Diposkan pada Opini

Mengebiri Revolusi 25 Januari, Kepentingan Siapa?

fahmi-huwaidi

Oleh: Fahmi Huwaedi

Penulis khawatir, Revolusi 30 Juni (2013) dijadikan alat untuk mengerdilkan Revolusi 25 Januari (2011) dan menggandeng Mubarak bersama rezimnya untuk come back.

(1)

Seakan kita ingin mengulang kembali penulisan sejarah tentang apa yang kini terjadi di Mesir. Seakan kita juga akan menghidupkan kembali tradisi fir’aun lama yang diwarisi fir’aun baru yaitu dengan menghapus jejak pendahulunya melalui tugu dan tembok tempat ibadah untuk memulai membuka lembaran sejarah baru. Ini yang penulis bisa rangkum dari berbagai tulisan dan penulis dengar dari acara-acara dialog di televisi yang disiarkan hari-hari ini. Acara-acara tersebut dimulai dengan ejekan, serangan kepada Presiden Morsi dan pemerintahannya. Berakhir dengan mengerdilkan Revolusi 25 Januari sambil mencorengnya dan seruan untuk membuangnya dari catatan sejarah Mesir. Berujung mendewa-dewakan revolusi rakyat yang hakiki, Revolusi 30 Juni.

Sebagian ada yang menulis bahwa 30 Juni adalah “revolusi melawan revolusi”, harian al-Masri al-Yaum (6/7). Tulisan itu menyebutkan bahwa revolusi terakhir, 30 Juni, terjadi setelah banyak catatan atas revolusi sebelumnya. Revolusi Januari jatuh ke tangan al-Ikhwan al-Muslimun (baca: Ikhwan). Akibatnya, negara dibawa mundur ke belakang, mundur selama ratusan abad lamanya, tidak maju-maju.

Tulisan lain menyebutkan, bahwa apa yang terjadi pada tanggal 25 Januari, bukanlah sebagai revolusi. Tapi hanya bentuk kemarahan anak muda, yang diarahkan dan didanai, menentang menteri dalam negeri kala itu, Habib al-Adili akibat pembunuhan terhadap aktivis Khalid Said (harian al-Watan, 21/7). Ini menjadi isyarat bagi sejumlah tulisan dan dialog-dialog televisi yang sering disiarkan oleh media-media pendukung rezim Mubarak dan anaknya, Jamal Mubarak.

Beberapa teman penulis telah mencium adanya gerakan itu. Ia menulis dan mengatakan bahwa ada sebagian pihak memanfaatkan masa transisi yang tengah dialami Mesir ini untuk mengembalikan masa rezim Mubarak. Mereka menganggap bahwa Revolusi 25 Januari adalah “prahara” bagi Mesir. Ia juga mengambil contoh dari sejumlah acara yang mewakili dari sikap tersebut. “Sikap itu merupakan awal perang media yang mulai muncul di permukaan untuk memberangus setiap apa yang ada hubungannya dengan revolusi 25 Januari,” demikian bunyi penggalan tulisan teman tersebut.

Hal ini bukan secara tiba-tiba, namun sudah direncanakan sebelumnya. Karena Mubarak-Mubarak kecil ingin membalas dendam atas Revolusi 25 Januari (Tareq al-Shanawi, harian at-Tahrir 15/7).

(2)

Bahkan sudah tidak relevan lagi, menurut mereka, membahas soal apa yang terjadi pada tanggal 30 Juni lalu, apakah itu kudeta atau revolusi. Karena itu hanya soal perdebatan yang lebih mengedapankan syahwat politik daripada nilai-nilai imu sosial politik. Hasilnya, dunia melihat itu sebagai kudeta. Sedangkan pernyataan resmi dan dari sejumlah cendekiawan bersumpah bahwa Revolusi 30 Juni adalah revolusi yang sejati, tanpa cacat dan celah.

Namun sebaliknya, penulis mencoba membanding-bandingkan antara Revolusi 25 Januari dengan 30 Juni. Ternyata, tidak berpihak kepada peristiwa terakhir (baca: Revolusi 30 Juni). Sebagaimana ungkapan mereka bahwa revolusi kedua menghapus yang pertama, hanyalah isapan jempol belaka. Jika pembaca bertanya kepada penulis, kenapa? Penulis akan menjawab sebagai berikut:

Pertama: Revolusi 25 Januari adalah yang merobohkan dinding takut bagi rakyat Mesir dan menumbangkan sosok penguasa tunggal dan yang disucikan. Sedangkan kemarahan 30 Juni merupakan cabang dari yang pertama dan mengambil inspirasi keberanian yang pernah lahir sebelumnya.

Kedua: Revolusi 25 Januari dilakukan melalui konsensus rakyat dibawah naungan kelompok nasional Mesir untuk melindunginya. Mereka akhirnya sepakat melawan (Mubarak dan antek-antek keamanannya) dan sepakat dengan target tujuan (hidup, kebebasan dan keadilan sosial). Sedangkan peristiwa 30 Juni meletus gara-gara perbedaan politik yang bisa mendorong masyarakat Mesir masuk kedalam jurang perang saudara dan menghancurkan konsensus nasional yang sudah dicapai sebelumnya.

Ketiga: sikap militer sangat berbeda dalam dua peristiwa. Kalau 25 Januari mereka memantau dari jauh kemudian campur tangan untuk melindungi konsensus nasional. Sementara 30 Juni, para petinggi militer menjadi pemain langsung dan memantaunya sejak lama. Saat militer campur tangan dalam kondisi perbedaan politik maka tercium bau tidak sedap persaingan antar petinggi militer, petinggi satu ingin mengalahkan petinggi yang lain.

Keempat: Revolusi 25 Januari, pada dasarnya melawan ketidakadilan politik dan sosial. Oleh karenanya, revolusi ini melahirkan orang-orang pilihan. Sementara peristiwa 30 Juni, pada dasarnya benci kepada Ikhwan. Maka bisa dipastikan, kecintaan kepada tanah air dibalik revolusi 25 Januari. Sedangkan kebencian kepada Ikhwan dan memarginalkan mereka dari kekuasaan dibalik peristiwa 30 Juni. Sehingga melahirkan orang-orang tak bermutu.

Kelima: Revolusi 25 Januari melawan presiden yang terkenal dengan penipuan, represif dan korup selama 30 tahun. Sedangkan peristiwa 30 Juni melawan presiden yang dipilih secara demokratis. Maka, revolusi 25 Januari melawan tirani dan korupsi. Sementara revolusi 30 Juni bentuk pukulan terhadap perjalanan demokrasi yang baru lahir.

Keenam: paska-revolusi 25 Januari, setelah presiden sipil menjadi kepala negara dalam sejarah perpolitikan Mesir, muncul gebrakan-gebrakan diantarannya menjauhkan militer dari dunia politik, pemberhentian ketua dewan militer bersama kepala stafnya dan pembekuan dewan militer itu sendiri. Hal ini memberikan secercah cahaya bagi munculnya sistem demokrasi yang didambakan. Sedangkan paska-revolusi 30 Juni, militer semakin kuat secara politik walaupun bukan satu-satunya kekuatan di negara. Sehingga muncul rasa was-was akan masa depan militer Mesir dalam bingkainya sekarang ini.

(3)

Jika ada yang mengatakan bahwa Presiden Morsi melakukan kesalahan telak, penulis tidak akan berbeda pendapat dengan orang tersebut. Namun pada saat yang sama, penulis akan sertakan perbandingan yang penulis sebutkan di atas tadi kepada orang itu agar ia tidak salah tafsir.

Oleh karena itu, bertitik tolak dari adanya kesalahan dan perbedaan penulis dengan penentang Morsi bukan soal adanya kesalahan itu, namun pada bagaimana mencari jalan keluarnya. Maka penulis berada di kubu yang mencari solusi melalui jalur hukum dan konstitusinal, karena melalui jalur ini akan bisa diwujudkan tujuan. Sementara pihak oposisi menggunakan pasukan militer untuk menggulingkan dan memakzulkan Morsi. Kemudian ditempatkan di sebuah tempat rahasia dengan alasan untuk melindunginya. Padahal pihak pengacara dan dokter pribadi Morsi dilarang menjenguk atau melakukan komunikasi dengannya.

Jika persoalannya hanya terbatas pada diri Dr. Morsi dan kelompoknya, tentu ringan. Jika memang hasilnya untuk mendepak Ikhwan dari kekuasaan kemudian posisinya digantikan oleh kelompok lain, tentu kami tidak mempermasalahkannya. Namun ini persoalannya lebih besar dari itu semua. Karena sikap militer kali ini didorong oleh tekanan demo besar yang turun ke jalan. Bisa Anda bayangkan, jika sikap itu kemudian diambil oleh militer karena tekanan yang lebih besar dari demo-demo sebelumnya dan dalam kondisi yang berubah-rubah. Apa jadinya nanti.

Di sisi lain, kita perlu mencermati terhadap serangan bertubi-tubi kepada Revolusi 25 Januari yang disebut oleh sebagian orang sebagai “prahara” yang menimpa Mesir. Bahkan dengan teganya mereka menyebut para pembela revolusi itu sebagai “orang-orang bayaran”. Sebuah sebutan yang tak layak diucapkan. Namun persoalannya lebih dari sekedar perang kata-kata karena nampaknya kita akan kembali menulis sejarah baru Mesir yang tidak lepas dari tangan-tangan rezim Mubarak yang memang berada dibalik pemberangusan Revolusi 25 Januari.

Skenario yang mulai nampak di permukaan adalah tuduhan bahwa Revolusi 25 Januari adalah konspirasi yang didalangi oleh Ikhwan, Hamas dan Hizbullah. Sebuah konspirasi yang menghantarkan Dr. Morsi ke kekuasaan dan membawa proyek “ikhwanisasi” negara.

Adapun selama revolusi dan paska-revolusi terjadi aksi-aksi pembunuhan, penembakan dan pembakaran tempat-tempat umum. Ditambah lagi peristiwa unta yang bertujuan menakut-nakuti para pendemo dan menimbulkan kekacauan di lapangan Tahrir. Dan sejumlah peristiwa lainnya yang dituduhkan kepada pihak ketiga. Padahal sesungguhnya semua itu adalah perilaku Ikhwan, sesuai dengan rencana yang sudah digariskan.

Apa yang penulis sebutkan di atas bukanlah dari penulis. Semua ungkapan tadi banyak dipublis di media massa Mesir. Khususnya harian yang menyebut pendukung Revolusi 25 Januari sebagai orang-orang bayaran. Media-media tersebut menyebutkan bahwa “para iblis” Ikhwan menertawakan rakyat Mesir dan seluruh dunia ketika menyebut peristiwa itu sebagai revolusi. Mereka menipu jutaan orang dengan yel-yel revolusi, yang sering mereka dengungkan; hidup, kebebasan dan keadilan sosial.

Bertitik tolak dari ini, mereka membenci sejarah dan merubah seenaknya saja karena mereka membenci Ikhwan. Maka revolusi 25 Januari dan periode yang mengiringinya, dalam pandangan mereka, adalah konspirasi yang harus dikutuk dan sebuah kejahatan yang jejak-jejaknya harus dihapus.

Skenario itu tidak hanya sebatas di situ saja, karena semua kejahatan yang terjadi, baik saat dan setelah revolusi terjadi, ditudingkan kepada Ikhwan. Bahkan dengan skenario itu, ingin membenarkan kementerian dalam negeri dan aparat keamanan negara dari kesalahan serta ingin membersihkan tangan-tangan kotor mereka dari tuduhan menumpahkan darah dan kekacauan yang terjadi saat revolusi meletus. Pembaca juga bisa menilai bahwa berbagai pengadilan di Mesir memutus bebas, dengan tiba-tiba, para petinggi keamanan yang bertanggungjawab atas terjadinya pembunuhan saat dan setelah revolusi. Selanjutnya di depan mata kita akan menyaksikan skenario yang dirancang dengan seksama dengan tujuan ingin membebaskan para petinggi keamanan dari jerat hukuman dan memutihkan kembali halaman mantan menteri dalam negeri Habib al-Adili. Sebaliknya, tudingan itu akan diarahkan kepada Ikhwan.

Drama, yang kini tengah disiapkan untuk ditayangkan secara tersembunyi, menghasilkan keberhasilan yang luar biasa, dengan tujuan sebagai berikut:

  1. Membunuh Ikhwan dan mengeluarkan dari gelanggang politik.
  2. Membebaskan aparat keamanan dan mempersiapkan kembalinya aparat ini ke lapangan (juru bicara kementerian dalam negeri menjelaskan dengan gamblang dan mengatakan bahwa sejarah berpihak kepada mereka dalam waktu yang sangat cepat).
  3. Membuka pintu rekonsiliasi dengan rezim Mubarak yang menjadi musuh Ikhwan seperti ungkapan yang mengatakan; musuh musuhku adalah temanku. Hal ini yang mendorong penulis bertanya-tanya tentang tujuan apa yang melatarbelakangi diusulkannya rekonsiliasi nasional, yang saat ini ramai dibicarakan oleh banyak kalangan.

(4)

Penulis mencium, melalui pengamatan pada sejumlah peristiwa yang terjadi bertubi-tubi, bau aroma skenario Rumania. Dimana pihak aparat keamanan di negara itu mampu menguasai kembali kendali negara setelah Presiden Nicolae Ceausescu didemo besar-besaran oleh pemrotes. Namun tahun 1989, ia dan isterinya, akhirnya dihukum mati. Tangan-tangan aparat keamanan itu terus bergerak dalam kubu oposisi dan berhasil membentuk, kala itu, apa yang disebut dengan Front Penyelamatan Nasional. Hingga akhirnya para penguasa lama datang kembali dan memegang tampuk pemerintahan.

Penulis tidak ingin mendahului takdir dengan mengatakan bahwa hal itu kemungkinan akan terjadi di Mesir. Namun pada saat yang sama, penulis tidak juga bisa membuang jauh-jauh aroma Rumania dari kondisi di Mesir sekarang ini. Penulis hanya ingin mengingatkan saja bahwa pintu sangat terbuka bagi terjadinya skenario Rumania tersebut. Hal itu sebuah keraguan yang diperkuat oleh sebuah fakta bahwa mereka yang memprediksi akan munculnya sejumlah skenario yang mengkhawatirkan bagi masa depan Mesir, bukan asing lagi. Bukan saja mereka dan bukan pula mimbar yang menjadi corong mereka. #

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s