Jangan Lupakan Target Akhir Dakwah Kita

hilmi-aminuddin

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Target akhir dakwah kita adalah nasyrul hidayah (menyebarkan petunjuk) dan li I’laai kalimatillah (meninggikan kalimah Allah), hatta laa takuuna fitnatun wayakuunaddiinu kulluhu li-Llah (supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah). Jangan lupakan target akhir ini.

Amal khoiri yang pendekatannya kesejahteraan, jangan dianggap sebagaighayah (target akhir), itu sasaran antara saja. Memang dia suatu anjuran dari Allah, tapi dia sasaran antara dari segi dakwah, diharapkan melalui ihsan kita menghasilkan penyikapan dan sambutan yang khoir. Hal jazaul ihsan illal ihsan,tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. Tapi ihsan kita, operasi mewujudkan kesejahteraan itu jangan dianggap tujuan akhir. Negara-negara Eropa itu adalah Negara yang sejahtera hidupnya. Tapi 50% penduduknya atheis. Baca lebih lanjut

Meminta Sulthanan Nashira

ukhuwah“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku dengan masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku dengan keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.’” (Q.S. Al-Israa: 80)

Mengenai Q.S. Al-Israa ayat 80 di atas, Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa dahulu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berada di Makkah, lalu diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk hijrah.

Sedangkan dalam menafsirkan ayat ini, al-Hasan al-Bashri mengemukakan: “Sesungguhnya orang-orang kafir dari penduduk Makkah, ketika mereka berunding tentang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan tujuan  membunuhnya atau mengusirnya atau mengikatnya, maka Allah berkehendak membunuh penduduk Makkah. Lalu Allah menyuruh beliau untuk pergi ke Madinah.

Qatadah mengatakan: “Dan katakanlah: ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku dengan masuk yang benar,” yakni Madinah. “Dan keluarkanlah (pula) aku dengan keluar yang benar,” yakni kota Makkah. Baca lebih lanjut

Bani Israel & Bani Indonesia

proklamasiPada 9 Ramadhan 1364 H/17 Agustus 1945 M, Soekarno – Hatta atas nama bangsa Indonesia memprolamasikan kemerdekaan Indonesia setelah lebih kurang 350 tahun lamanya hidup terjajah; sejak tahun 1602 dimana VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) sebuah perusahaan dagang Belanda melakukan monopoli perdagangan dan aktivitas kolonial; dilanjutkan dengan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang diterapkan oleh pemerintah Belanda sejak tahun 1830; hingga penjajahan Jepang yang berakhir tahun 1945.

Peringatan HUT RI ini hendaknya mengingatkan kita bahwa 68 tahun yang lalu, Allah Yang Maha Kuasa telah menganugerahkan kenikmatan yang luar biasa kepada bangsa Indonesia. Nikmat kemerdekaan.

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim, 14: 7) Baca lebih lanjut