Diposkan pada Akhlak

Inspirasi Ramadhan

  “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa…” (QS. Al-Baqarah, 2: 183)

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada kita bertemu kembali dengan bulan penuh rahmat, berkah dan maghfirah; bulan Ramadhan.

Bulan ini adalah bulan peluang bagi ummat Muhammad saw untuk mengoptimalkan amal ibadat dan berbagai amal shalih, sekaligus memaksimalkannya untuk meraih pahala yang dilipatgandakan dari amal kebajikan yang sama di bulan lainnya.

Ramadhan disebut oleh Yusuf Qaradawi sebagai madrasah mutamayizah (sekolah istimewa),  yang dibuka oleh Islam setiap tahun untuk proses pendidikan praktis menanamkan seagung-agung nilai dan setinggi-tinggi hakikat: la’allakum tattaqun…, agar kamu bertaqwa. Semua aktivitas ibadah yang digiatkan di dalamnya merupakan riyadhotu ruh (latihan ruhani) untuk menggapai jenjang ‘ubudiyah tertinggi itu (taqwa). Inilah target dan obsesi kita di bulan yang penuh berkah ini, sekaligus inspirasi dalam gerak langkah hidup kita di sebelas bulan berikutnya.

Inspirasi Shaum

Di bulan Ramadhan kita menahan diri dari lapar dan dahaga serta syahwat di siang hari karena Allah. Ini adalah inspirasi tentang pentingnya tazkiyah an-nafs (pembersihan jiwa), dengan mematuhi perintah-perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, dan melatih diri untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah semata. Kalau saja mau, di bulan ini kita bisa saja makan, minum, bersetubuh dengan isteri kita, dan tiada seorang pun yang mengetahui. Akan tetapi kita meninggalkan semua itu semata-mata karena Allah swt.

Shaum Ramadhan juga menginspirasi kita tentang kesederhanaan dan menjauhi sifat israf (berlebih-lebihan) dalam makan dan minum sebagaimana diperintahkan Allah swt,

 “…Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf, 7: 31)

Shaum menanamkan ajaran Islam yang mensejajarkan tuntutan jasmani dengan tuntutan rohani, dan mencegah agar jangan sampai unsur yang satu mengalahkan unsur yang lain. Shaum mendidik jangan sampai manusia menjadi budak perutnya, hidup di dunia ini sekedar untuk makan dan minum, atau siang malam hanya sibuk memasukkan berbagai macam makanan dan minuman ke dalam perutnya.

Selain itu, shaum juga menginspirasi kita tentang pentingnya menahan diri dari makanan dan minuman yang haram, melatih jiwa agar mampu menahan diri dari nafsu serakah, tamak dan rakus. Melatih diri untuk menjaga pola hidup bersih. Bersih hati dan batin dari kemusyrikan dan kemaksiatan. Bersih dari harta yang haram, seperti riba (bunga), korupsi, manipulasi dan mencuri. Bersih lahir dan lingkungan dari berbagai macam kotoran.

 “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah, 2: 168)

Inspirasi Tilawah Al-Qur’an

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an,

 “…bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah, 2: 185).

dan di bulan ini malaikat Jibril turun untuk memuraja’ah (mendengar dan mengecek) bacaan Al-Qur’an dari Rasulullah.

Imam Az-Zuhri pernah berkata: “Apabila datang Ramadhan, maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca Al-Qur’an”.

Ramadhan mengingatkan kita tentang wajibnya menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat karib, kawan bicara dan guru. Kita harus membacanya. Jangan sampai hari berlalu tanpa menjalin hubungan dengan Al-Qur’an. Demikianlah salafu shalih mencontohkannya pada kita. Mereka demikian mercurahkan waktunya untuk Al-Qur’an sampai Rasulullah saw pernah turun tangan untuk melarang mereka berlebih-lebihan di dalam membacanya.  Hal ini disebutkan dalam hadits dimana Nabi menyuruh Abdullah bin Amru bin ‘Ash untuk mengkhatamkan Al-Qur’an cukup sekali dalam sebulan, sekali dalam 20 hari, atau sekali dalam seminggu, tidak boleh kurang dari seminggu, “Karena sesungguhnya istrimu mempunyai hak yang harus kau tunaikan, tamumu mempunyai hak yang harus kau tunaikan, dan jasadmu mempunyai hak yang harus kau tunaikan…” (HR. Bukhari Muslim)

Utsman bin Affan memiliki kebiasaan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam seminggu, ia membuka malam Jum’at dengan membaca Al-Baqarah sampai Al-Maidah; malam Sabtu surat Al-An’am sampai surat Hud; malam Ahad surat Yusuf sampai Maryam; malam Senin surat Thaha sampai Al-Qashash; malam Selasa surat Al-Ankabut sampai Shad; dan malam Kamis mengkhatamkannya. Sedangkan di bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap hari.

Rasulullah saw bersabda tentang orang yang gemar membaca Al-Qur’an secara rutin,

“Diantara hamba-hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah Al-Hallul Murtahil (orang yang singgah dan pergi).” Para sahabat bertanya, “Siapakah Al-Hallul Murtahil itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang mengkhatamkan Al-Qur’an lalu memulainya lagi dan orang yang memulai membaca Al-Qur’an kemudian mengkhatamkannya. Demikianlah, ia terus berada dalam keadaan singgah dan pergi bersama kitab Allah tabaroka wa ta’ala”

Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum muslimin, beliau mengambil mushaf dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.”

Semua ini tentu saja dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid dan esensi dasar diturunkannya Al-Qur’an untuk ditadabburi, difahami, dan diamalkan.

 “Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad, 38: 29)

Dengan tilawah Al-Qur’an kita berharap dapat menumbuhkan karakter ummatun qa’imah, golongan yang berlaku lurus, seperti Abdullah bin Salam, seorang Yahudi yang kemudian diberi limpahan nikmat iman oleh Allah SWT.

 “Mereka itu tidak sama; di antara ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat).” (QS. Ali Imran, 3: 113)

Inspirasi Qiyamu Ramadhan

Ibadah yang sangat ditekankan Rasulullah SAW di malam Ramadhan adalah qiyamu ramadhan atau yang biasa dikenal dengan shalat tarawih. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang melakukan qiyam dengan penuh iman dan perhitungan, naka diampuni dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun ‘alaihi).

Qiyamu Ramadhan menginspirasi kita tentang pentingnya taqorrub dan komunikasi intensif dengan Allah SWT. Sebulan lamanya kita dilatih melaksanakannya, agar selepas Ramadhan kita terbiasa melaksanakan qiyamu lail.

 

Dari Jabir r.a., ia barkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR. Muslim dan Ahmad)

 

Qiyamullail adalah sarana berkomunikasi seorang hamba dengan Rabbnya. Sang hamba merasa lezat di kala munajat dengan Penciptanya. Ia berdoa, beristighfar, bertasbih, dan memuji Sang Pencipta. Dan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sesuai dengan janjinya, akan mencintai hamba yang mendekat kepadanya. Kalau Allah swt. mencintai seorang hamba, maka Ia akan mempermudah semua aspek kehidupan hambaNya. Sang hamba akan dekat dengan Rabbnya, diampuni dosanya, dihormati oleh sesama, dan menjadi penghuni surga yang disediakan untuknya.

 

Inspirasi Zakat, Infaq dan Shadaqah

Rasulullah saw adalah orang yang paling pemurah, dan di bulan Ramadhan beliau lebih pemurah lagi. Kebaikan Rasulullah saw di bulan Ramadhan melebihi angin yang berhembus karena begitu cepat dan banyaknya. Dalam sebuah hadits disebutkan,

 

“Sebaik-baik sedekah yaitu sedekah di bulan Ramadhan” (HR. Al-Baihaqi, Al-Khatib dan At-Turmudzi).

 

Salah satu bentuk shadaqah yang dianjurkan adalah memberikan ifthar (santapan buka shaum). Seperti sabda Nabi saw,

 

“Barangsiapa yang memberi ifthar kepada orang-orang yang shaum, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang shaum tersebut” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).

 

Di akhir bulan Ramadhan kaum muslimin menunaikan zakat fitrah yang bertujuan untuk menyucikan orang yang melaksanakan shaum dan untuk membantu fakir miskin.

 

Zakat, infaq dan shadaqah menginspirasi kita agar selalu memiliki solidaritas dan kepedulian kepada sesama. Selain dalam rangka mematuhi perintah Allah, zakat juga memiliki hikmah menumbuhkan sikap menolong yang lemah, mewujudkan pemerataan, membersihkan jiwa kikir dan mewujudkan persaudaraan (lihat: Pokok-Pokok Ajaran Islam, DR. Miftah Faridl). Bukan hanya saat Ramadhan saja, tetapi juga di bulan-bulan lainnya.

 

Inspirasi I’tikaf

I’tikaf adalah puncak ibadah Ramadhan. Karena pada hakekatnya inti ibadah Ramadhan adalah upaya menahan diri (imsak) dari makan dan minum dan segala sesuatu yang membatalkannya di siang hari, dengan harapan dapat menahan diri dari segala yang diharamkan Allah. Sementara i’tikaf bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi menahan diri untuk tetap tinggal di masjid, taqarrub kepada Allah dan menjauhkan diri dari segala aktivitas keduniaan.

 

Itulah sunnah yang selalu dilakukan Rasulullah pada bulan Ramadhan, seperti disebutkan dalam hadits:

 

“Adalah (Nabi saw) beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dalam bulan Ramadhan sampai Allah ‘azza wa jalla mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sesudah itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Selama melakukan i’tikaf orang tidak boleh bersetubuh dengan istri, karena hal itu membatalkan i’tikaf. Hal ini sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an,

 

 “…Janganlah kamu bercampur dengan istri-istrimu ketika kamu sedang i’tikaf di dalam masjid…” (QS. Al-Baqarah, 2: 187)

 

Tempat i’tikaf harus di dalam masjid, tidak boleh di surau, mushalla, rumah, atau tempat-tempat lain. Selama i’tikaf tidak boleh keluar dari masjid, kecuali untuk keperluan-keperluan sangat mendesak, seperti buang hajat, mandi, berobat, atau makan. Hal ini dijelaskan dalam hadits berikut:

 

Dari ‘Aisyah, ia berkata: “Ketika I’tikaf Rasulullah saw pernah mengeluarkan kepalanya dari dalam masjid kepada saya, lalu saya sisir rambutnya. Beliau tidak masuk ke dalam rumah, kecuali ada keperluan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Ibadah yang penting ini sering dianggap berat oleh kaum muslimin, sehingga banyak yang tidak melakukannya. Imam Az-Zuhri berkata, “Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan i’tikaf, padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak beliau datang ke Madinah sampai beliau wafat”.

 

I’tikaf menginspirasi kita untuk membasmi virus al-wahn di dalam jiwa. Kita teringat hadits Nabi saw,

“Hampir datang masanya bangsa-bangsa mengerumuni kalian sebagaimana mengerumuni makanan di atas meja makan.” Ada yang bertanya: “Apakah saat itu kita sedikit?” Beliau menjawab: “Justru saat itu kalian  banyak, tetapi laksana buih di lautan. Allah telah mencabut rasa takut dalam dada musuh-musuh kalian terhadap kalian, sedangkan Allah telah melemparkan ke dalam hati kalian penyakit Al Wahn,” Ada yang bertanya: “Apakah Al Wahn?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati!” (HR. Ibnu Majah)

I’tikaf mengingatkan kita tentang ubudiyah dan pengagungan Allah Rabbul ‘alamin. Dengannya manusia membuktikan, bahwa dirinya bukan hamba dunia dan bukan pengagung dunia. Memang demikianlah seharusnya sikap seorang hamba beriman. Karena Rasulullah saw bersabda:

“Apabila umatku mengagungkan dunia, maka dicabutlah kehebatan Islam darinya. Kemudian apabila meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, terdindinglah keberkahan wahyu”. (HR. Turmudzi).

Khatimah

Marilah kita bangkitkan semangat beribadah di bulan Ramadhan ini dengan landasan iman.  Jadikan shaum, tilawah Al-Qur’an, qiyamu Ramadhan, zakat, infaq, shadaqah. i’tikaf dan ibadah-ibadah lainnya sebagai riyadhotu ruh  dalam meniti jenjang ketaqwaan. Jangan biarkan Ramadhan lewat tanpa menanamkan inspirasi bagi kehidupan.

 

Muhamad Indra Kurniawan, S.Ag.

 

Maraji’:

Panduan Lengkap Ibadah Ramadhan, Tim Konsultan Sharia Consulting Center (SCC)

Bayan DSP PKS Nomor: 18/B/K/DSP-PKS/1429

Fiqih Puasa, DR. Yusuf Qaradawi

Manhaj Tarbiyah 1427 H, Lembaga Kajian Manhaj Tarbiyah

Akhlak Seorang Muslim, Muhammad Al-Ghazaly

http://www.dakwatuna.com/2007/keutamaan-qiyamullail/

60 Pedoman Amaliah Ramadhan, Drs. Muhammad Thalib

Pokok-Pokok Ajaran Islam, DR. Miftah Faridl

Iklan

3 tanggapan untuk “Inspirasi Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s