Diposkan pada Sirah

Meminta Sulthanan Nashira

ukhuwah“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku dengan masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku dengan keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.’” (Q.S. Al-Israa: 80)

Mengenai Q.S. Al-Israa ayat 80 di atas, Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa dahulu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berada di Makkah, lalu diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk hijrah.

Sedangkan dalam menafsirkan ayat ini, al-Hasan al-Bashri mengemukakan: “Sesungguhnya orang-orang kafir dari penduduk Makkah, ketika mereka berunding tentang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan tujuan  membunuhnya atau mengusirnya atau mengikatnya, maka Allah berkehendak membunuh penduduk Makkah. Lalu Allah menyuruh beliau untuk pergi ke Madinah.

Qatadah mengatakan: “Dan katakanlah: ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku dengan masuk yang benar,” yakni Madinah. “Dan keluarkanlah (pula) aku dengan keluar yang benar,” yakni kota Makkah.

Dan firman-Nya: “Dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” Dalam menafsirkan ayat tersebut, al-Hasan al-Bashri mengemukakan, “Rabb-nya menjanjikan kepadanya (Muhammad) untuk menaklukkan kekuasaan bangsa Persia beserta kemuliannya dan Dia akan menyerahkannya kepada beliau. Juga kekuasaan bangsa Romawi beserta kemuliaannya dan Dia menjadikannya untuk beliau.”

Mengenai hal tersebut, Qatadah mengemukakan: “Sesungguhnya Nabi Allah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa dirinya tidak sanggup melakukan perintah tersebut kecuali dengan kekuasaan yang dapat menolong Kitab Allah, hukum-hukum-Nya dan semua kewajiban yang ditentukan-Nya serta untuk menegakkan agama-Nya. Sesungguhnya kekuasaan itu merupakan rahmat dari Allah subhanahu wa Ta’ala yang Dia tegakkan di tengah-tengah semua hamba-Nya. Kalau bukan karena kekuasaan tersebut, niscaya sebagian orang akan dengki kepada sebagian lainnya, sehingga yang kuat dari mereka akan memakan yang lemah.” [1]

Senada dengan penjelasan Qatadah di atas, Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqar berkata: “Disebutkan (bahwa ayat ini, red.) diturunkan pada saat diperintahkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk berhijrah, masuklah ke Madinah dan keluarlah dari Makkah, masuklah dengan  penuh kemuliaan dan keluarlah dengan pertolongan. ‘Dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.’ Yakni hujjah yang unggul dan kuat yang dapat menolongku dari seluruh kekuatan yang melawanku. Dikatakan pula (ayat ini) adalah perintah kepadanya (Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam) untuk meminta kepada Rabnya kekuasaan dan negara yang kuat di dunia ini yang dijadikan baginya kemuliaan untuk meninggikan dan menolong urusan agama, maka diberikanlah kepadanya negara di Madinah.[2]

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, ayat ini mengajari kita untuk memohon kepada Allah Ta’ala agar dikeluarkan dari kesulitan, kesempitan, dan dikeluarkan dari berbagai tekanan dakwah, lalu dimasukkan ke dalam kondisi unggul, kuat, dan terlindungi karena memiliki kekuasaan yang dapat menolong. Dalam konteks kita saat ini, ayat di atas mengingatkan kita agar selalu mencari jalan keluar,  jangan sampai putus asa dan menyerah. Langkah-langkah manusiawi harus ditempuh, seraya terus bertawakkal kepada-Nya hingga Allah Ta’ala mengaruniakan sulthanan nashira kepada kita.

Sulthanan Nashira

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berputus asa dalam perjuangannya, ketika kaum Quraisy menolak dakwah dan melancarkan tekanan-tekanan kepadanya, beliau terus menawarkan dakwahnya kepada kabilah-kabilah Arab pada musim haji, pada pertemuan-pertemuan mereka, serta menemui tokoh-tokoh masyarakat. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam meminta mereka agar mau menerimanya dan melindunginya sehingga beliau dapat berdakwah menyampaikan risalah Allah Ta’ala dengan tenang.

Pernah suatu kali Rasulullah berkata kepada mereka: “Aku tidak membenci kalian sedikitpun. Barangsiapa yang ridha dengan apa yang aku dakwahkan, maka itulah dakwahku. Dan barangsiapa yang tidak menyukainya, aku tidak akan memaksananya. Aku hanya ingin kalian mau melindungiku dari orang yang ingin membunuhku, sehingga aku dapat menyampaikan risalah Rabbku, sehingga Allah putuskan padaku dan para pengikutku seperti yang dikehendakiNya.”[3]

Namun tidak ada seorangpun yang menerimanya. Bahkan ada di antara mereka yang mengatakan:  “Kaumnya orang ini lebih tahu tentangnya, mungkinkah ia akan memperbaiki kita, sementara ia telah merusak kaumnya?”

Penolakan-penolakan itu tidak membuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mundur. Beliau terus bergerak dan akhirnya Allah Ta’ala berkehendak menyediakan para pengikut dan penolong dari kalangan anshar radhiyallahu anhum, yakni kaum Aus dan Khazraj dari Yatsrib. Diawali dengan Bai’atul Aqabah pertama dan Baiatul Aqabah kedua.

Baiatul Aqabah I

Diceritakan oleh Ubadah bin Shamit, bahwa pada Baiatul Aqabah yang pertama, mereka berbaiat kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka[4] dan tidak akan mendurhakai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan yang baik.

Setelah rombongan ini usai berbaiat, mereka kembali ke Yatsrib. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyertakan duta dakwah bersama mereka, yakni Mush’ab bin Umair untuk mengajak beriman kepada orang yang belum beriman, mengajar kepada orang-orang yang sudah beriman, mendalami agama, dan membacakan Al Qur’an. Di Madinah Mush’ab menjadi tamu As’ad bin Zararah yang membantunya berdakwah. Mush’ab mengajak kaum musyrikin memeluk Islam dengan hikmah dan nasehat yang baik. Berpindah dari satu rumah ke rumah lain, dari satu forum ke forum lain, membacakan Al Qur’an, mengingatkan mereka dengan ucapan-ucapan yang dihafal dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, berbekal sabar dan ikhlas, pemahaman agama yang mendalam, ilmu tentang metode dakwah, cara meyakinkan orang lain, dan kemampuan mempengaruhi orang lain.

Upaya dakwah Mush’ab membuahkan hasil, diantaranya adalah masuk Islamnya Sa’d bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair yang merupakan dua tokoh penting di Yatsrib. Dengan keislaman kedua orang ini, seluruh penduduk Bani Abdul Asyhal pun masuk Islam. Sehingga tidak ada satupun rumah orang anshar kecuali di sana telah ada lelaki dan wanita yang telah masuk Islam.

Kaum muslim sudah memungkinkan untuk shalat jum’at. As’ad bin Zararah dan Mush’ab bin Umar bersama dengan sejumlah kaum muslimin berkumpul di tempat yang disebut  Naqi’ ul-khadhamat, menyelenggarakan shalat jum’at pertama di Madinah, mereka berjumlah empat puluh orang.[5]

Jadilah Yatsrib, yang di kemudian hari berganti nama menjadi Madinah, tempat yang siap untuk mengemban da’wah Islam, menjadi rumah bagi kaum muslimin. Dengan demikian, Baiatul Aqabah I menjadi muqaddimah dan penyiapan untuk Baiatul Aqabah II, langkah penting perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah.

Baiatul Aqabah II

Pada tahun kedua belas setelah kenabian, setahun setelah Baiatul Aqabah pertama, Mush’ab bin Umair pergi ke Makkah untuk menghadiri musim haji, dan melaporkan kepada Rasulullah tentang penerimaan yang baik penduduk Yatsrib terhadap Islam.

Pada saat itu berangkat pula sekelompok kaum Anshar yang juga hendak menunaikan haji dan menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengetahui kesulitan besar yang dialami kaum muslimin di jalan dakwah. Mereka tersentuh hati akan keadaan Rasulullah yang tidak dapat leluasa berdakwah. Mereka tersentuh hati ketika saudara-saudara mereka diintimidasi di Makkah sementara mereka merasa aman di Yatsrib.

Dari itulah mereka bersemangat menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menunaikan kewajiban agama dan nabinya. Mereka ingin berbuat sesuatu untuk melepaskan jeratan tali yang mencekik itu, yang menimpa Islam dan kaum muslimin. Antara mereka terjadi percakapan:  “Sampai kapan kita biarkan Rasulullah berkeliling ke kabilah-kabilah Makkah lalu ditolak, dan ketakutan?

Ketika rombongan  ini tiba di Makkah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menemui para pemuka mereka dengan sembunyi-sembunyi. Lalu Rasulullah saw menjanjikan untuk bertemu mereka di Aqabah, di tengah malam, di tengah hari tasyriq. Rasulullah meminta mereka untuk merahasiakan hal ini dari kaum Quraisy dan orang-orang musyrik Yatsrib yang menemani mereka.

Maka  berkumpulah 73 orang di Aqabah, yakni 62 orang dari kaum Khazraj, dan 11 orang dari kaum Aus, bersama mereka terdapat dua orang wanita yaitu Nusaibah bint Ka’b dari Bani Najjaar dan Asma’ bint Amr dari Bani Salimah

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tiba di tempat pertemuan ditemani oleh Al-Abbas bin Abdul Muththalib, yang masih memeluk agama nenek moyangnya.

Pada saat itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  Saya minta kalian berbaiat (berjanji) untuk melindungiku sebagaimana kalian melindungi isteri dan anak-anak kalian.

Al-Barra’ bin Ma’rur memegang tangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: Demi Yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, sungguh kami akan melindungimu sebagaimana kami melindungi isteri kami. Maka baiatlah kami kami Wahai Rasulullah, Demi Allah kami adalah tukang perang dan ahli pedang. Kami warisi keterampilan ini dari nenek moyang kami.

Setelah itu Abul Haitsam bin At Tiyhan berdiri dan berkata: Ya Rasulallah, sesungguhnya antara kami dan mereka (maksudnya adalah Yahudi) ada hubungan dan kami akan memutuskannya. Apakah nanti setelah kami lakukan kemudian Allah berikan kemenangan kepadamu lalu kamu kembali ke kaummu dan meninggalkan kami?

Rasulullah tersenyum dan berkata: “Bahkan darah dibayar darah, aku menjadi bagian dari kalian dan kalian menjadi bagian dariku, aku perangi orang yang kalian perangi dan aku berdamai dengan orang yang kalian berdamai.

Pada saat itu As’ad bin Zararah berkata: “Wahai Muhammad, mintalah untuk Rabbmu apa yang kamu mau, kemudian mintalah untuk dirimu setelah itu apa yang kamu mau, kemudian beritahukan kepada kami balasan apa yang kami terima jika kami melakukannya.

Rasulullah saw berkata: Aku meminta kalian untuk Rabbku agar kalian menyembah-Nya dan tidak mensekutukan dengan apapun. Dan aku minta untuk diriku dan sahabatku agar kalian menerimanya dan menolongnya, melindungi kami sebagaimana kalian melindungi diri kalian sendiri.

Mereka berkata: Lalu apa yang kami dapatkan jika hal ini kami lakukan?”

Jawab Nabi : ”Surga.”

Mereka berkata: ”Bagimu semua itu.”—maksudnya mereka sanggup memenuhi permintaan yang diajukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Kaum Anshar telah ikhlas dan bertekad bulat untuk berbaiat berbaiat kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dan yang pertama berbaiat adalah Al Barra’ bin Ma’rur.

Dari Jabir berkata: “Aku tanyakan, Wahai Rasulullah, untuk apa kami membaiatmu?’”, Nabi menjawab: Engkau membaiatku untuk mendengar dan taat dalam semangat dan malas, berinfaq dalam keadaan susah dan mudah, beramar ma’ruf nahi munkar, membela agama Allah, tidak takut celaan pencela, menolongku dan membelaku ketika aku sudah ada bersamamu, sebagaimana kamu semua menjaga diri, anak-anak, dan isterimu. dan surga menjadi balasanmu.’”

Setelah kaum Anshar berbaiat atas beberapa syarat ini, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam meminta ditunjukkan kepadanya 12 orang naqib (pimpinan) yang menjadi perwakilan kaumnya. Ditunjuklah oleh kaum Anshar 12 orang naqib, sembilan dari Khazraj dan tiga orang dari Aus. Tugas para naqib ini adalah memandu perjalanan dakwah di Yatsrib. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan tugas mereka dengan mengatakan: Kalian semua bertanggung jawab atas kaum kalian sebagaimana kaum Hawariyyin bertanggung jawab kepada Nabi Isa alaihissalam. Dan saya menjadi penanggung jawab kaumku semua.”

Baiat ini telah menetapkan dukungan dan jaminan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan baiat ini Yatsrib menjadi tempat berlindung kaum muslimin. Mereka menemukan kebebasan utuh dalam menunaikan ibadahnya. Dan bersama dengan Rasulullah mereka dapat bertolak untuk menyampaikan dakwahnya kepada seluruh penduduk Yatsrib dan yang lainnya agar menjadi umat Islam, masyarakat muslim yang semua urusannya tunduk kepada rambu-rambu Al Qur’an.

Mereka menemukan saudara baru yang mencintainya, memprioritaskan mereka dalam semua kebaikan, mengorbankan jiwa dan hartanya untuk membela Islam, Nabinya, dan kaum muslimin lainnya.

Baiat ini berperan penting dalam merubah perjalanan dakwah Islam. Belenggu yang selama ini mengekangnya telah hancur. Kondisi umat Islam telah berubah dari minoritas dan lemah menjadi mayoritas dan kuat. Dari tidak berdaya melawan para pengganggunya menjadi kuat menangkis serangan yang diarahkan padanya. Dikumandangkanlah terbitnya negeri Islam baru di Madinah. Kondisi kaum muslimin telah berubah dari orang-orang tertindas di Makkah, mengungsi ke Habasyah menjadi umat yang eksis bernegara di antara bangsa lainnya.

Tiada Kata Menyerah!

Berdirinya daulah Islam pertama ini adalah buah dari kesabaran meniti jalan dakwah. Ibrahnya bagi kita—sekali lagi—bahwa dalam perjuangan agar selalu mencari jalan keluar,  jangan sampai berputus asa.

Biarlah mereka selalu mengolok-olok, menghina dan mengejek kita. Biarlah mereka selalu menghasut masyarakat agar tidak menyenangi kita. Biarlah mereka melakukan beribu cara konspirasi. Biarlah mereka menuduh dan memfitnah kita. Biarlah mereka menekan kita. Biarlah mereka melukai hati dan fisik kita. Biarlah mereka menyebarkan berita-berita bohong tentang kita. Biarlah mereka memboikot kita.

Biarlah mereka menyaksikan, kita tidak akan pernah berhenti. Biarlah mereka menyaksikan, dengan pertolongan Allah, akhirnya kitalah yang akan memperoleh kemenangan. Biarlah mereka menyaksikan, kita akan terus melangkah dan bekerja, seraya terus bersabar meminta kepada Allah agar dianugerahi sulthanan nashira.

Jawaban kita kepada mereka hanya satu: “Tiada kata menyerah!”

Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir….la haula wa la quwwata illa bi-Llahil ‘aliyyil adziim…

 

 

 

 


[1] Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5, Tahqiq oleh DR. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

[2] Zubdatu Tafsir, Muhammad Sulaiman Al-Asyqar, Hal. 290, Darun Nafais, Yordania.

[3] Al-Bidayah, Juz III, Hal. 140

[4] Perbuatan yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka itu maksudnya ialah mengadakan pengakuan-pengakuan palsu mengenai hubungan antara pria dan wanita seperti tuduhan berzina, tuduhan bahwa anak si Fulan bukan anak suaminya dan sebagainya.

[5] Sirah Ibnu Hisyam, Juz II, Hal. 46

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s