Diposkan pada Fiqih

Pendapat Para Ulama Tentang Hukum Mencopot Pemimpin Zalim dari Jabatannya

Kerja Kita Belum Tuntas![Dicuplik dari tulisan berjudul Menyikapi Penguasa Zalim, Oleh: Farid Nu’man]

Pemimpin merupakan representasi dari umat, merekalah yang mengangkatnya melalui wakilnya (Ahlul Halli wal Aqdi), maka mereka juga berhak mencopotnya jika ada alasan yang masyru’ dan logis.

Bapak sosiolog Islam, Ibnu Khaldun juga mengatakan tidak boleh dikatakan ‘memberontak’ bagi orang yang melakukan perlawanan terhadap pemimpin yang fasiq. Beliau memberikan contoh perlawanan Al Husein terhadap Yazid, yang oleh Ibnu Khaldun disebut sebagai pemimpin yang fasiq. Apa yang dilakukan oleh Al Husein adalah benar, ijtihadnya benar, dan kematiannya adalah syahid. Tidak boleh dia disebut bughat (memberontak/makar) sebab istilah memberontak hanya ada jika melawan pemimpin yang adil. (Muqaddimah, Hal. 113) Lanjutkan membaca “Pendapat Para Ulama Tentang Hukum Mencopot Pemimpin Zalim dari Jabatannya”

Diposkan pada Dakwah

Nasihat Bagi Kaum Yang Mengklaim Dirinya Salafiyyun

makkah(Diterjemahkan dari kitab Kasyfu al Haqaa-iq al Khafiyah ‘inda Mudda’iy as Salafiyyah/Menyingkap Realita Tersembunyi pada kelompok Yang mengaku sebagai Salafiyah, karya Syaikh Mut’ib bin Sarayan al ‘Ashimiy. Penerbit Maktabah al Malik Fahd al Wathaniyah, Mekkah al Mukarramah 1425H)

Berikut ini kami tampilkan fatwa dan nasihat para ulama besar di Kerajaan Saudi Arabia untuk mereka yang menamakan dirinya ‘salafi’. Fatwa ini lahir karena kegelisahan dan keprihatinan para ulama tersebut atas realita yang menodai citra da’wah Islamiyah yang seharusnya rahmah. Anda akan temukan bahwa para ulama ini amat mengingkari sikap keras, gampang menuduh, memfitnah, dan memberikan gelar-gelar buruk kepada sesama umat Islam, apalagi para da’i dan ulamanya. Sekaligus juga, pengingkaran mereka terhadap klaim atau sebutan-sebutan bernada membanggakan diri dan hizbiyah, seperti mengaku ‘kami salafiyyun’ atau ‘aku salafi.’ Lanjutkan membaca “Nasihat Bagi Kaum Yang Mengklaim Dirinya Salafiyyun”

Diposkan pada Kabar

Ikhwanul Muslimin ‘Mother of All Evils’?

IkhwanBaru-baru ini (5/3), Arab News memuat tulisan Mishari Al-Zaydi yang mencoba membangun opini negatif tentang gerakan Ikhwanul Muslimin (IM). Dalam tulisan kolomnya yang berjudul ‘Mother of All Evils’, Mishari menyebutkan bahwa saat ini semua negara, termasuk Amerika Serikat dan Iran, mulai melihat wajah IM yang sesungguhnya. Yang dia maksud bahwa IM adalah induk bagi seluruh orang-orang jahat.

Mishari yang merupakan kolumnis di media milik Turki bin Salman Al-Saud itu membeberkan alasannya mengapa ia menyebut IM sebagai ‘Mother of All Evils’. Menurutnya, tak terbantahkan bahwa orang yang paling jahat di dunia, pemimpin ISIS adalah murid dari IM, karena pada masa mudanya pernah bergabung dengan IM.

Mishari juga menyebutkan fakta, bahwa ide velayat-e-faqih (kekuasaan ahli hukum Islam tertinggi) sebenarnya adalah gagasan IM versi Syiah. Ia lalu menghubung-hubungkan hal itu dengan sikap Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir Abdullah, yang mengatakan bahwa Teheran menolak untuk menyatakan IM sebagai kelompok teroris. Lanjutkan membaca “Ikhwanul Muslimin ‘Mother of All Evils’?”

Diposkan pada Kabar

Liga Arab: Hamas Bukan Organisasi Teroris

hamas Kairo-Pusat Informasi Palestina: Sekretaris Urusan Palestina dan wilayah Arab terjajah di Liga Arab, Muhammad Shabih mengatakan, “Liga Arab tak sependapat dengan pengadilan Mesir yang menganggap Hamas sebagai organisasi teroris.” Ditegaskannya bahwa perlawanan Palestina bukan organisasi teroris sesuai hukum internasional.

Kepada para wartawan Shabih menyebutkan, “Liga Arab tidak berurusan dengan putusan pengadilan lokal di suatu negara atau pendapat sekelompok orang atau sebaliknya.”

Menurut Shabih, sangat tak layak mengurusi persoalan strategis lewat putusan pengadilan lokal, karena persoalan ini harusnya berdasarkan kerja integral dunia Arab. Lanjutkan membaca “Liga Arab: Hamas Bukan Organisasi Teroris”

Diposkan pada Siyasah

Faktor Moral

aher_ogOleh: Ahmad Heryawan

Ustadz Sayyid Quthb dalam mukadimah tafsir Fi Zhilalil Qur’an mengkritisi peradaban kapitalis dengan pandangan bahwa peradaban materialis tersebut tegak berdiri seperti burung yang mengepakkan satu sayapnya yang perkasa, sedangkan sayapnya yang lainnya lemah lunglai.  Peradaban ini sukses mencapai kemajuan dalam bidang penemuan materi  tetapi gagal di bidang nilai-nilai kemanusian.  Peradaban berbasis idioligi kapitalis telah melahirkan kecemasan, kebingungan, serta berbagai penyakit jiwa dan saraf.

Kehampaan jiwa pada masyarakat peradaban kapitalis telah menghasilkan dekadensi moral yang luar biasa dan kejahatan kemanusiaan yang tak pernah terbayangkan. Seorang anak tega membunuh orang tuanya sendiri hanya karena persoalan video game.  Seseorang mengamuk di kampus dengan memberondongkan peluru dari senjatanya tanpa sebuah alasan yang jelas.  Hubungan badan antara anggota keluarga sedarah mulai sering kita dengar.  Pada gilirannya kehampaan jiwa pada masyarakat kapitalis tersebut akan meruntuhkan sendi-sendi peradaban materialis itu sendiri.

Demikianlah biasanya para pemikir Islam melakukan kritik terhadap ide-ide kapitalis.  Mereka menganggap kapitalisme telah berhasil mencapai kemajuan di bidang materi tetapi gagal di persoalan ruhiyah atau kejiwaan. Allah telah membukakan jalan bagi para pemikir Islam untuk menunjukkan borok-borok idiologi kapitalisme di bidang materi yang menjadi kebanggaan para pendukungnya. Sampai hari ini kapitalisme masih gagal mendistribusikan kesejahteraan materi kepada seluruh warga dunia.  Peradaban kapitalis gagal memberikan pemerataan kesejahteraan dan gagal melakukan pengentasan kemiskinan. Terjadi kesenjangan kehidupan antar negara, antar daerah dalam sebuah negara dan antar anggota masyarakat. Kegagalan kapitalisme sebenarnya sudah terlihat dari beberapa data statistik.

Seabrook (2003) pada bukunya The No-Nonsense Guide to World Proverty, sebagaimana dikutip oleh Dr. Dradjad H. Wibowo, mengungkapkan bahwa diperkirakan lebih dari 840 juta penduduk dunia mengalami malnutrisi dan 6 juta balita meninggal setiap tahun sebagai akibatnya.  Sekitar 1,2 miliar penduduk dunia hidup dengan penghasilan kurang dari US$ 1 sehari.  Sekitar separuh penduduk dunia hidup dengan US$ 2 sehari. Sementara di lain pihak, penghasilan dari kelompok 1% terkaya di dunia setara dengan kekayaan 57% penduduk dunia.

Rapuhnya sistem ekonomi kapitalis sesungguhnya telah ditunjukkan melalui krisis dalam skala global yang telah terjadi berkali-kali.  Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1930 pernah terjadi krisis ekonomi dunia.  Pada tahun 1996-1997 terjadi kembali krisis keuangan yang melanda negara-negara Asia dengan di tandai rontoknya nilai mata uang beberapa negara Asia, termasuk Indonesia.

Peradaban dunia tidak lagi bisa dipercayakan kepada ide kapitalisme. Kegagalan ide kapitalisme seharusnya sudah bisa diterka dengan mudah, karena ide tersebut lari dari fitrah manusia. Ide kapitalisme gagal menghargai manusia secara utuh.  Kehidupan manusia tidak hanya di topang oleh aspek jasad dan akal.  Perlu hadir sebuah peradaban manusia yang memberikan perhatian secara integral terhadap seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari akal, jasad hingga persoalan ruh atau moral.

Faktor utama yang menyebabkan pembusukan terhadap keberhasilan ide kapitalisme adalah tidak berperannya faktor moral. Kerusakan sistem kapitalis sebenarnya bersumber dari persoalan moral. Keserakahan yang berujung pada tindakan mementingkan diri sendiri dan kecurangan telah mendorong sistem kapitalis sedikit demi sedikit ke arah jurang kehancuran.  Keserakahan telah mengakibatkan ide kapitalisme gagal mendistribusikan kesejahteraan.  Korupsi yang telah mengakibatkan pengentasan kemiskinan di Indonesia berjalan di tempat juga dipicu oleh nafsu serakah.

Kinilah saatnya memulai sebuah gerakan yang mengintegrasikan nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai moral agama ke dalam sistem perekonomian. Moral keagamaan akan berfungsi sebagai kendali terhadap nafsu serakahnya manusia.  Mungkin ini rahasia besar mengapa bapaknya kapitalisme, Adam Smith, lebih dulu menulis buku tentang The Theory of Moral Sentiments sebelum The Wealth of Nations, rujukan para penganjur kapitalisme.

Para pedagang hendaknya tidak lagi bertindak curang dengan mengurangi timbangan.  Para pejabat dan birokrat harus menghindarkan diri dari kejahatan korupsi. Para pegawai swasta hendaknya selalu mengedapankan kejujuran dalam melaksanakan perkerjaannya. Para pengusaha tidak lagi serakah dalam mengambil profit atau keuntungan dan mulai memberikan perhatian besar pada kesejahteraan karyawannya. Alangkah indahnya dunia tanpa keserakahan.