Diposkan pada Fiqih

Pendapat Para Ulama Tentang Hukum Mencopot Pemimpin Zalim dari Jabatannya

Kerja Kita Belum Tuntas![Dicuplik dari tulisan berjudul Menyikapi Penguasa Zalim, Oleh: Farid Nu’man]

Pemimpin merupakan representasi dari umat, merekalah yang mengangkatnya melalui wakilnya (Ahlul Halli wal Aqdi), maka mereka juga berhak mencopotnya jika ada alasan yang masyru’ dan logis.

Bapak sosiolog Islam, Ibnu Khaldun juga mengatakan tidak boleh dikatakan ‘memberontak’ bagi orang yang melakukan perlawanan terhadap pemimpin yang fasiq. Beliau memberikan contoh perlawanan Al Husein terhadap Yazid, yang oleh Ibnu Khaldun disebut sebagai pemimpin yang fasiq. Apa yang dilakukan oleh Al Husein adalah benar, ijtihadnya benar, dan kematiannya adalah syahid. Tidak boleh dia disebut bughat (memberontak/makar) sebab istilah memberontak hanya ada jika melawan pemimpin yang adil. (Muqaddimah, Hal. 113) Lanjutkan membaca “Pendapat Para Ulama Tentang Hukum Mencopot Pemimpin Zalim dari Jabatannya”

Iklan
Diposkan pada Fiqih

Boleh Menikahi Perempuan Ahli Kitab, Tapi…

cincin“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (Q.S. Al-Baqarah: 221)

Firman Allah di atas menunjukkan haramnya menikahi perempuan-perempuan Majusi (penyembah api) dan penyembah berhala. Lalu bagaimanakah hukumnya menikahi perempuan-perempuan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani)?

Syaikh Muhammad Ali As-Shabuni dalam kitabnya Rawai’ul Bayan Fi Tafsiri Ayatil Ahkam Minal Qur’an mengatakan bahwa perempuan-perempuan Ahli Kitab boleh dinikah, sebab Allah berfirman: “…Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu…” (Q.S. Al-Maidah: 5). Begitulah pendapat Jumhur (mayoritas ulama) dan termasuk di dalamnya ulama mazhab yang empat. Lanjutkan membaca “Boleh Menikahi Perempuan Ahli Kitab, Tapi…”

Diposkan pada Fiqih

Bisakah Umat Islam Kompak Mulai Ramadhan & Lebaran?

http://www.ustsarwat.com – Sungguh keliru kalau kita memandang bahwa metode hisab adalah satu-satunya metode yang tepat untuk digunakan untuk menetapkan awal RAmadhan, 1 Syawwal dan juga 10 Dzulhijjah.
Kenapa keliru?

Karena metode hisab itu sangat beragam versinya, sehingga hasilnya juga akan bias. Bisa saja dengan metode hisab A tanggal 1 Ramadhan jatuh pada hari Jumat, tetapi dengan metode hisab B jatuh pada hari Kamis, dan dengan metode hisab C malah jatuh hari Sabtu. Lantas kita mau pakai versi yang mana? Yang jelas, hanya berpegang pada satu metode hisab tidak akan membuat umat bersatu.

Demikian juga tidak benar kalau kita mengira hanya dengan menggunakan metode rukyat, umat Islam akan kompak dan serempak memulai puasa Ramadhan dan berlebaran. Sebab bisa saja di satu titik ada orang melihat hilal (bulan sabit), sementara di tempat lain bulan tertutup awan.

Kesimpulannya : baik menggunakan metode hisab atau pun rukyat, keduanya sama-sama akan melahirkan perbedaan pendapat yang amat beragam.

Adakah Jalan Keluar untuk Menyatukan Umat Islam?r

Segala macam khilaf dalam penetuan awal Ramadhan tidak akan pernah ada jalan keluarnya, selama tidak ada satu pihak yang diakui bersama dan ditaati. Dalam sejarah Islam, pihak itu adalah as-Sultan, yaitu penguasa.

Salah satu tugas penguasa adalah menjadi penengah dan berwenang menetapkan jatuhnya awal Ramadhan. Meski ada sekian banyak kajian dan perselisihan para fuqoha di dalamnya, namun kata akhir kembali kepada penguasa.

Lanjutkan membaca “Bisakah Umat Islam Kompak Mulai Ramadhan & Lebaran?”

Diposkan pada Fiqih

Bisakah Shalat Idul Adha Menggugurkan Shalat Jumat?

Oleh: Ahmad Sarwat, Lc

warnaislam.com – Masalah ini memang sering ditanyakan ke saya, yaitu masihkah kita wajib shalat Jumat kalau pagi harinya kita sudah shalat Ied? Atau dengan kata lain, apakah shalat Idul Adha yang jatuh di hari Jumat, akan menggugurkan kewajiban shalat Jumat di siang harinya.

Jawabnya, masalah ini adalah masalah yang telah disepakati oleh jumhur ulama, namun ada satu mazhab, yaitu al-hanabilah, yang punya pandangan berbeda.

Lanjutkan membaca “Bisakah Shalat Idul Adha Menggugurkan Shalat Jumat?”

Diposkan pada Fiqih

Kok Wanita Tidak Wajib Shalat Jumat?

www.an-naba.comOleh: Ust. Ahmad Sarwat, Lc.

http://www.warnaislam.com Seorang wanita pada dasarnya tidak diwajibkan untuk menghadiri shalat Jumat.Yang wajib bagi mereka untuk dikerjakan adalah shalat Dzhuhur.

Pernyataan seperti ini langsung disebutkan oleh Rasulullah SAW pada salah satu hadits beliau:

Dari Thariq bin Syihab ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas 4 orang. [1] Budak, [2] Wanita, [3] Anak kecil dan [4] Orang sakit.” (HR Abu Daud)

Lanjutkan membaca “Kok Wanita Tidak Wajib Shalat Jumat?”