Diposkan pada Sirah

Seperti Abu Bakar dan Umar

makkahPemimpin teladan sepanjang zaman setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma. Rasanya hingga hari ini—setelah Utsman dan Ali, juga selain Umar bin Abdul Aziz—belum pernah muncul kembali pemimpin yang mirip dengan mereka berdua, wallahu a’lam. Maka sudah selayaknya bagi para politisi muslim mengambil teladan dari dua pemimipin yang mulia ini.

Sekelumit Karakter Mulia Sang Khalifah Rasulullah

Kokoh dan Teguh Pendirian

Abu Bakar adalah seorang yang kokoh jiwanya. Lihatlah bagaimana beliau menjadi orang yang terdepan menenangkan umat Islam pada hari wafatnya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Beliau pun adalah seorang yang teguh pendirian dengan dalil-dalil yang kuat. Ia pernah berselisih pendapat dengan para sahabat yang lainnya tentang tindakan yang harus dilakukan kepada orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Perkataannya yang terkenal yang menunjukkan keteguhannya adalah, “Demi Allah, akau akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat. Demi Allah, kalau sekiranya mereka tidak mau memberikan anak kambing yang merek berikan kepada Rasulullah, maka pasti aku akan memerangi mereka karena penolakan mereka.”[1] Lanjutkan membaca “Seperti Abu Bakar dan Umar”

Iklan
Diposkan pada Sirah

Beginilah Profil Muslimah di Masa Nabi

Muslim-womenBagaimanakah karakteristik muslimah ideal itu?

Jawaban dari pertanyaan ini dapat kita temukan diantaranya dari lembaran sejarah generasi unggul, para muslimah alumnus madrasah kenabian, yakni Asma binti Abu Bakar, Fatimah binti Khattab, Sumayyah, Asma binti Umais, Shafiyah binti Abdul Muthalib, Asy-Syifa binti Abdullah, dan Asma binti Yazid.

Madrasah kenabian telah melahirkan generasi yang unggul dalam hal akhlak, prestasi, dan kemulian. Mereka adalah manusia-manusia teladan sepanjang zaman, dengan karakternya yang unik. Baik dari kalangan lelaki, maupun perempuan. Mereka laksana bintang-bintang di angkasa, mengukir dunia dengan keimanan, ketangguhan, sepak terjang, semangat, ilmu, dan pengabdiannya pada kebenaran Islam.

Tentang mereka, Allah SWT berfirman: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imran, 3: 110).

Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah, 9: 71). Lanjutkan membaca “Beginilah Profil Muslimah di Masa Nabi”

Diposkan pada Sirah

Meminta Sulthanan Nashira

ukhuwah“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku dengan masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku dengan keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.’” (Q.S. Al-Israa: 80)

Mengenai Q.S. Al-Israa ayat 80 di atas, Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa dahulu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berada di Makkah, lalu diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk hijrah.

Sedangkan dalam menafsirkan ayat ini, al-Hasan al-Bashri mengemukakan: “Sesungguhnya orang-orang kafir dari penduduk Makkah, ketika mereka berunding tentang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan tujuan  membunuhnya atau mengusirnya atau mengikatnya, maka Allah berkehendak membunuh penduduk Makkah. Lalu Allah menyuruh beliau untuk pergi ke Madinah.

Qatadah mengatakan: “Dan katakanlah: ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku dengan masuk yang benar,” yakni Madinah. “Dan keluarkanlah (pula) aku dengan keluar yang benar,” yakni kota Makkah. Lanjutkan membaca “Meminta Sulthanan Nashira”

Diposkan pada Dakwah, Sirah

Ifadah, Kunci Kemenangan Dakwah

Sebuah episode dalam dakwah…

Dakwah Islam di Mekah menghadapi jalan buntu. Setelah wafatnya Abu Thalib,  Rasulullah saw praktis tidak lagi memiliki himayah (perlindungan) di Mekah, bahkan nyawanya dalam kondisi terancam. Sementara kaum muslimin terpencar di antara Habasyah dan Mekah.

Menghadapi kondisi seperti itu Rasulullah saw kemudian berusaha mencari tempat baru sebagai pusat penyiaran dakwah. Tempat yang paling dekat dengan Mekah adalah Thaif. Rasulullah saw kemudian pergi kesana untuk mendatangi para pemuka Bani Tsaqif, diantaranya adalah tiga orang bersaudara, yaitu: Abdu Yalil bin Amer, Mas’ud bin Amer, dan Habib bin Amer. Kepada mereka, Rasulullah saw menjelaskan maksud kedatangannya adalah untuk mencari pembelaan dalam menyebarkan Islam dan menghadapi kaumnya yang telah menentangnya. Namun, permohonan ini ditolak mentah-mentah. Bahkan mereka menghina dan menganiaya Nabi saw. Mereka mengerahkan orang-orang bodoh dan budak-budak untuk mencela dan meneriaki beliau. Sampai Nabi saw terkepung di antara mereka dan terpaksa berlindung di kebun milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah. Lanjutkan membaca “Ifadah, Kunci Kemenangan Dakwah”

Diposkan pada Sirah, Uncategorized

Kemerdekaan Indonesia: Berawal dari Palestina dan Mesir

Rabu, 17 Agustus 2011. Genap sudah 66 tahun usia Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meskipun di usianya yang lebih dari setengah abad ini pemerintah Indonesia belum benar-benar berhasil melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, belum benar-benar berhasil memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, tetap saja nikmat kemerdekaan ini harus kita syukuri.

Lanjutkan membaca “Kemerdekaan Indonesia: Berawal dari Palestina dan Mesir”