejarah di Indonesia. Bukan untuk menggembosi semangat berpartai saudara-saudara kita, tetapi itu adalah angka sejarah yang tidak bisa ditutup-tutupi.

Tetapi di lain pihak, umat ini juga tidak akan menjadi baik hanya dengan berdebat apakah kita pakai sistem demokrasi atau tidak. Umat tidak akan baik kalau kerjaan kita hanya mengkritik sesama saudara muslim yang sudah bersusah payah memperjuangkan dakwah lewat cara mereka.

Umat baru akan mengalami perbaikan manakala kita melepas semua sekat-sekat yang terlanjur mengkotak-kotakkan kita. Umat baru akan mengalami perbaikan manakala kita bisa menyatukan seluruh aspirasi dalam satu program dan agenda besar bersama, yaitu menyiapkan generasi berikutnya. Tentu hasilnya tidak akan bisa kita nikmati hari ini juga. Setidaknya kita butuh 20-30 tahun untuk menyiapkan generasi ini, bahkan boleh jadi lebih.

Tapi seberat apa pun pekerjaan kita, kalau kita kerjakan bersama-sama dengan semua lapisan umat, tanpa membedakan ormas, partai, kelompok, golongan, mazhab, pengajian, dan sekat-sekat lainnya, insya Allah pekerjaan kita menjadi ringan. Dan akan jauh lebih ringan kalau tujuan kita tidak tersamarkan dengan tujuan duniawi lainnya. Setidaknya, bukan untuk memajukan satu kelompok saja, tetapi untuk kemajuan semua kelompok secara bersama-sama.

Umat merindukan persatuan dan keseragamaan arah kebijakan program dan agenda nasional seperti itu. Sebuah agenda nasional umat Islam yang didukung oleh semua lapisan dan unsur. Tujuannya sederhana, melahirkan generasi umat Islam terbaik yang menjadi cita-cita dan harapan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s