Diposkan pada Uncategorized

Membangun Dua Kekuatan

(Khutbah Idul Fitri 1432 H)

Alhamdulillahilladzi ja’alal insaana fi ahsani taqwim. Wa ja’ala lanal ardha wa-samawati wa ma bainahuma dalilan ‘ala wujudihi-daim. Wa anzala lana dinal islam hidayatan ila shiratil mustaqim.

Asyhadu anla ilaha illallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu la nabiyya ba’dah.

Allahumma shali ‘ala Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Amma ba’du…

ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…LA ILAHA ILLALLAHU ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…WA LILLAHIL HAMD!

Kaum muslimin rahimakumullah…

Marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Yang Maha Agung, yang telah mencurahkan nikmat iman, nikmat Islam, nikmat ukhuwah, nikmat ibadah, sehingga pada detik ini kita dapat berkumpul untuk ruku dan sujud serta mengagungkan asma-Nya, mensyiarkan keesaan-Nya, dan mensyukuri nikmat dari-Nya.

ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…LA ILAHA ILLALLAHU ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…WA LILLAHIL HAMD!

Kaum muslimin rahimakumullah…

Tiga puluh hari lamanya kita telah berpuasa. Menahan lapar dan dahaga, memotivasi diri meningkatkan amal ibadah: Tilawah Al-Qur’an, shalat tarawih, tholabul ilmi, memperbanyak sedekah, serta memperbanyak wirid dan dzikir.

Semua ini kita lakukan tidak lain adalah dengan harapan agar Allah SWT ridho dan berkenan mencurahkan maghfirah-Nya. Sebagaimana disabdakan Nabi SAW,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa dengan didasari keimanan dan pengharapan, akan diampuni dosanya yang telah lalu.”

Hadirin rahimakumullah…

Di awal bulan syawal ini hendaknya kita ber-azzam, menanamkan kesadaran, serta melakukan aksi nyata sebagai implementasi hasil latihan di bulan Ramadan.

Di awal bulan syawal ini marilah kita mengingat spirit Ramadan dan menjaganya agar ia selalu mewarnai gerak langkah hidup kita.

Hadirin Rahimakumullah…

Diantrara spirit Ramadan yang selalu harus kita jaga di antaranya adalah:

Pertama, semangat mempertahankan kekuatan pengendalian diri, quwwatul imsak.

Di bulan Ramadan kemarin kita dilatih menahan lapar dan dahaga, juga menahan rafats, berhubungan intim di siang hari bagi suami-istri. Semua ini sesungguhnya adalah simbol pengendalian diri dari godaan kenikmatan dunia yang seringkali melenakan, membuat lupa dan menggelincirkan manusia pada derajat yang rendah dan hina.

Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan kita semua agar menghindari perilaku hubbud dunya (cinta dunia), karena perilaku hubbud dunya itu menyebabkan tertanamnya kelemahan dalam diri umat ini sehingga mudah dijajah oleh bangsa lain.

يُوْشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُم الأُمَمُ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا” اَوَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: “بَلْ اِنَّكُمْ يَوْمَئِذٍكَثِيْرُوْنَ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَيْلِ، وَقَدْ نَزَلَ بِكُمُ الْوَهْنُ” قِيْلَ: وَمَا الْوَهْنُ يَارَسُوْلَ اللّهِ ؟ قَالَ: “حُبُّ الدُنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Akan datang suatu masa umat lain akan memperebutkan kamu ibarat orang-orang lapar memperebutkan makanan dalam hidangan.” Sahabat bertanya, “Apakah lantaran pada waktu itu  jumlah kami hanya sedikit Ya Rasulullah?”. Dijawab oleh beliau, “Bukan, bahkan sesungguhnya jumlah kamu pada waktu itu banyak, tetapi kualitas kamu ibarat buih yang terapung-apung di atas laut, dan dalam jiwamu tertanam kelemahan jiwa.” Sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud kelemahan jiwa, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati!”. (HR. Abu Daud).

Penyakit hubbud dunya  juga akan menyebabkan manusia menjadi apa yang disebut Rasulullah SAW sebagai syarrul khalqi, seburuk-buruk mahluk. Di dalam hadits Nabi disebutkan,

سَيَأتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ هِمَّتُهُمْ بُطُوْنُهُمْ وَ شَرَفُهُمْ مَتَاعُهُمْ وَ قِبْلَتُهُمْ نِسَاءُهُمْ وَ دِيْنُهُمْ دَارَهِمُهُمْ وَ دَنَانِيْرُهُمْ. أُوْلكَ شَرُّ الخلْقِ لاَ خَلاَقَ لهُمْ عِنْدَ اللهِ (الديلمى)

“Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana obsesi mereka adalah memenuhi kebutuhan perut; kemuliaan mereka adalah perhiasan-perhiasan; kiblat mereka adalah wanita; dan agama mereka adalah dinar dan dirham. Mereka itulah seburuk-buruk manusia, tidak ada bagian bagi mereka dari sisi Allah.” (HR. Ad-Dailami)

Oleh karena itu hadirin rahimakumullah, wajib bagi kita mempertahankan spirit Ramadan, yakni mampu menanamkam quwwatul imsak (kekuatan pengendalian diri).

ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…LA ILAHA ILLALLAHU ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…WA LILLAHIL HAMD!

Kedua, semangat Ramadan yang harus kita pertahankan adalah quwwatul indifa, kekuatan motivasi untuk berbuat taat kepada Allah SWT.

Untuk itu setelah bulan Ramadan ini kita harus tetap menjaga tilawah dan tadarus Qur’an sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Menjaga kebiasaan shalat berjama’ah di masjid, menjaga kebiasaan wirid dan dzikir, dan menjaga kebiasaan bersedekah.

Jangan sampai terjadi lagi kepada kita salah kaprah dalam memaknai Ramadan, dimana kita di bulan Ramadan demikian menjaga ta’amul ma’al qur’an, berinteraksi dengan Al-Qur’an, akan tetapi di luar Ramadan, sejak kita memasuki Syawal, kebiasaan yang baik itu ditinggalkan, tidak lagi membaca Qur’an dan tidak lagi mempelajarinya. Naudzubillah…

Setelah keluar dari Ramadan dan memasuki Syawal ini, seharusnya kita mulai melangkah menjadi ahlul qur’an, menjadi sahabat Al-Qur’an. Jangan sebaliknya, malah menjadi golongan orang-orang yang hajara minal Qur’an. Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an,

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. Al-Furqan, 25: 30).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang ayat ini: “مَنْ هُوَ هَجَرَ مِنَ الْقُرْآنِ؟”

Beliau menjawab:

 “مَنْ لَمْ يَقْرَإِ القُرآنَ فَقَدْ هَجَرَ. وَمَنْ يَقْرَإِ القُرآنَ وَلَمْ يَتَدَبَّرَ بِهِ فَقَدْ هَجَرَ. وَمَنْ يَقْرَإِ القُرآنَ وَ يَتَدَبَّرَ بِهِ وَلَمْ يَعْمَلْ بِهِ فَقَدْ هَجَرَ

“Barangsiapa yang tidak membaca Al-Qur’an maka dia telah meninggalkan Al-Qur’an. Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an tapi tidak berupaya memahaminya maka dia telah meninggalkan Al-Qur’an. Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dan memahaminya, namun tidak mengamalkannya, maka dia telah meninggalkan Al-Qur’an”

Selain membaca Al-Qur’an, kita pun harus menjaga shalat kita. Menjaga shalat berjama’ah di masjid. Khusus bagi kaum laki-laki saya ingatkan, jangan sampai Anda meninggalkan shalat berjama’ah di masjid, khususnya di waktu shubuh dan isya. Karena meninggalkan shalat berjama’ah di masjid, apalagi di waktu shubuh dan isya, membuat kita terancam menjadi golongan munafik. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW,

لَيْسَ صَلاَةٌ اَثْقَلُ عَلَى الْمُنَفِقِيْنَ مِنَ الْفَجْرِ وَالعِشَاءِ. وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِيْهِمَا لَاَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Tidak ada shalat yang dirasakan berat oleh kaum munafik kecuali shalat shubuh dan shalat isya. Seandainya mereka tahu kebaikan apa yang terkandung didalam keduanya, sungguh mereka akan memaksakan diri mendatanginya, walaupun harus merangkak.” (Muttafaq ‘Alaih).

Kaum muslimin rahimakumullah…mari kita pelihara semangat dan motivasi ibadah kita.

Selain ibadah-ibadah ritual, kita pun harus menjaga ibadah-ibadah sosial. Itulah yang diajarkan Ramadan. Diantaranya adalah semangat persaudaraan, ukhuwah Islamiyah. Di Ramadan kemarin kuantitas pertemuan kita dengan tetangga dekat lebih banyak dari biasanya, karena kita melaksanakan shalat wajib secara berjama’ah, melaksanakan tarawih di masjid juga berjama’ah, menunaikan zakat mal atau zakat fitrah, dan puncaknya adalah berkumpulnya kita di tempat ini melaksanakan shalat Idul Fitri. Semuanya mengingatkan kita tentang nilai persatuan dan persaudaraan di dalam Islam. Dimana terbangun ta’aruf (saling kenal-mengenal), tafahum (saling memahami), dan ta’awun (saling tolong menolong) di antara kita.

Hadirin rahimakumullah…

Nilai-nilai persaudaraan ini harus kita jaga selepas meninggalkan Ramadan. Allah SWT menegaskan,

Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat, 49: 10).

Di ayat lain Allah SWT memerintahkan kita untuk menjaga persatuan dan menghindari perpecahan,

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali Imran, 3: 103).

Oleh karena itu hendaknya terbangun dengan kokoh rasa persatuan dan persaudaraan di antara kita sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW,

اَلْمُؤمِنُ لِلْمُؤمِنِ كَلْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْدُهُ بَعْضًا

“Seorang mu’min dengan mu’min yang lain itu bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan/menopang antara yang satu dengan yang lainnya”

ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…LA ILAHA ILLALLAHU ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…WA LILLAHIL HAMD!

Jadi hadirin rahimakumullah….mulai bulan Syawal ini mari kita kokohkan dua kekuatan: Quwwatul Imsak dan Quwwatul Indifa’, kekuatan pengendalian diri dari hal-hal yang dilarang Allah dan kekuatan motivasi untuk selalu melaksanakan apa yang diperintahkan Allah SWT. Inilah ketakwaan itu.

Jika dua kekuatan ini mampu kita raih, insya Allah, negeri ini akan terbebas dari beragam masalah. Korupsi dan penyalahgunaan wewenang; kemiskinan dan pengangguran; kebodohan, kriminalitas dan kekerasan; krisis penegakkan hukum; serta kerusakan moral; semuanya akan berkurang secara signifikan.

Allah SWT berfirman,

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka)disebabkanperbuatannya.” (QS. Al-A’raf, 7: 96).

ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…LA ILAHA ILLALLAHU ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…WA LILLAHIL HAMD!

Tearakhir saya berwasiat kepada diri dan juga kepada Anda semua yang hadir disini. KUUNUU RABBANIYYIN WA LAA TAKUUNU RAMADHANIYYIN. Jadilah Anda orang-orang Rabbani, yakni orang-orang yang senantiasa menghambakan diri kepada Rabb semesta alam di setiap waktu. Janganlah menjadi Ramadhaniyyin, yaitu orang-orang yang berpayah-payah dan berajin-rajin ibadah kepada Allah SWT hanya di bulan Ramadhan.

Ingatlah! Tuhannya bulan Ramadan adalah Tuhannya bulan Syawal, Tuhannya bulan Dzulqa’dah, Tuhannya bulan Dzulhijjah, Tuhannya bulan Muharram, Shafar, dan seterusnya. Oleh karena itu, tidak layak dan tidak pantas jika kita berpayah-payah dan berajin-rajin ibadah hanya di bulan Ramadan saja.

ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…LA ILAHA ILLALLAHU ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…WA LILLAHIL HAMD!

 

 


[1] Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1432 H di Lapangan Tenis Bara Komp. Vijaya Kusumah Cibiru Bandung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s