Diposkan pada Aqidah

Anwa’u Syirk

Macam-macam Syirik[1]

Oleh: M. Indra Kurniawan

Syirik (menyekutukan Allah) itu terbagi dua.

Pertama, syirik besar (asy-syirkul akbar). Syirik besar ini terbagi menjadi dua: at-tajalli (terang) dan at-takhafiyy (tersembunyi).

Termasuk syirik akbar yang tajalli (terang) adalah menyembah sesuatu selain Allah Ta’ala: menyembah benda angkasa (matahari, bulan, bintang, dan lain-lain), benda mati (patung, batu, dan lain-lain), binatang (sapi, anak sapi, dan lain-lain), manusia, dan makhluk ghaib (jin, setan, dan malaikat).

Sedangkan syirik akbar yang takhafiyy (tersembunyi) contohnya adalah berdo’a dan mohon pertolongan kepada orang mati. Yakni meminta pertolongan dan pemenuhan hajat kepada para wali, seperti penyembuhan orang sakit, kelapangan dari kesulitan, kemenangan atas musuh, dll. Termasuk syirik akbar  takhafiyy adalah meyakini para wali mampu memberikan manfaat atau madharat.

Disebut syirik akbar takhafiyy (tersembunyi) karena orang-orang yang melakukannya tidak menganggap do’a, meminta pertolongan, dan meminta bantuan kepada para wali yang sudah mati sebagai ibadah. Mereka mengira bahwa ibadah hanya terbatas pada shalat dan puasa atau semacamnya. Padahal do’a, meminta pertolongan, dan meminta bantuan adalah ruh ibadah.

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

“Do’a adalah ibadah”. (HR. At-Tirmidzi)

Mereka juga berkata: “Kami tidak menganggap para wali sebagai sesembahan atau tuhan, mereka hanyalah perantara antara kami dengan Allah…”. Kalimat ini persis seperti asumsi yang menjerumuskan kaum musyrikin pada masa lalu saat mengatakan:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

 “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. (QS. Az-Zumar, 39: 3).

Padahal Allah Ta’ala tidak membutuhkan perantara. Dia lebih dekat kepada hamba-Nya daripada urat nadi, sebagaimana firman-Nya,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.” (QS. Al-Baqarah, 2: 186)

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.’” (QS. Al-Mu’min, 40: 60)

Pintu Allah Ta’ala terbuka bagi siapa saja yang hendak masuk, tidak ada pengawal dan penjaga.

Namun, ada tata cara berdo’a melalui perantara yang diperselisihkan hukumnya, yakni berdo’a dengan cara tawassul. Silahkan baca kajian tentang tawassul ini yang ditulis Ustadz Farid Nu’man Hasan (klik disini).

Termasuk syirik takhafiyy adalah menjadikan selain Allah Ta’ala sebagai pemilik hak membuat syariat; menghalalkan dan mengharamkan, menetapkan aturan, atau ketentuan-ketentuan yang bertolak belakang dengan syariat Allah. Padahal yang memiliki hak pensyariatan itu hanyalah Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala memvonis ahli kitab sebagai musyrik karena mereka memberikan hak pensyariatan kepada pendeta dan rahib mereka.

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah, 9: 31)

Adiy bin Hatim -seorang Nasrani yang kemudian masuk Islam pada masa Rasulullah-mengomentari ayat di atas dengan mengatakan: “Mereka tidak menyembah para pendeta dan rahib.” Rasulullah kemudian menjawabnya,

بَلَى اِنَّهُمْ حَرَّمُوْا عَلَيْهِمُ اْلحَلاَلَ وَ اَحَلُّوا اْلحَرَامَ فَاتَّبَعُوْهُمْ؟ فَذلِكَ عِبَادَتُهُمْ اِيَّاهُمْ. احمد  الترمذى و ابن جرير

“Betul. Tetapi bukankah mereka orang-orang ‘alim dan para rahib itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka (pengikutnya) mengikutinya? Demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Jarir)

Kedua, syirik kecil (asy-syirkul ashghar). Tingkatannya lebih rendah dari syirik besar, tapi ia termasuk dosa besar, bahkan di sisi Allah Ta’ala lebih besar daripada dosa besar lainnya. Termasuk syirik-syirik kecil adalah:

  1. Al-Halfu bighairillah (bersumpah dengan selain Allah).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa bersumpah hendaklah bersumpah dengan Allah atau diam”. (HR. Bukhari).

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, sungguh ia telah kafir atau syirik”. (HR. Tirmidzi)

Contoh ucapan sumpah dengan selain Allah: “Demi Rasulullah.”, “Demi Ka’bah yang mulia.”, “Demi Syaikh Fulan yang mulia”, “Demi bintang yang bersinar”, dan lain-lain.

  1. Ta’liqut Tama’im (mengalungkan jimat).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirik” (H.R. Ahmad)

Maksud ‘menggantungkan tamimah’ adalah mengalungkannya dan hatinya bergantung kepadanya dalam menggapai kebaikan atau menolak keburukan.

  1. Ar-Ruqa (mantera/jampi).

Dari Abdullah, beliau  berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ الرُّقًى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوَالَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya ruqyah (mantera/jampi), azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik.” (H.R. Ahmad).

Ruqa atau ruqyah yang termasuk perbuatan syirik adalah yang terdapat di dalamnya permohonan bantuan kepada selain Allah. Sedangkan ruqyah yang tidak mengandung syirik diperbolehkan berdasarkan hadits berikut,

عَنْ عَوْفٍ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قـال : كُنَّا نَرْقِي فِى الْجَـاهِلِيَّةِ، فَقُلْنـَا يـَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَرَى بِذلِكَ ؟ فَقَالَ : أَعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَـأْسَ بِالرُّقْيَةِ مَالَمْ تَكُنْ شِرْكـاً

Dari sahabat ‘Auf bin Malik ra dia berkata : “Kami dahulu meruqyah di masa Jahiliyyah, maka kami bertanya : ‘Ya Rasulullah, bagaimana menurut pendapatmu ?’ Beliau menjawab : ‘Tunjukkan padaku Ruqyah (mantera) kalian itu. Tidak mengapa mantera itu selama tidak mengandung kesyirikan’” (HR. Muslim).

  1. As-Sihru (sihir)

Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَقَدَ عُقْدَةً ثُمَّ نَفَثَ فِيهَا فَقَدْ سَحَرَ، وَمَنْ سَحَرَ فَقَدْ أَشْرَكَ، وَمَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

“Barang siapa membuat ikatan dan meniup padanya, berarti dia telah berbuat sihir; barang siapa berbuat sihir, dia telah berbuat syirik. Barang siapa menggantungkan sesuatu, dia diserahkan kepada sesuatu itu (tidak akan ditolong oleh Allah).” (HR. an-Nasa’i. Menurut Ad-Dausari hadits ini marfu’, dhaif, dan mursal dari al-Hasan; sanadnya shahih [lihat: An-Nahjus Sadidhal. 145 dan 134]).

Dari Abu Musa, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَمُصَدِّقٌ بِالسِّحْرِ وَقَاطِعُ الرَّحِمِ

“Tiga (golongan) yang tidak dimasukkan ke dalam surga adalah: pecandu khamr, orang yang membenarkan sihir dan pemutus hubungan kekeluargaan.”(Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibbân dalam Shahîh-nya).

  1. Al-Kahanah (pedukunan)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi Kahin (dukun/peramal) lalu dia mempercayai perkataannya maka dia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad shalallaahu alaihi wasalam.” (HR. Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan,

مَنْ أَتَى عَرَّافاً فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْئٍ فَصَدَّقَهُ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal kemudian bertanya sesuatu lalu dia mempercayainya, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.” (HR. Muslim, no. 2230. Ucapan ‘lalu dia mempercayainya’ tidak berasal dari riwayat Muslim, akan tetapi berasal dari riwayat Imam Ahmad, 4/28)

Orang yang mempercayai dukun atau peramal telah dianggap kufur karena ia menyelisihi firman Allah Ta’ala,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

“Katakanlah: ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml, 27: 65)

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al-An’am, 6: 59)

  1. Ad-Dzhibhu ligharillah (penyembelihan [kurban] untuk selain Allah).

Penyembelihan untuk selain Allah ditentang oleh ajaran Islam karena ia adalah kebiasaan kaum musyrikin. Seorang muslim diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk memproklamirkan kemurnian ibadahnya hanya kepada Allah Ta’ala,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al-An’am, 6: 162-163)

Yang dimaksud ‘nusuk’ pada ayat di atas adalah menyembelih dengan tujuan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.

Dalam hadits yang diriwayatkan Ali bin Abu Thalib disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ الْمَنَارَ

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang melindungi pelaku dosa besar/ kebid’ahan. Allah melaknat orang yang melaknat kedua orangtuanya. Allah melaknat orang yang merubah tanda (batas tanah).” (H.R Muslim)

Tercelanya perilaku menyembelih/berkurban untuk selain Allah tergambar pula pada hadits berikut,

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَاب، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (دَخَلَ الجَنَّةَ رَجُلٌ فِي ذُبَابٍ، وَدَخَلَ النَّارَ رَجُلٌ فِي ذُبَابٍ) قَالُوْا: وَكَيْفَ ذَلِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟! قَالَ: (مَرَّ رَجُلَانِ عَلَى قَوْمٍ لَهُمْ صَنَمٌ لَا يُجَوِّزُهُ أَحَدٌ حَتَّى يُقَرِّبُ لَهُ شَيْئاً، فَقَالُوْا لِأَحَدِهِمَا قَرِّبْ قَالَ: لَيْسَ عِنْدِيْ شَيْءٌ أُقَرِّبُ قَالُوْا لَهُ: قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَاباً، فَقَرَّبَ ذُبَاباً، فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُ، فَدَخَلَ النَّارَ، وَقَالُوْا لِلآخَر: قَرِّبْ، فَقَالَ: مَا كُنْتُ لِأُقَرِّبَ لِأَحَدٍ شَيْئاً دُوْنَ الله عَزَّ وَجَلَّ، فَضَرَبُوْا عُنُقَهُ فَدَخَلَ الجَنَّةَ)

“Dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban (memberikan sesaji) sesuatu untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, “Berkorbanlah.” Ia pun menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.” Mereka mengatakan, “Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.” Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah, ia masuk neraka. Mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya, “Berkorbanlah.” Ia menjawab, “Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘Azza wa Jalla.” Akhirnya, mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah, ia masuk surga.” (HR. Ahmad)

  1. At-Thiyarah (merasa sial karena sesuatu).

Telah diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَنْ يَقُوْلَ أَحَدُهُمْ :اَللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.

“Barangsiapa mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Para Sahabat bertanya: “Lalu apakah tebusannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur [merasa sial]) melainkan makhluk-Mu dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.’” (HR. Ahmad)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلاَّ، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.

“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.” (HR. Abu Daud)

Demikianlah pembahasan ringkas tentang macam-macam syirik.

Wallahu a’lam.

[1] Pembahasan madah ini merujuk kepada buku Haqiqatut Tauhid, Yusuf Al-Qaradhawi

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s