Diposkan pada Opini

Hidayat Nur Wahid, Wahabi, dan Prosedur Mencerna Informasi

hnwOleh: Akmal Sjafril, ST. (www.warnaislam.com)

Buya Hamka dulu pernah berkata, bahwa dirinya merasa bagaikan kue Bika (khas Sumatera Barat, bukan Bika Ambon seperti yang di Medan); dipanggang dari atas dan bawah. Rupa-rupanya analogi ini juga berlaku bagi banyak ulama penerusnya. Fitnah memang bisa datang dari segala arah, terutama dari orang-orang yang tidak puas dengan sikap kita (padahal, memuaskan semua orang tidaklah mungkin). Tapi apa memang ketidakpuasan harus disalurkan dengan fitnah?

Ust. Hidayat Nur Wahid, dan PKS secara umum, kini berada dalam posisi seperti kue Bika itu. Satu pihak menyebut PKS sebagai kekuatan Islam fundamentalis, sementara yang lain mengatakan bahwa PKS sudah terlalu ‘warna-warni’ sehingga warna Islamnya sudah tidak kentara lagi. Arbania Fitriani bilang bahwa PKS hendak melakukan arabisasi, sedangkan yang lain ada pula berpendapat bahwa PKS sudah bukan partai dakwah lagi. Yang satu menyebut PKS Wahabi, yang lain mengatakan PKS anti-maulid.

Ust. Hidayat dan isu Wahabi hanya sebuah contoh kasus betapa umat ini begitu gagap dalam era kebebasan informasi, sehingga kehilangan pegangan dalam menyikapi setiap berita yang sampai kepadanya. Beginilah berita yang menghebohkan soal ust. Hidayat dan isu Wahabi yang saya maksud :

Link : http://pemilu.detiknews.com/read/2009/04/29/132930/1123240/700/hidayat-saya-dan-pks-bukan-wahabi

Mantan Presiden PKS Hidayat Nurwahid membantah isu yang menyebutkan PKS dan dirinya adalah bagian dari Gerakan Wahabi. Isu yang memojokkan itu digunakan agar umat Islam tidak memilih PKS.

“Saya dan PKS bukan Wahabi,” ujar Hidayat usai melantik anggota MPR Pengganti Antar Waktu (PAW) di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (29/4/2009).

Pria yang menjabat Ketua MPR ini mengatakan, sangatlah tidak logis jika dirinya dicap sebagai antek Wahabi. “Saya pendiri partai politik dan mantan ketum partai. Dari situ saja isu itu fitnah yang mengada-ada,” sambungnya.

Gerakan Wahabi adalah gerakan yang berkembang di Timur Tengah. Gerakan ini salah satu ciri khasnya adalah membid’ah kan dan mengharamkan partai politik.

Hidayat mengatakan dirinya tidak tahu pihak mana yang sengaja menghembuskan isu yang memojokkan PKS itu. Namun ia merasa perlu meluruskannya agar isu tersebut tidak menimbulkan pemahaman yang keliru dan menimbulkan persaingan tidak sehat dalam Pilpres mendatang, dan masyarakat tidak mengambil keputusan hanya karena fitnah dan distorsi informasi.

“Tidak elok persaingan menuju RI 1 dan RI 2 dilakukan dengan cara yang tidak elegan dan menfitnah seperti ini,” pungkasnya.

Berdasarkan artikel singkat di atas, yang berasal dari sebuah situs berita yang mengutamakan kecepatan, banyak orang bersegera mempertontonkan kelihaiannya sebagai ‘mufassir gadungan’. Seperti sebagian kaum evolusionis yang bisa menebak gaya hidup manusia purba dengan berbekal 1-2 potong tulang saja, para penafsir ini pun punya 1001 plot khayali yang bisa dikemukakan dengan bekal kutipan beberapa kalimat saja.

Artikel tersebut sebenarnya hanya memuat tiga kutipan komentar dari ust. Hidayat mengenai isu yang mengatakan bahwa dirinya adalah seorang penganut aliran Wahabi. Pada kutipan pertama, ust. Hidayat secara singkat mengatakan bahwa isu tersebut adalah fitnah. Pada kutipan kedua, beliau menjelaskan perbedaan tajam antara dirinya dan penganut aliran Wahabi. Terakhir, pada kutipan ketiga, beliau menghimbau agar persaingan politik hendaknya tidak perlu dilakukan dengan cara-cara yang kotor, misalnya dengan memfitnah orang lain.

Sebenarnya jawaban-jawaban ust. Hidayat sudah cukup jelas, efektif, dan ilmiah. Ketika dikonfirmasi mengenai berita bahwa beliau adalah pengikut Wahabi, beliau menjawab bahwa berita itu tidak benar; hanya fitnah belaka. Ini adalah jawaban konkret. Sekiranya masih kurang, dilengkapilah dengan jawaban yang memenuhi standar keilmiahan, yaitu dengan menunjukkan perbedaan yang tajam antara dirinya dengan aliran Wahabi. Jika aliran Wahabi menganggap politik sebagai kegiatan bid’ah dan mengharamkan partai politik, maka dirinya tidaklah demikian. Argumen ini sudah cukup untuk menolak fitnah yang ditujukan padanya. Untuk membedakan antara kucing dan tikus tidak perlu merunut satu persatu ciri-cirinya, cukup dengan melihat beberapa ciri khas dari kedua hewan tersebut. Misalnya, kucing mengeong. Jika tidak mengeong, maka pastilah bukan kucing. Pada titik ini, isu Wahabi secara ilmiah terjawab sudah.

Salah satu nilai yang selalu dibawa oleh ajaran demokrasi adalah kebebasan untuk berbicara dan berpendapat. Ditambah dengan era globalisasi yang ditingkahi dengan bertebarannya informasi di dunia maya sekarang ini, maka lengkaplah sudah segala yang dibutuhkan untuk menciptakan kekacauan. Ironisnya, seringkali mereka yang menolak demokrasi justru terseret dalam arus kebebasan untuk berbicara dan berpendapat.

Kebebasan adalah sebuah konsep yang sangat bermasalah. Jika dikatakan bebas untuk bicara, maka memaki-maki orang pun harus diperbolehkan. Jika disebut bebas berpendapat, maka seolah-olah siapa pun boleh menyatakan pendapatnya tanpa mengindahkan kaidah pengambilan kesimpulan yang ilmiah.

Mari kita kembali pada jawaban-jawaban ust. Hidayat terhadap isu Wahabi. Sejauh ini kita telah melihat betapa jawaban-jawaban yang diberikan sebenarnya telah secara efektif menjawab isu yang beredar. Namun karena setiap orang (merasa) bebas berpendapat, ditambah dengan ashabiyah yang memanas-manasi orang untuk selalu mencela mereka yang berbeda pendapat dengannya, maka muncullah penafsiran-penafsiran yang memalukan; memalukan, karena tidak ada sandaran ilmiahnya barang sedikit pun.

Ada yang berkomentar, “Kok sedemikian takutnya dibilang Wahabi? Memangnya Wahabi itu salah apa? Hidayat Nur Wahid berlebihan sekali!” Sebenarnya, komentar inilah yang terlalu berlebihan. Jika ust. Hidayat menolak disebut Wahabi, itu bukan berarti beliau takut disebut Wahabi, namun karena beliau memang bukan Wahabi. Adakah kader HTI yang mau disebut sebagai kader PKS? Atau kader Muhammadiyah yang dibilang sebagai pengurus NU? Atau mahasiswa disebut sebagai siswa SMA? Tentu tidak ada yang mau diberi identitas yang sama sekali bukan miliknya.

Ada juga yang bilang bahwa ust. Hidayat telah bersikap ekstrem, seolah-olah Wahabi adalah gerakan jahat, sehingga beliau bersikap seolah kebakaran jenggot menanggapi isu tersebut. Isu ini pun jauh dari cerdas. Istilah ‘kebakaran jenggot’ hanya digunakan untuk orang yang bersikap panik, gelisah, bahkan tindakannya nyaris tidak terkendali karena suatu sebab. Namun ust. Hidayat menjawab pertanyaan dengan lugas, bahkan memberi jawaban yang secara ilmiah dapat langsung menolak isu yang disandingkan pada dirinya. Kita tidak melihat beliau mencak-mencak atau marah-marah dalam menanggapi isu tersebut. Karena itu, kesimpulan bahwa beliau ‘kebakaran jenggot’ itulah yang mengada-ada.

Sikap sebagian umat Islam terhadap berita yang beredar bagaikan langit dan bumi dengan sikap para ulama dahulu. Para ulama salaf, jika mendengar sebuah berita, maka mereka akan menjadikan pribadi sang pembawa berita sebagai salah satu ukuran terpentingnya. Ukurannya adalah keterpercayaan dan kekuatan hapalan.

Ust. Ali Mustafa Ya’qub, dalam bukunya yang diberi judul Kritik Hadis, menjelaskan bahwa kritik matan hadits sebenarnya sudah dilakukan oleh para sahabat sejak dahulu. Alkisah, ‘Umar ibn al-Khattab ra. mendengar berita bahwa Rasulullah saw. telah menceraikan istri-istrinya. Mendengar kabar itu (yang didengarnya dari seorang sahabat yang lain), beliau segera mendatangi Rasulullah saw. untuk mengkonfirmasi berita. Sudah barang tentu ‘Umar ra. merasa heran dengan sikap Rasulullah saw., jika berita yang didengarnya itu benar. Itulah sebabnya beliau merasa perlu melakukan konfirmasi.

Kasus isu Wahabi yang menimpa ust. Hidayat, terutama seputar artikel yang dibahas di atas, seharusnya disikapi dengan cara yang sama. Dari sekian banyak yang membaca berita itu, hampir bisa dipastikan semuanya mengenali siapa ust. Hidayat Nur Wahid itu, dan sebaliknya, hampir semuanya tidak mengenali siapa wartawan yang mengutip kata-katanya. Ironisnya, tokoh yang kita kenal dengan baik justru langsung kita campakkan kredibilitasnya hanya berdasarkan berita dari tokoh lain yang sama sekali tidak kita kenal. Ini sudah terlalu jauh dari kaidah ilmiah versi mana pun.

Banyak orang berkomentar seolah-olah mereka tak pernah mengenal siapa ust. Hidayat sebenarnya. Gayanya yang lembut, santun, mudah akrab dengan siapa saja, dan pola pikirnya yang moderat menjadikan semua tuduhan ekstrem terhadap diri beliau hanya menjadi bahan tertawaan saja. Tidak masuk akal menuduh beliau sebagai pembenci Wahabi, karena kita belum pernah melihat beliau bersikap benci pada siapa pun, kecuali barangkali Zionisme dan semacamnya. Tidak masuk akal jika seorang ikhwah tarbiyah yang begitu senior memiliki pandangan yang begitu radikal terhadap aliran Wahabi (yang sudah barang tentu merupakan saudara seimannya juga), sementara ulama mereka yang sangat terkemuka, yaitu Syaikh Yusuf al-Qaradhawi, melarang sama sekali sikap radikal dalam beragama, sebagaimana yang dijelaskannya secara panjang lebar dalam bukunya yang beredar di Indonesia dengan judul Islam Radikal.

Pada akhirnya, yang menyebarluaskan isu Wahabi, juga mereka yang memperkeruh suasana dengan penafsiran-penafsiran liar terhadap pribadi ust. Hidayat, tidak akan berhasil melakukan apa pun selain hanya menjatuhkan harga dirinya sendiri. Betapa rendahnya manusia yang melecehkan akalnya sendiri dengan membuat penafsiran-penafsiran yang jauh dari ilmiah.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Hidayat Nur Wahid, Wahabi, dan Prosedur Mencerna Informasi

  1. Jelas aja orang banyak yg ngak benar agamanya dan pemahamannya sehingga bagi mereka semuanya hanya berdasar kepentingan. Kalau masalah simpati kemaren mereka bilang PKS sudah terlalu cair sama dengan partai lain. Sekrang dibilang Islam keras wahabi. Ngak benar. Pantas aja indonesia kayak gini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s