Diposkan pada Fiqih

Boleh Menikahi Perempuan Ahli Kitab, Tapi…

cincin“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (Q.S. Al-Baqarah: 221)

Firman Allah di atas menunjukkan haramnya menikahi perempuan-perempuan Majusi (penyembah api) dan penyembah berhala. Lalu bagaimanakah hukumnya menikahi perempuan-perempuan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani)?

Syaikh Muhammad Ali As-Shabuni dalam kitabnya Rawai’ul Bayan Fi Tafsiri Ayatil Ahkam Minal Qur’an mengatakan bahwa perempuan-perempuan Ahli Kitab boleh dinikah, sebab Allah berfirman: “…Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu…” (Q.S. Al-Maidah: 5). Begitulah pendapat Jumhur (mayoritas ulama) dan termasuk di dalamnya ulama mazhab yang empat.

Namun Ibnu Umar r.a. berpendapat haram mengawini perempuan-perempuan Ahli Kitab. Jika ia ditanya tentang laki-laki Muslim yang mengawini perempuan Nasrani atau Yahudi, ia menjawab: “Allah mengharamkan perempuan musyrikah dinikahi orang-orang Islam, dan aku tidak melihat kesyirikan yang lebih besar dari seorang perempuan yang berkata: ‘Isa adalah Tuhan.’ , atau Tuhannya adalah seorang manusia hamba Allah.” (HR. Bukhari dari Nafi’ dari Ibnu Umar). Syi’ah Imamiyah dan sebagian Syi’ah Zaidiyah juga berpendapat demikian. Mereka mengatakan bahwa ayat 5 al-Maidah telah dinasakh oleh ayat 221 surat Al-Baqarah.

Alasan Jumhur 

  • Jumhur berpendapat, bahwa lafal “musyrikat” tidak mencakup Ahli Kitab karena Allah berfirman, “Orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu.” (Q.S. 2: 105), di sini Allah meng-athaf-kan (menghubungkan) lafal “musyrikin” kepada lafal “ahli kitab”, sedang athaf berfungsi menghubungkan antara dua kata atau dua kalimat yang berlainan. Maka secara zhahiriyah, lafal “musyrikat” tidak dapat mencakup “kitabiyyat” (perempuan-perempuan Ahli Kitab).
  • Mereka juga berdalil dengan adanya riwayat  dari ulama salaf yang membolehkan menikahi perempuan-perempuan Ahli Kitab. Qatadah berkata dalam menafsirkan ayat tersebut, bahwa yang dimaksud “al-musyrikat” ialah “musyrikatul arab” (perempuan-perempuan musyrikat Arab), yang tidak mempunyai kitab samawi. Dari Hamad, ia pernah berkata: “Aku pernah bertanya kepada Ibrahim tentang mengawini perempuan Yahudi dan Nasrani, ia menjawab: ‘Boleh saja.’ Lalu aku bertanya lagi: ‘Bukankah Allah berfirman: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik…”? Kemudian ia menjawab: ‘Itu (yang dimaksud) adalah perempuan-perempuan Majusi dan penyembah berhala.’” (Lihat: Tafsir Ruhul Ma’ani, 2: 118).
  • Jumhur juga beralasan, bahwa ayat dalam surat Al-Baqarah tersebut tidak menasakh (menghapus) ayat dalam surat al-Maidah itu, karena Al-Baqarah adalah permulaan ayat-ayat yang turun di Madinah, sedang Al-Maidah ayat-ayat terakhir yang turun di sana, padahal menurut qaidahnya, yang akhir itulah yang menasakh ayat yang lebih dahulu turunnya dan bukan sebaliknya.
  • Ada riwayat bahwa Hudzaifah pernah menikahi seorang perempuan Yahudi, kemudian Umar menyuratinya yang isinya menyuruh agar Hudzaifah menceraikannya. Lalu Hudzaifah membelas surat Umar tersebut: “Apakah engkau mengira bahwa menikahi dia (perempuan ahli kitab) itu haram, lalu engkau menyuruhku menceraikannya?” Umar menjawab: “Aku tidak menganggap haram, tetapi aku khawatir engkau menikahi perempuan pelacur dari kalangan mereka.” (Lihat: at-Thabari, 2: 378 dan al-Qurthubi, 3: 68). Ini menunjukkan bahwa apa yang dikatakan Umar itu sifatnya hanya berhati-hati dan khawatir, tidak berarti ia beranggapan bahwa menikahi perempuan ahli kitab itu haram.
  • Jumhur juga beralasan dengan hadits yang diriwayatkan Abdurrahm,an bin Auf r.a. dari Rasulullah saw bahwa ia bersabda tentang orang Majusi: “Perlakukanlah mereka itu sebagaimana (kamu memperlakukan) Ahli Kitab, hanya (yang tidak boleh adalah) mengawini perempuan-perempuan mereka dan makan sembelihan-sembelihan mereka.” (Diriwayatkan dalam Kitab-kitab Shahih, lihat juga: Tafsir Fakhrur Razi, 6: 61). Maka seandainya menikahi perempuan-perempuan Ahli Kitab itu tidak boleh, tentu sabda Nabi ini tak ada artinya.

Setelah mengikuti pembicaraan ini At-Thabari berkata: “Pendapat yang paling kuat tentang ta’wil ayat ini (Q.S. 2: 221) ialah pendapat Qatadah yang mengatakah bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya: ‘Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik…’ itu ialah mereka yang non Ahli Kitab yaitu perempuan-perempuan musyrikah, dan ayat tersebut zhahirnya adalah ‘am (umum) sedang batinnya khas (khusus), tidak dinasakh oleh ayat mana pun, dan bahwa perempuan-perempuan Ahli Kitab itu tidak tergolong di dalamnya, sebab Allah telah berfirman: ‘dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab…’ (Q.S. 5: 5), yakni halal bagi kaum muslimin menikahi mereka sebagaimana Allah menghalalkan mereka menikahi perempuan-perempuan yang mukminah.

 

Ada riwayat dari Umar, bahwa ia pernah berkata: “Laki-laki muslim (boleh) menikahi perempuan Nasrani dan (sebaliknya) laki-laki Nasrani tidak (boleh) menikahi perempuan Muslimah.”

Adapun sikap Umar yang tidak menyukai Thalhah dan Hudzaifah yang menikahi perempuan Yahudi dan Nasrani ialah karena khawatir diikuti orang-orang Islam lainnya sehingga mereka akan menjauhi perempuan-perempuan Muslimah atau mungkin ada maksud-maksud lain, sehingga ia menyuruh menceraikannya (lihat: Jami’ul Bayan, At-Thabari, 2: 377 – 378).

Syaikh Muhammad Ali As-Shabuni berkata: “Semoga Allah merahmati Umar, karena ia telah bersungguh-sungguh memperhatikan kemaslahatan kaum muslimin dan mengatur mereka dengan pandangan yang jauh dan demi kemaslahatan (sehingga ia berkata seperti yang ia katakan tentang menikahi perempuan-perempuan Ahli Kitab), alangkah perlunya kita kepada siasat yang bijak seperti itu?”

Siapakah Laki-laki Musyrik yang haram dinikahkan dengan perempuan-perempuan mukminah itu?

Firman Allah, “Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman…” itu menunjukkan haramnya menikahkan laki-laki musyrik dengan perempuan mukminah, dan yang dimaksud “laki-laki musyrik” disini, ialah semua orang kafir, pemeluk agama non Islam, mencakup penyembah berhala, Majusi, Yahudi, Nasrani dan orang yang murtad dari Islam. Mereka semua haram dinikahkan dengan perempuan muslimah, karena Islam itu tinggi tidak dapat diatasi, maka laki-laki Muslim boleh menikahi perempuan Yahudi atau Nasrani, sedang laki-laki mereka (non Islam) tidak boleh menikahi perempuan Muslimah.

Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung telah menjelaskan dalam firman-Nya, “Mereka itu mengajak ke neraka.”, yakni mengajak kepada kekufuran yang akan menjadi sebab masuk ke neraka.  Seorang laki-laki memiliki kekuasaan dan wewenang atas istrinya, maka dikhawatirkan ia akan memaksa istrinya yang Muslimah itu kepada kekufuran sehingga akan meninggalkan agamanya dan anak-anak mereka akan mengikuti agama si ayah. Kalau si ayah seorang Yahudi atau Nasrani tentu ia akan mendidik dan mengarahkan anak-anaknya sesuai agama yang dipeluknya sehingga menjadilah anak-anak mereka sebagai orang-orang kafir ahli neraka.

Di sisi lain, bahwa sesungguhnya seorang laki-laki Muslim tetap menghormati dan mengagungkan Nabi Musa dan Isa a.s. serta mempercayai kerasulan mereka dan mempercayai Kitab Taurat dan Injil sebagai kitab-kitab yang diturunkan Allah SWT (sebelum diubah-ubah dan dikotori oleh tangan-tangan pemalsu-pemalsunya), dan tentu saja si laki-laki Muslim yang beristrikan perempuan Yahudi atau Nasrani tidak akan i’tiqad-i’tikad tersebut mengganggu perasaan keimanan istrinya. Hal itu berbeda sekali situasinya kalau si laki-lakinya Yahudi dan Nasrani sedang istrinya perempuan Muslimah, di mana sang suami tidak mempercayai Kitab suci Al-Qur’an dan tidak mempercayai kerasulan Muhammad saw, maka hal itu tentu akan mengganggu perasaan istrinya yang Muslimah, serta secara tidak langsung merupakan penghinaan atas keimanannya kepada agamanya.

Syaikh Ali Muhammad As-Shabuni pernah ditanya seorang mahasiswa non Muslim, saat beliau menyampaikan kuliah agama di kota Aleppo, “Mengapa laki-laki muslim boleh menikahi perempuan Nasrani sedang laki-laki Nasrani tidak boleh mengawini perempuan Muslimah?” Pertanyaan ini bermaksud menyindir kaum Muslimin bahwa mereka fanatik.

Syeikh menjawab: “Kami laki-laki muslim mengimani Nabimu, Isa, dan kitabmu, Injil, maka jika kamu mengimani Nabi kami dan Kitab kami, tentu kami akan mengawinkan kamu dengan putri-putri kami, maka siapakah sebenarnya yang fanatik di antara kita ini?”

Maka menjadi bingunglah mahasiswa non muslim itu.

Sumber: Terjemahan Tafsir Ayat Ahkam Ash-Shabuni, hal. 232 – 236, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1983.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s