Diposkan pada Dakwah

Nasihat Bagi Kaum Yang Mengklaim Dirinya Salafiyyun

makkah(Diterjemahkan dari kitab Kasyfu al Haqaa-iq al Khafiyah ‘inda Mudda’iy as Salafiyyah/Menyingkap Realita Tersembunyi pada kelompok Yang mengaku sebagai Salafiyah, karya Syaikh Mut’ib bin Sarayan al ‘Ashimiy. Penerbit Maktabah al Malik Fahd al Wathaniyah, Mekkah al Mukarramah 1425H)

Berikut ini kami tampilkan fatwa dan nasihat para ulama besar di Kerajaan Saudi Arabia untuk mereka yang menamakan dirinya ‘salafi’. Fatwa ini lahir karena kegelisahan dan keprihatinan para ulama tersebut atas realita yang menodai citra da’wah Islamiyah yang seharusnya rahmah. Anda akan temukan bahwa para ulama ini amat mengingkari sikap keras, gampang menuduh, memfitnah, dan memberikan gelar-gelar buruk kepada sesama umat Islam, apalagi para da’i dan ulamanya. Sekaligus juga, pengingkaran mereka terhadap klaim atau sebutan-sebutan bernada membanggakan diri dan hizbiyah, seperti mengaku ‘kami salafiyyun’ atau ‘aku salafi.’ Lanjutkan membaca “Nasihat Bagi Kaum Yang Mengklaim Dirinya Salafiyyun”

Iklan
Diposkan pada Dakwah

Sabar Menghadapi Makar

M. Badie“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Ali Imran: 120)

Adanya Makar adalah Keniscayaan dalam Perjuangan

Adanya persekongkolan, akal busuk dan tipu muslihat dalam upaya menyerang dan menjatuhkan para da’i di medan juang adalah sebuah keniscayaan. Telah menjadi sunnatullah di dalam dakwah bahwa bila muncul para da’i di suatu negeri untuk memberi bimbingan kepada rakyatnya, maka selalu ada pembesar-pembesar yang memusuhi para da’i itu serta pengikut-pengikutnya.

“Demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu, dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.” (Q.S. Al-An’am: 123) Lanjutkan membaca “Sabar Menghadapi Makar”

Diposkan pada Dakwah

Dialog Yusuf Qaradhawi dengan Aktivis HT Tahun 1953

Yusuf QaradawiPada tahun 1952 – 1953, Yusuf Qaradhawi ditugaskan Mursyid Aam IM ke 2, Syaikh Hasan Hudhaibi, untuk melakukan kunjungan dakwah ke negeri Syam (Libanon, Syiria, dan Yordania). Salah satu kota yang dikunjunginya adalah Kota Al-Khalil, sebuah kota bersejarah yang di dalamnya terdapat kuburan Nabi Ibrahim Al-Khalil.

Ketika Yusuf Qaradhawi berkunjung ke kota tersebut, kebetulan saat itu merupakan masa-masa awal kebangkitan Hizbut Tahrir (HT). Mereka memiliki berbagai aktivitas dan pemikiran yang serba baru dan sangat merepotkan aktivitas Ikhwan. Selain itu mereka ahli dalam berdebat, sedangkan saat itu di kota tersebut tidak ada seorang pun tokoh Ikhwan yang pandai berdebat.

Suatu ketika secara kebetulan Yusuf Qaradhawi berjumpa dengan beberapa aktivis HT dan beliau mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selalu mereka hadapkan kepada para Ikhwan disana. Akhirnya terjadilah dialog yang hangat antara Yusuf Qaradhawi dengan mereka, sebagai berikut:

Aktivis HT: “Sebuah gerakan dakwah yang telah berjalan selama 23 tahun tetapi belum juga meraih kesuksesan, maka pasti terdapat kesalahan pada metode yang digunakan dalam dakwah tersebut. Oleh sebab itu, metode dakwah semacam demikian (IM) harus segera dirubah.” Lanjutkan membaca “Dialog Yusuf Qaradhawi dengan Aktivis HT Tahun 1953”

Diposkan pada Dakwah

Para Da’i Harus Membumi!

Bumi ALLAHOleh: M. Indra Kurniawan, S.Ag.

Diantara misi gerakan dakwah Islam adalah mewujudkan kehidupan dan masyarakat islam yang rahmatan lil ‘alamin. Kehidupan islami yang dicita-citakan oleh dakwah adalah kehidupan yang merujuk kepada nilai-nilai alqur’an dan sunnah; sedangakan masyarakat islami yang hendak diwujudkannya adalah masyarakat yang berafiliasi secara ideologi kepada Islam; melaksanakan semua fardhu ‘ain di dalam keseharian mereka; dan menjaga diri dari dosa-dosa besar.

Untuk menggapai cita-cita dakwah ini, langkah pertama yang tidak bisa ditawar-tawar lagi yang harus dilakukan para da’i adalah hudzur wa dzuhur—hadir dan eksis—di tengah-tengah masyarakat.

Allah Ta’ala berfirman,

“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah” (Q.S. Al-Muddatstsir: 1 – 4).

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Q.S. Al-Hijr: 94). Lanjutkan membaca “Para Da’i Harus Membumi!”

Diposkan pada Dakwah

Umar Tilmisani, Mujahid Dakwah yang Zuhud dan Rendah Hati

tlemsani-2Nama lengkap beliau adalah Umar Abdul Fattah bin Abdul Qadir Musthafa Tilmisani. Beliau adalah Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin setelah meninggalnya Mursyid ke dua, Ustadz Hasan al-Hudhaibi pada bulan November 1973.

Beliau lahir di kota Kairo pada tahun 1322 Hijriah, atau 1904 Masehi, di Jl. Hausy Qadim di Al-Ghauriah. Asal-usul keluarga beliau dari wilayah Tilmisani di al-Jazaair. Pada masa penjajahan Perancis (1830), kakek ayah beliau meninggalkan Aljazair menuju Kairo Mesir. Kemudian keluarganya berpindah ke Syabin Al-Qanathir di Qalyubiyah.

Keluarga

Kakek dan ayah Umar Tilmisani bekerja sebagai pedagang pakaian dan batu mulia. Oleh karena itu hidupnya terbilang berkecukupan.

Rumah tinggalnya sewaktu kecil disebut sarayah (istana), di dalamnya terdapat 4 orang pembantu, ruang masak, kereta kuda, kandang ternak (banteng, kijang, sapi, kerbau, onta, keledai). Istana tersebut dikelilingi tanah perkebunan (jeruk, pier, mangga, anggur, korma, pisang, apel, lemon, dan kenari) seluas 2,5 ha.

Kakeknya adalah seorang salafi yang banyak mencetak buku-buku karya Ustadz Muhammad bin Abdul Wahab. Kakeknya mendapat gelar Pasha pada masa Sultan Abdul Hamid. Kakeknya itu terkenal pula sebagai dermawan, pada musim haji beliau biasa mengumpulkan orang-orang yang kekurangan biaya untuk pulang ke kampungnya, yaitu ke Asia Selatan dan Indonesia. Selain itu ia memiliki kebiasaan menjamu seluruh petani dengan hidangan daging yang dibelinya. Lanjutkan membaca “Umar Tilmisani, Mujahid Dakwah yang Zuhud dan Rendah Hati”