Diposkan pada Akhlak

Teladan Umat: Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al-Qaradhawi

bin baz qaradawiSalah satu keteladanan yang banyak dipraktikkan oleh para ulama salaf adalah sikap saling menghargai dan menghormati saudara-saudaranya yang berbeda pendapat dengan mereka. Sikap seperti ini juga telah ditunjukkan oleh dua ulama besar di zaman kita ini: Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah (w. 1420 H) dan Syaikh Yusuf bin Abdillah Al-Qaradhawi hafizhahullah.

Syaikh Al-Qaradhawi berkata: “Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah mengirim surat kepada saya lebih dari seperempat abad yang lalu. Dalam surat tersebut, beliau memberitahukan kepada saya bahwa Departemen Penerangan memberikan kitab saya—Al-Halal wa Al-Haram fi Al-Islam—kepada beliau; Apakah kitab tersebut boleh masuk ke wilayah kerajaan Saudi Arabia atau tidak? Beliau menginginkan agar jangan sampai para pembaca di Saudi dilarang membaca kitab-kitab saya yang menurut beliau, ‘mempunyai nilai tersendiri di dunia Islam’. Beliau mengabarkan, bahwa para Syaikh di Saudi mempunyai delapan catatan atas kitab saya tersebut, di mana beliau menyebutkan semuanya di dalam suratnya. Beliau meminta kepada saya agar mau menelaah kembali isi kitab saya tersebut. Sebab, ijtihad manusia itu bisa saja berubah di lain waktu. Lanjutkan membaca “Teladan Umat: Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al-Qaradhawi”

Iklan
Diposkan pada Akhlak

Inginkah Anda Bersenang-senang di Surga?

sunsetJangan menganggap remeh amal baik sekecil apa pun! Karena bisa jadi amal yang kita anggap remeh, ternyata amat besar kebaikannya di akhirat kelak, karena diridhoi oleh Allah Ta’ala. Hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa hadisnya,

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيْقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ فَاَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللهُ لَهُ، فَغَفَرَ اللهُ لَهُ. البخارى و مسلم

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Pada suatu hari ada seorang laki-laki berjalan di suatu jalan. Kemudian mendapati sebuah dahan yang berduri, lalu dia menyingkirkannya. Maka Allah berterima kasih kepadanya (menerima amalnya) sehingga Allah mengampuninya”. [HR. Bukhari dan Muslim]

و فى رواية لمسلم قال: لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِى اْلجَنَّةِ فِى شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيْقِ كَانَتْ تُؤْذِى اْلمُسْلِمِيْنَ.

Dan di dalam satu riwayat dari Muslim, disebutkan : Beliau bersabda, “Aku telah melihat seorang laki-laki bersenang-senang di surga disebabkan dia memotong sebuah pohon di jalan yang mengganggu kaum muslimin”.

و فى أخرى له: مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ الطَّرِيْقِ، فَقَالَ: وَ اللهِ َلأُنَحِّيَنَّ هذَا عَنِ اْلمُسْلِمِيْنَ لاَ يُؤْذِيْهِمْ، فَاُدْخِلَ اْلجَنَّةَ.

Dan di dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan : “Ada seorang laki-laki berjalan lalu mendapati dahan pohon di tengah jalan. Lalu dia berkata, ‘Demi Allah, saya akan menyingkirkannya agar tidak mengganggu kaum muslimin’, maka ia dimasukkan ke surga”. [HR. Muslim]

عَنْ اَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَتْ شَجَرَةٌ تُئْذِى النَّاسَ، فَاَتَاهَا رَجُلٌ فَعَزَلَهَا عَنْ طَرِيْقِ النَّاسِ. قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللهِ ص: فَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَتَقَلَّبُ فِى ظِلِّهَا فِى اْلجَنَّةِ، احمد و ابو يعلى

Dari Anas bin Malik RA, ia berkata, “Ada sebuah pohon yang mengganggu orang-orang. Kemudian datang seorang laki-laki, lalu memotongnya dari jalan umum itu.” (Anas) berkata : “Nabi SAW bersabda, ‘Sesungguhnya aku telah melihat dia bersenang-senang di bawah naungan pohon di surga’”. [HR. Ahmad dan Abu Ya’la]

Hadis-hadis di atas hendaknya menggugah kesadaran kita tentang keutamaan beramal saleh. Jika orang yang beramal menyingkirkan duri dan memotong dahan pohon di jalan saja bisa mendapatkan ganjaran ampunan dan bersenang-senang di surga, kira-kira apakah ganjaran yang akan diberikan Allah Ta’ala kepada mereka-mereka yang beramal saleh jauh lebih besar dari itu?

Apakah ganjaran yang akan diberikan kepada seorang Bapak yang mencari nafkah bagi keluarganya?

Apakah ganjaran yang akan diberikan kepada seorang Ibu yang merawat anak-anaknya?

Apakah ganjaran yang akan diberikan kepada pemuda-pemudi yang senantiasa menuntut ilmu?

Apakah ganjaran yang akan diberikan kepada seorang guru yang mengajarkan ilmu?

Apakah ganjaran yang akan diberikan kepada para pemimpin yang adil dan amanah yang berupaya memimpin masyarakat menuju kebaikan dan berupaya mewujudkan kesejahteraan bagi mereka? Ia mungkin tidak menyingkirkan duri dan memotong dahan pohon di jalan, tapi dialah yang membangun jalan, membangun jembatan, membangun sekolah, masjid, dan madrasah-madrasah.

Apakah ganjaran yang akan diberikan kepada para da’i yang selalu menyerukan ayat-ayat Allah? Selalu membimbing masyarakat dan menasehati para pemimpinnya?

Semoga Allah senantiasa membimbing kita, sehingga kita menjadi golongan orang-orang yang layak bersenang-senang di surga. Insya Allah…

Diposkan pada Akhlak

Kesederhanaan Mohammad Natsir

M. NatsirGeorge McTurnan Kahin, Guru Besar Universitas Cornell Amerika, pernah bercerita tentang pertemuan pertamanya yang mengejutkan dengan Mohammad Natsir, yang waktu itu tahun 1946 menjabat sebagai Menteri Penerangan RI, ”Ia memakai kemeja bertambalan, sesuatu yang belum pernah saya lihat di antara para pegawai pemerintah mana pun,” kata Kahin.

Belakangan juga Kahin mengetahui bahwa Natsir hanya memiliki kemeja kerja dua stel yang sudah tidak terlalu bagus, hingga akhirnya para pegawai Departemen Penerangan yang dipimpinnya itu “berpatungan” membeli beberapa pakaian yang pantas untuk Natsir agar terlihat sebagai “menteri beneran”.

Jabatannya sebagai menteri ternyata tidak dapat membantunya menanggulangi kesulitan membeli rumah untuk keluarganya. Sehingga bertahun-tahun keluarga Natsir harus menumpang hidup di paviliun rumah Prawoto Mangkusaswito, di kampung Bali, Tanah Abang. Ketika pemerintah RI pindah ke Yogyakarta, mereka menumpang di paviliun milik keluarga Agus Salim. Baru tahun 1946 akhir, pemerintah kemudian memberikan rumah dinas untuk Natsir. Inilah untuk pertama kalinya keluarga Natsir tidak perlu menumpang lagi. Lanjutkan membaca “Kesederhanaan Mohammad Natsir”

Diposkan pada Akhlak

Berdamailah dan Jangan Bermusuhan!

ukhuwahAdalah sesuatu yang lumrah dalam interaksi manusia, terjadi sedikit kesalahfahaman dan gesekan. Adalah sesuatu yang lumrah pula jika hal itu meningkat tensinya menjadi sebuah pertengkaran.

Sebagai agama yang sesuai dengan fitrah, Islam menilai ‘wajar’ kondisi itu. Tapi kemudian dengan tegas memberikan batasan agar pertengkaran itu tidak berkembang menjadi permusuhan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ : يَلْتَقِيَانِ، فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأ ُبِالسَّلَامِ .

“Tidak dihalalkan bagi seorang muslim untuk membiarkan saudaranya lebih dari tiga malam. Jika berjumpa, yang ini memalingkan muka, dan yang itu memalingkan muka, dan sebaik-baik dari keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” (Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari, hadis no. 5613; Muslim, hadis no. 4643; Abu Daud, hadis no. 4265; al-Tirmizi, hadis no. 1855; Ahmad, hadis no. 22428, 22473 dan 22481; Malik, hadis no. 1410) Lanjutkan membaca “Berdamailah dan Jangan Bermusuhan!”

Diposkan pada Akhlak

Jangan Asal Sebar Berita!

Brand-mics-300x164Salah satu kebiasaan buruk yang sering menimpa kepada para pengguna internet atau medsos adalah kebiasaan menshare atau menyebarkan berita tanpa meneliti terlebih dahulu berita yang akan disebarnya tersebut.

Dari sudut pandang kaca mata Islam kebiasaan seperti ini adalah kebiasaan yang sangat tercela, karena akan menyebabkan tersebarnya fitnah dan menimbulkan banyak sekali kemudhorotan. Oleh karena itu hendaknya, seorang muslim menjauhi sikap tercela ini. Mereka harus selalu waspada terhadap berita-berita yang ‘mengepung’nya. Lanjutkan membaca “Jangan Asal Sebar Berita!”