Diposkan pada Aqidah

Muhammad adalah Nabi dan Utusan Allah Terakhir

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Mukadimah

Gonjang-ganjing perkara Ahmadiyah telah menyita perhatian masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam. Ahmadiyah terpecah menjadi dua kelompok yakni Ahmadiyah Qadiyani dan Lahore. Ahmadiyah Qadiyani inilah yang mendaulat pendiri sekaligus Imam pertama mereka, Mirza Ghulam Ahmad al Kadzdzab, sebagai nabi setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sedangkan Ahmadiyah Lahore tidak menganggapnya sebagai nabi, hanya sebagai pembaharu dan imam mahdi. Namun, kitab suci mereka sama, yakni at Tadzkirah, yaitu campuran antara Al Quran dengan ucapan Mirza Ghulam Ahmad al Kadzdzab.

Sebenarnya, sejak awal keberadaannya (kurang lebih dua abad yang lalu), para ulama Islam telah membantah pemikiran mereka yang batil. Baik dari Ahlus Sunnah atau Syi’ah pun telah mengcounter aqidah mereka. Namun, karena dukungan penjajah Inggris saat itu, akhirnya keberadaan mereka bisa eksis sampai hari ini, termasuk di negeri nusantara.

Mirza Ghulam Ahmad al Kadzdzab bukanlah yang pertama, bukan pula yang terakhir. Ketika masa-masa akhir  kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah ada nabi palsu bernama Musailimah al Kadzdzab di Yamamah, yang baru sempat diperangi pada masa khalifah Abu Bakar ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu dalam perang besar di Yamamah. Masih pada akhir zaman Rasulullah juga, ada nabi palsu bernama Al Aswad Al ‘Ansi di Yaman lalu dibunuh oleh para sahabat sebelum wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu  pada masa kekhalifahan Abu Bakar ada Thulaihah bin Khuwalid dari bani Asad bin Khuzaimah, akhirnya tobat dan dia mati dalam keadaan Islam yang baik. Begitu pula Sijah at Tamimiyah dari Bani at Tamimi yang dinikahi oleh Musailimah, dia pun mengaku nabi, namun bertobat setelah matinya Musailamah al Kadzdzab. Ada pula Al Mukhtar bin Abi Ubaid ats Tsaqafi, ia menampakkan cintanya kepada Ahlul Bait serta menuntut darah Husein, yang berhasil mendominasi Kufah pada awal pemerintahan Ibnu Zubeir. Kemudian dia diperdaya syetan dan mengaku menjadi nabi dan menyangka Jibril mendatanginya. Ya’qub bin Sufyan meriwayatkan dengan sanad hasan, dari Asy Sya’bi bahwa Al Ahnaf bin Qais pernah melihat Al Mukhtar  dengan kitabnya yang menyebut dirinya sebagai nabi. Abu Daud meriwayatkan dalam As Sunan dari Ibrahim an Nakha’i, bahwa beliau bertanya kepada ‘Ubaidah bin Amru, “Apakah Al Mukhtar termasuk mereka (nabi-nabi palsu)?” ‘Ubaidah menjawab: “Dia termasuk pemimpinnya.” Al Mukhtar berhasil dibunuh sekitar tahun enam puluhan (hijriyah). Lalu ada pula Al Harits Al Kadzdzab, nabi palsu pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan, dan juga terbunuh saat itu.   Juga pada masa pemerintahan Al ‘Abbas juga ada para pembohong. (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Kitab Al Manaqib Bab ‘Alamat an Nubuwah fil Islam, Juz. 10, hal. 410, No hadits. 3340)

Demikianlah sekelumit nabi palsu masa-masa klasik, yang jumlahnya sangat banyak, ada pun yang tertulis namanya hanyalah yang terkenal, ada pun selebihnya sangat banyak bahkan tak terhitung. Di Indonesia pun telah ada Lia Aminuddin dan  Ahmad Moshadeq. Sampai saat ini belum menampakkan tobatnya, bahkan Lia Aminuddin (Lia Eden) semakin menjadi-jadi kesesatannya, dia mencampurkan berbagai agama dan keyakinan.

Rasulullah sebagai nabi dan rasul terakhir adalah pasti

Keyakinan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah nabi dan rasul terakhir adalah berdasarkan Al Quran dan As Sunnah, serta ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin sejak dahulu sampai hari ini.

Dalil Al Quran

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab (33): 40)

Ayat ini secara sharih (jelas) menegaskan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah penutup para nabi alias nabi terakhir.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, setelah ia mengutarakan berbagai hadits tentang kedudukan Rasulullah sebagai penutup para nabi, beliau berkata:

وقد أخبر تعالى في كتابه، ورسوله في السنة المتواترة عنه: أنه لا نبي بعده؛ ليعلموا أن كل مَنِ ادعى هذا المقام بعده فهو كذاب أفاك، دجال ضال مضل، ولو تخرق  وشعبذ، وأتى بأنواع السحر والطلاسم والنَيرجيَّات  ، فكلها محال وضلال عند أولي الألباب

“Allah Ta’ala telah mengabarkan melalui KitabNya, begitu pula RasulNya telah menyampaikan secara mutawatir (pasti benar) darinya: bahwa tidak ada nabi setelahnya. Agar manusia mengetahui bahwa setiap manusia yang mengaku memiliki kedudukan sebagai nabi setelah  beliau, maka orang itu adalah pendusta, dajjal yang sesat dan menyesatkan, walau dia memiliki kemampuan di luar kebiasaan dan mampu menipu penglihatan manusia, mendatangkan berbagai sihir dan kekuatan. Semuanya adalah tipuan dan kesesatan di mata Ulil Albab (orang-orang yang berpikir). “ (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz. 6, Hal. 431. Daru  Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’, Cet. 2. 1999M-1420H. Tahqiq: Sami bin Muhammad Salamah. Al Maktabah Asy Syamilah)

Para pengikut agama Ahmadiyah mengartikan Khaataman nabiyyin adalah cincinnya para nabi. Sementara para ulama Islam mengartikannya sebagai penutup para nabi (jika dibaca khaatiman nabiyyin) atau nabi yang terakhir (jika dibaca khaataman nabiyyin sebagai mana teks di atas). Jadi mau dibaca Khaatiman atau Khaataman, maknanya adalah sama yaitu tak ada nabi lagi setelahnya, karena dia sebagai penutup (khaatiman) dan nabi yang terakhir (khaataman).

Hal di atas dijelaskan oleh Imamul Mufassirin, Abu Ja’far bin Jarir ath Thabari, beliau berkata:

واختلفت القراء في قراءة قوله(وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ) فقرأ ذلك قراء الأمصار سوى الحسن وعاصم بكسر التاء من خاتم النبيين، بمعنى: أنه ختم النبيين. ذُكر أن ذلك في قراءة عبد الله(وَلَكِنَّ نَبِيًّا خَتَمَ النَّبيِّينَ) فذلك دليل على صحة قراءة من قرأه بكسر التاء، بمعنى: أنه الذي ختم الأنبياء صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم وعليهم، وقرأ ذلك فيما يذكر الحسن وعاصم(خَاتَمَ النَّبِيِّينَ) بفتح التاء، بمعنى: أنه آخر النبيين

Para Qurra (Ahli Pembaca Al Quran) berbeda pendapat tentang bacaan terhadap  ayat Khaataman nabiyyin. Para Qurra dari Al Amshar (kota besar) kecuali Al Hasan dan ‘Ashim, mereka mengkasrahkan huruf  ta’ menjadi (Khaatim an Nabiyyin) yang bermakna khataman nabiyyin penutup para nabi (huruf kha’ pendek). Disebutkan bahwa itulah cara baca Abdullah bin Mas’ud (walakin nabiyyan khataman nabiyyin – tidak memanjangkan kha’ menjadi  khaataman). Ini adalah dalil atas benarnya pihak yang membaca dengan mengkasrahkan huruf ta’, maknanya: “Bahwa dia adalah penutup para nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wa ‘Alaihim. Adapun yang membaca dengan memfathahkan (Khaatam an Nabiyyin) sebagaimana yang telah disebutkan yakni Al Hasan dan ‘Ashim, maknanya: “Bahwa dia adalah akhir dari nabi – nabi.” (Imam Abu Ja’far bi Jarir ath Thabari, Jami’ al Bayan fii Ta’wil Al Quran, Juz. 20, Hal. 279. Mu’asasah ar Risalah, Cet. 1. 2000M – 1420H. Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Al Qurthubi berkata:

وقرأ الجمهور بكسر التاء بمعنى أنه ختمهم، أي جاء آخرهم.

“Mayoritas membaca dengan mengkasrahkan huruf ta’, bermakna bahwa dia adalah penutup mereka (para nabi) yaitu yang akhir datangnya di antara mereka.” (Imam Al Qurthubi, Jami’ Li Ahkam Al Quran, Juz. 14, Hal. 196. Dar Ihya ats Turats al ‘Araby, Beirut – Libanon. 1985M-1405H. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Abu Muhammad Al Husein bin Mas’ud al Baghawi berkata dalam tafsirnya:

ختم الله به النبوة، وقرأ عاصم: “خاتم” بفتح التاء على الاسم، أي: آخرهم، وقرأ الآخرون بكسر التاء على الفاعل، لأنه ختم به النبيين فهو خاتمهم.

 

“Dengannya Allah telah menutup kenabian. ‘Ashim membacanya ‘Khaatam dengan fathah pada huruf ta’menjadi isim, yakni, “Akhirnya mereka (nabi-nabi).”  Sedangkan yang lain membaca dengan mengkasrahkan ta’ menjadi faa’il, karena dengannyalah menutup para nabi, dan dia penutup mereka.” (Imam al Baghawi, Ma’alimut Tanzil, Juz. 6 Hal. 358. Dar Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’, Cet. 4, 1997M-1417H. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Ibrahim bin ‘Umar asy Syihi biasa disebut Al Khazin berkata dalam tafsirnya:

ختم الله به النبوة فلا نبوة بعده أي ولا معه

“Dengannya Allah telah menutup kenabian, maka tidak ada kenabian setelahnya, yaitu tidak pula bersamanya.” (Imam al Khazin, Lubab at Ta’wil fii Ma’ani at Tanzil, Juz. 5, Hal. 199. Al Maktabah Asy Syamilah)

Dalil-dalil As Sunnah

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu,bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ

“Kiamat tidak akan datang sampai datangnya para dajjal pendusta jumlahnya hampir tiga puluh, semuanya mengklaim dirinya sebagai Rasulullah.” (HR. Bukhari, Kitab Al Manaqib Bab ‘Alamat An Nubuwah fil Islam, Juz. 11, Hal. 441, No hadits. 3340. Muslim, Kitab Al Fitan wal Asyratus Sa’ah Bab Laa taquumus Sa’ah hatta yamurru ar rajul biqabri ar rajul …, Juz. 14, hal. 142. No hadits. 5205)

Jadi, adanya orang-orang yang mengaku nabi merupakan bagian dari tanda-tanda datangnya kiamat. Hal itu sudah sinyalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sejak empat belas abad silam. Namun selalu ada para ulama garda depan yang selalu siap mengcounter kebohongan mereka.

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:

وَقَدْ وُجِدَ مِنْ هَؤُلَاءِ خَلْق كَثِيرُونَ فِي الْأَعْصَار ، وَأَهْلَكَهُمْ اللَّه تَعَالَى ، وَقَلَعَ آثَارهمْ ، وَكَذَلِكَ يُفْعَل بِمَنْ بَقِيَ مِنْهُمْ .

 

“Mereka selalu ada pada masing-masing zaman, tetapi Allah Ta’ala binasakan mereka, dan Allah hilangkan pengaruhnya, hal itu juga terjadi pada sisa pengikut mereka.” (Imam An Nawawi, Syarah ‘Alash Shahih Muslim, Kitab Al Fitan wal Asyratus Sa’ah Bab Laa taquumus Sa’ah hatta yamurru ar rajul biqabri ar rajul …Juz. 9, hal. 309, No. 5205)

Imam Ibnu Hajar al Asqalani Rahimahullah berkata:

وَلَيْسَ الْمُرَاد بِالْحَدِيثِ مَنْ اِدَّعَى النُّبُوَّة مُطْلَقًا فَإِنَّهُمْ لَا يُحْصَوْنَ كَثْرَة لِكَوْنِ غَالِبهمْ يَنْشَأ لَهُمْ ذَلِكَ عَنْ جُنُون أَوْ سَوْدَاء وَإِنَّمَا الْمُرَاد مَنْ قَامَتْ لَهُ شَوْكَة وَبَدَتْ لَهُ شُبْهَة كَمَنْ وَصَفْنَا ، وَقَدْ أَهْلَكَ اللَّه تَعَالَى مَنْ وَقَعَ لَهُ ذَلِكَ مِنْهُمْ وَبَقِيَ مِنْهُمْ مَنْ يُلْحِقهُ بِأَصْحَابِهِ وَآخِرهمْ الدَّجَّال الْأَكْبَر

“Maksud hadits itu tidaklah berarti secara mutlak jumlahnya (mereka adalah tiga puluh), sebenarnya para nabi palsu ini tak terhitung jumlahnya, namun yang dimaksudkan  dengan pembatasan jumlah itu adalah mereka itulah yang mengaku nabi, memiliki kekuatan dan ajaran menyimpang, dan punya pengikut yang banyak serta terkenal di antara manusia. Lalu Allah Ta’ala binasakan mereka temasuk pengikutnya, hingga akhirnya datangnya dajjal besar.” (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Kitab Al Manaqib Bab ‘Alamat an Nubuwah fil Islam, Juz. 10, hal. 410, No hadits. 3340)

Hadits lainnya, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Dahulu Bani Israel dipimpin oleh para nabi, ketika wafatnya seorang nabi maka datanglah nabi setelahnya, namun tidak ada nabi lagi setelahku.” (HR. Bukhari, Kitab Ahadits al Anbiya Bab Maa dziku ‘an Bani Israil, Juz. 11, Hal. 271, No hadits. 3196. Muslim, Kitab Al Imarah Bab Wujub al Wafa’ bibai’ati al Khulafa’ wal Awal fal Awal, Juz.9,  Hal. 378, No hadits. 3429 )

Hadits lainnya, dari Tsauban Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Sesungguhnya akan datang pada umatku tiga puluh pembohong, semuanya mengaku sebagai nabi, padahal akulah penutup para nabi (khaatam an nabiyyin), tak ada lagi nabi setelahku.” (HR. Abu Daud, Kitab Al Fitan wal Malahim Bab Dzikru Al Fitan wa Dalailuha, Juz. 11, Hal. 322, No hadits. 3710. At Tirmidzi, Kitab Al Fitan ‘an Rasulillah Bab Maa Ja’a Laa Taqumus Sa’ah hatta Yakruju Kadzdzabun, Juz. 8, Hal. 156, No hadits. 2145. Katanya: Hasan Shahih. Syaikh al Abany mengatakan: Shahih. Lihat Misykah al Mashabih, Juz. 3 hal. 173, No. 5406 )

Hadits ini membantah pemikiran Ahmadiyah yang menafsirkan Khaatam an nabiyyin adalah cincinnya para nabi. Sebab, dalam hadits ini ada penegas setelah kalimat khaatam an nabiyyin, yaitu kalimat laa nabiyya ba’diy (tak ada lagi nabi setelahku).

Hadits lainnya:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِعَلِيٍّ أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Ali: “Engkau bagiku, seperti posisi Harun terhadap Musa, hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku.” (HR. At Tirmidzi, Kitab Al Manaqib ‘an Rasulillah Bab Al Manaqib ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, Juz. 12, Hal. 192, No hadits. 3663. Katanya: hasan gharib. Tetapi pada hadits yang sama bunyinya no. 3664 dari jalur Sa’ad bin Abi Waqash, Imam At Tirmidzi  berkata: hasan shahih. Ibnu Majah, Kitab Al Muqaddimah Bab Fadhlu ‘Ali bin Abi Thalib, Juz. 1, Hal. 134, No hadits. 118, dari jalur Sa’ad bin Abi Waqash)

Sedangkan dalam hadits shahih lain juga disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ

“Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan diriku di antara para nabi sebelumku, seperti perumpamaan seorang yang sedang membangun rumah dia memperbaikinya dan memperindahnya kecuali satu bata sebelah sudut yang kosong. Maka manusia mengitari rumah itu, mereka heran dengannya, dan mereka berkata: “Kenapa yang ini tidak?” Akhirnya diletakkanlah batu bata di bagian tersebut.” Dia bersabda: “Akulah batu bata tersebut, dan aku adalah penutup para nabi.” (HR. Bukhari, Kitab Al Manaqib Bab Khatim an Nabiyyin, Juz. 11, Hal. 336, No hadits. 3271. Muslim, Kitab Al Fadhail Bab Dzikru Kaunuhu Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wa Khatim an Nabiyyin, Juz. 11, Hal. 404, No hadits. 4239)

Imam Ibnu Hajar berkata:

وَفِي الْحَدِيث ضَرْب الْأَمْثَال لِلتَّقْرِيبِ لِلْأَفْهَامِ وَفَضْل النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى سَائِر النَّبِيِّينَ ، وَأَنَّ اللَّه خَتَمَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ ، وَأَكْمَلَ بِهِ شَرَائِع الدِّين .

Hadits ini memberikan perumpamaan  dalam rangka memudahkan pemahaman dan menunjukkan keutamaan Rasulullah Shallalalhu ‘Alaihi wa Sallam di atas nabi – nabi lainnya dan Allah ta’ala menutup kerasulan dengannya serta menyempurnakan syariatNya degannya pula.” (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Kitab Al Manaqib Bab Khatim an Nabiyyin, Juz. 11, Hal. 336, No hadits. 3270)

Semoga tulisan ini bisa memantapkan keimanan sekaligus menjelaskan tipu daya musuh-musuh Allah para nabi palsu yang selalu ada di setiap zaman.

 

Iklan

8 tanggapan untuk “Muhammad adalah Nabi dan Utusan Allah Terakhir

  1. Bagaimana kedudukan imam mahdi? Kalau dari apa yg dibahas dan dipahami spt itu, imam mahdi bukan utusan Allah SWT. Pdhl byk hadis sahih tentang kedatangan imam mahdi. Kalau beliau utusan Allah lantas disebut apa? Apakah imam mahdi jg bisa dapat wahyu dari Allah SWT? Apkh serta merta umat islam terutama ulama mengetahui dan mempercayai imam mahdi saat diminta baiat? Apabila tdk tentu awalnya ada pertyentyangan di dalam umat sendiri.?

  2. Salah satu hadits yg menyebutkan tg akan datangnya Imam Mahdi adalah hadits berikut:

    “Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR abu Dawud 9435)

    Berdasarkan kepada hadits itu Imam Mahdi (pemimpin yang mendapat petunjuk) akan dimunculkan nanti di akhir zaman. Beliau adalah keturunan Nabi, namanya sama dengan nama nabi yaitu Muhammad. Dan nama ayahnya sama dengan nama ayah Nabi yaitu Abdullah. Jadi nama Imam Mahdi adalah Muhammad bin Abdullah.

    Imam Mahdi itu bukan nabi. Ia manusia biasa. Ia adalah penduduk Madinah. Ketika terjadi kegentingan ia pergi ke Mekkah dan kemudian dibaiat menjadi pemimpin. Silahkan perhatikan hadits berikut:

    “Akan terjadi perselisihan setelah wafatnya seorang pemimpin, maka keluarlah seorang lelaki dari penduduk Madinah mencari perlindungan ke Mekkah, lalu datanglah kepada lelaki ini beberapa orang dari penduduk Mekkah, lalu mereka membai’at Imam Mahdi secara paksa, maka ia dibai’at di antara Rukun dengan Maqam Ibrahim (di depan Ka’bah). Kemudian diutuslah sepasukan manusia dari penduduk Syam, maka mereka dibenamkan di sebuah daerah bernama Al-Baida yang berada di antara Mekkah dan Madinah.” (HR Abu Dawud 3737)

    Peristiwa pembenaman pasukan dari Syam itu menjadi tanda bahwa pemimpin yg baru saja dibaiat di Mekkah itu adalah Imam Mahdi. Pada saat itulah kaum muslimin diperintahkan nabi untuk segera membaiatnya. Perhatikan hadits berikut:

    “Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi), maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud 4074)

    Wallahu a’lam….

  3. Maaf urun rembuk, khotamun atau khotaman ini kata yg sama jika saya ambil contoh khotmil quran, apa kita baca quran yg terahir atau bagean yg terahir, gakkan maksud dr arti khotmil quran adalah baca alqur’an dr suratdan jus yg pertama sampai surat dan jus yg terahir jd maksud khotmil quran adalah alquran itu kt baca ”SEMPURNA” dr jus satu sampai jus yg terahir, paham maksudnya. ok

  4. Kita tdk boleh membedabedahkan utusan utusan Allah jika kita membeda bedahkan kt bertentangan dg alqur’an ”LANUFARRIKU BAINA AHKADIHIM” tidak ada perbedaan diantara utusan utusan itu. maaf makasih

  5. @ Nasim: khotmil qur’an jika diterjemahkan secara harfiyah artinya adalah menutup/menyelesaikan/mengakhiri bacaan Al-Qur’an. Jika diterjemahkan secara maknawiyah maksudnya adalah menyelesaikan membaca Al-Qur’an seluruhnya.

    Silahkan baca ulang penjelasan para mufasir dalam tulisan di atas tentang makna kata ‘khatim’ atau ‘khatam’.

    Tentang masalah “La Nufarriqu baina ahadim min rusulih”, maknanya yang tepat adalah seorang muslim tidak membeda-bedakan antara seseorang pun di antara Rasul-Rasul-Nya hingga beriman kepada sebagian dan kafir kepada lainnya, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Kristen (silahkan rujuk diantaranya ke Tafsir Jalalain).

    Adapun tentang adanya keutamaan satu rasul yang berbeda dengan rasul lainnya, hal ini disebutkan sendiri oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an:

    “Rasul-rasul itu kami lebihkan sebahagian (dari) mereka atas sebahagian yang lain.” (Q.S Al Baqarah: 253)

    Demikian Bang Nasim….semoga dapat difahami. Wallahu A’lam….

  6. Harakatuna , ini Hadis kan sdh jelas bhw Imam Mahdi itu Khalifatullah. Khalifatullah itu apa kalau bukan sebutan lain Nabi atau Rasul ?
    “Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi), maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud 4074)

  7. Imam mahdi utusan Allah muhammad nabiterakhir kalau utusan terakhir berarti ingkari mahdi paling keneraka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s